sembilan dua

42 6 0
                                        

"Bara!"

Merasa namanya dipanggil oleh seseorang, ia pun menghentikan langkah kakinya dan menengok ke belakang. Namun ketika asal suara telah ditemukan, ia dengan spontan menghela nafas dan kembali berjalan sembari menuntun sepedanya.

"E-eh, tunggu Bar! Tunggu!"

Jejes yang baru saja selesai membenarkan tali sepatu dengan cepat berlari menyusuli sosok itu sebelum ia benar-benar pergi.
Dan ketika langkah mereka sudah sejajar, Jejes pun kembali bercicit membujuk.

"Bar, ayolah. Ya? Ya? Mau, ya?"

Bara menggeleng kecil sebagai respon. Ia pun masih setia membisu dan menumpukan pandangannya ke depan sana.

"Ih, lu mah gitu banget, Bar. Gini deh, lo pikir aja. Jadi Osis tuh banyak privilegenya tau! Lo bakal famous, lo bakal dapet nilai lebih, lo bakal banyak yang suka—"

Bara pada akhirnya merasa jengah dan memberikan sedikit perhatiannya kepada perempuan itu.
"Serius Jes. Gue gak peduli. Gue gak mau jadi Osis, gue gak cocok."

Jejes mencebikkan bibirnya tak setuju.
"Elah, lo mah belum dicoba udah bilang gak bisa-bisa mulu."

Karena pinggirin jalanan yang terbilang cukup ramai karena bel pulang sekolah sudah menyala, Bara pun menggiring langkah kakinya untuk semakin menepi, takut-takut ada kendaraan bermotor dua yang melintas. Pasalnya sosok yang kini mengintili Bara itu sama sekali tak memperhatikan jalanan, bagaimana coba jika ia tertabrak?

"Tapi emangnya alesan lu ngajak gue itu buat apa sih? Kan udah banyak anak Osis lain diangkatan kita. Jadi buat apa kekeuh ngajak-ngajak gue segala?"

Jejes menggaruk kepalanya bimbang. Mana mungkin ia membeberkan alasan yang sebenarnya. Memang benar, angkatan kelas 7 sudah memiliki cukup banyak anggota untuk menopang organisasi sekolah ini. Tapi para senior memberikan perintah kepadanya. Permintaan ini pun memang terdengar cukup aneh bagi Jejes, tapi setelah ia telaah lagi. Ada benarnya juga ucapan mereka.
Tahun ajaran baru sudah berlangsung selama satu semester lebih, dan popularitas yang Bara miliki pun ikut menanjak tinggi dari hari ia menapakkan kaki disini.
Oleh karenanya, para senior meminta Jejes untuk membujuk Bara agar ia mau bergabung dengan mereka.
Katanya, para murid akan lebih mudah untuk diatur jika ada salah satu dari anggota mereka yang populer—dan juga memiliki paras yang rupawan.

Tapi disamping itu, setelah mengorek-orek informasi lebih jauh, Jejes pun kini tahu bahwa Bara memiliki kepala yang encer.

Fisik punya.
Otak pun punya.

Tentu saja ia akan menjadi aset yang berguna untuk Osis.

"Ya, gini nih. Gue denger-denger kan lo itu pinter tuh. Jadi kita butuh lebih banyak orang buat mikir. Gitu loh!"

Bara masih belum mempercayai penjelasan dari Jejes. Tapi apapun itu, ia tak begitu peduli. Sedari awal ia tak memiliki niat untuk bergabung dengan organisasi apapun selain sepak bola. Mana mungkin Bara menjalani sesuatu dengan setengah hati. Yang ada ia hanya akan merepotkan orang lain.

Ketika jalan raya sudah hampir terlihat, Bara pun melenguh lega. Netranya pula sudah menangkap kedua sosok yang sedari tadi ia cari sebagai alasan untuk melarikan diri dari Jejes yang masih setia mengoceh.

"Eh, Jes. Temen-temen gue udah pada nungguin, gue duluan ya!"

Tanpa menunggu respon dari perempuan itu, Bara dengan bergegas menaiki jok sepedanya dan mengayuh dengan cepat.

"E-eh! BAR! PIKIRIN LAGI POKOKNYA, OKE!"

Bara hanya mengacungkan jempol sebagai tanggapan, tanpa membalikkan tubuhnya sedikitpun.
Beruntung jalanan hari ini tak begitu ramai, jadi ia bisa langsung menyebrang tanpa menunggu terlebih dahulu.

Iko dan Reja yang juga sudah siap siaga di atas jok sepeda mereka masing-masing, sempat menatap Bara dengan penasaran.
Ketika sosok itu sudah datang di hadapan mereka, pertanyaan pun secara spontan kompak dikeluarkan.

"Siapa tuh, Bar? Pacar lo?"

Bara sedikit dibuat terkejut sebelum mendelik tajam.
"Lu pada perasaan setiap kali ngeliat gue sama cewe ngiranya kita pacaran mulu. Positive thinking dikit, napa?"

Iko dan Reja terkikik geli karena tuduhan mereka sendiri.
"Yaelah, emangnya kalau pacaran negative apa? Enggak, kan?"

Bara mendecak tak acuh kepada celetukkan Reja dan kembali menggerakkan kakinya mengiringi jalanan.
Kedua laki-laki di belakangnya pun ikut menyusuri jejak sepeda pemandu mereka.

"Bukan. Dia cuman temen sekolah. Dari kemarin dia ngajakin gue mulu buat gabung sama Osis. Udahlah gak usah dibahas."

Alasan mengapa Iko dan Reja hari ini menunggu Bara di tepian jalanan adalah karena rencana yang sebelumnya mereka buat. Semenjak pembelajaran sekolah menengah telah berlangsung dengan efektif, ketiga sekawan itu jadi jarang berkumpul bersama karena waktu mereka yang terbatas.
Bahkan Iko dan Reja yang masih bersekolah disatu tempat pun, tetap jarang bertegur sapa karena kelas mereka berbeda.
Jadi hari ini, dikala tak ada jadwal kerja kelompok atau pekerjaan rumah yang menumpuk, Bara dan teman-temannya memutuskan untuk bermain bersama. Seperti biasa, rumah miliknya lah yang menjadi tempat paling nyaman untuk bersantai.
Ditambah pula, akhir-akhir ini Ibunya masih harus dijaga.

Bicara soal Alma, setelah sekian lama wanita itu tak lagi mengeluh soal pusing atau semacamnya, beberapa hari yang lalu ia jatuh sakit.
Tidak parah memang, hanya demam biasa saja. Dan kondisinya pun kini sudah jauh lebih baik, oleh karena itu Bara kini bisa membawa teman-temannya.
Dan oleh karenanya pula, Bara masih belum berani untuk pergi jauh-jauh atau meninggalkan rumah lebih lama dari biasanya.

Bagaimana pun, ia tetap khawatir akan kondisi Ibunya.

Setelah menghabiskan waktu kurang lebih selama sepuluh menit untuk memilih jenis camilan di warung, Bara, Iko, dan Reja pun sudah menyimpan barang belanjaan mereka untuk dibayar. Bukan berkumpul namanya jika tak sembari mengemil bersama.

Ketiga sepeda itu pun kini tak lagi mereka naiki. Berhubung rumah Bara sudah dekat, mereka memutuskan untuk berjalan kaki sembari saling memberikan usulan mengenai kegiatan apa yang akan dilakukan nantinya.
Reja memberikan usulan untuk bermain game online. Ya, Bara sebenarnya jarang sekali bermain game, jadi ia tak begitu tahu menahu soal aplikasi yang laki-laki itu sedari tadi jelaskan. Bahkan Iko yang terkenal sebagai kutu buku saja, sudah update perkara kemajuan teknologi seperti ini.

Yah, ternyata beranjak dewasa tak semenyenangkan yang Bara kira.
Dahulu jika ingin menghabiskan waktu bersama, mereka akan bergegas menuju lapangan dan bermain bola.
Tapi saat ini, hal semacam itu sudah dengan perlahan teman-temannya tinggalkan.

"Eh, Bar. Itu kok ada yang kumpul-kumpul di depan rumah lo?"

Bara dengan reflek mendongakkan kepalanya, kala ia mendengar ujaran Iko. Dahinya pun mengerut, sama dibuat bingungnya.

Ini ada apa? Kenapa tetangga-tetangganya menggandrungi terasnya?
Padahal nampaknya tak ada hal yang aneh.

Bahkan, Mpok Lela pun ada disana.

Keingin tahuan yang mulai bercampur dengan rasa waspada, membuat langkah kaki Bara semakin bertambah cepat.
Ia pun dengan segera menghampiri tempat perkara dan membelah kerumunan.

Sebelum Bara mempertanyakan semua ini, ia terlebih dahulu memeriksa kesekitar untuk mencari petunjuk.

"Mpok, ini ada apa?"

Nihil, semuanya biasa saja.
Pintu rumahnya pun terkunci.
Ia sempat mengira mungkin ada maling yang baru saja di tangkap atau semacamnya.

Tapi tunggu, jika semua orang kini berkumpul di luar. Lantas...
"Loh, Ibu dimana ya?"

Namun ketika Bara menatap Lela tepat pada manik bola matanya yang basah, pundak Bara pun dibuat meremang dalam seketika.

Arkana dan AlbaraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang