sembilan enam

50 10 2
                                        

Bara menggeledah seluruh isi laci milik Alma. Sesuai permintaan dari sang Ibu, Bara berusaha untuk mencari sebuah benda yang berbentuk persegi.
Tetapi ia pun mencoba untuk berhati-hati agar tak membuat terlalu banyak kegaduhan. Barang lain yang berserakan dan berdebu pun, ia kembali tata ulang menjadi lebih rapih.

Sementara Alma masih merebahkan dirinya di atas ranjang. Dari jarak yang tak jauh, ia menatap pundak anaknya itu yang kini sudah semakin melebar. Helaan nafas pun tak lekang ia keluarkan. Ia bersyukur, Bara bisa menanggapi keadaan ini dengan bijaksana. Ketika Alma memberitahu Bara mengenai sisa hidupnya yang sudah tak lama, sosok itu hanya mengurung diri untuk sejenak. Setelahnya, Bara mampu kembali bersikap lebih tenang. Walaupun, Alma sedikit terkejut oleh perubahan tingkah sang anak yang menjadi begitu dewasa. Tetapi bagaimanapun, rasa lega masih tetap dirasakannya.

Ia semakin yakin bahwa Bara akan baik-baik saja tanpanya.

Setelah membenahi lagi laci kayu itu dan berhasil menemukan barang yang dimaksud oleh sang Ibu, Bara pun menghampiri Alma untuk menyerahkannya.

"Ini Bu."

Alma mengangkat tangannya yang sudah rapuh. Bahkan lengannya sedikit bergetar, kala ia meraih album foto itu.
Ia menatap lekat-lekat sampul berwarna merah muda yang kini sudah memudar dimakan usia.
Senyuman pun kembali mengembang, kala matanya dengan sibuk menjelajahi masa lalu melalui potretan-potretan gambar.

Bara yang juga ingin tahu, lantas kembali mendaratkan tubuhnya di atas lantai berkarpet, tepat disamping Alma.

Netranya pun secara perlahan mengamati guliran foto itu.
Ada gambar dimana Ibunya yang masih kecil tengah bermain dengan boneka. Ada gambar dimana Ibunya tengah bermain di lapangan bersama dengan Lela dan Maudi. Ada gambar dimana Ibunya tengah berlibur disebuah pantai. Ada gambar dimana Ibunya tengah mengenakan seragam sekolah dasar hingga sekolah menengah pertama. Ada gambar dimana Ibunya tengah memasak di dapur. Banyak pula, gambar dimana Ibunya tengah berpose dengan kakek dan nenek Bara—yang secara pribadi tak pernah ia temui.

Dan seluruh gambar itu pada akhirnya menemukan garis akhir.

Tetapi bukannya halaman kosong yang tersisa, bagian berikutnya kini sudah diisi oleh gambar milik Bara.
Gambar dimana dirinya yang masih berada digendongan, gambar dirinya yang masih merangkak, gambar dirinya yang masih bermain dengan miniatur mobil, gambar dirinya yang tengah bermain bola, dan tentunya gambar dimana dirinya tengah berpose dengan Alma dan Wahyu.

Dari bagaimana album ini terlihat, rasanya hidup Alma terhenti ketika ia kehilangan orang tuanya dan kembali berlanjut kala ia melahirkan Bara.

"Bu, Nenek sama Kakek dulu orangnya gimana?"
Bara sengaja bertanya mengenai kedua sosok itu. Sudah nampak jelas bahwa Ibunya sedang ingin membicarakan mereka.

Alma menaruh album yang masih terbuka di atas dada, lalu ia mengarahkan pandangannya kearah langit-langit kamar.

"Kalau harus dijelasin, Kakek sama Nenek kamu itu mirip wataknya. Mereka sama-sama bijaksana, mereka sama-sama pekerja keras, mereka sama-sama rendah hati."

Alma tanpa sadar mengeratkan pelukannya pada album itu, kala ia kembali terjun kedalam memori lamanya.

"Keluarga Ibu dulu orang yang gak berada. Kita hidup sederhana. Kakek kamu kerja jadi apa aja, Nenek kamu juga ikut kerja jadi apa aja. Kakek kadang jadi sopir angkot, Nenek kadang jualan di terminal. Semua itu mereka lakuin, karena pengen Ibu bisa punya masa depan yang lebih cerah. Ibu dulu punya cita-cita, kalau Ibu pengen jadi juru masak. Makannya, mereka rajin banget cari uang..."

"... Tapi walaupun kita dulu hidup sederhana, Ibu gak pernah ngerasain kekurangan apapun. Bahkan Kakek sama Nenek kamu aja, masih bisa bantu orang lain meskipun mereka lagi gak punya apa-apa. Salah satu kenangan yang Ibu suka dari mereka, Kakek sama Nenek kamu sering ngasih makan pedagang yang lewat. Mereka gak punya uang buat beli, tapi mereka tetep ngasih orang lain yang lagi membutuhkan."

Arkana dan AlbaraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang