Kana dan Bara akhirnya sampai pada titik temu dengan para anggota Blue Raven yang lain. Keadaan warung Pak Slamet sudah ramai walaupun sang pemilik sedang tidak ada di tempat.
Ketika Kana menuruni jok motor itu, Wulan yang sudah lebih dulu sampai pun dengan cepat mendatangi temannya. Tadi pagi Wulan menaiki angkutan umum dengan terburu-buru, mengingat ia tak ingin terlambat dan membuat orang lain menunggu—sudah untung diajak, masa mau jadi beban juga.
Tapi sedikit yang ia tahu, setengah jam yang lalu Kana masih belum sampai di tempat.
Hal itu pun membuatnya terpaksa berdiri canggung diantara para laki-laki yang tak dikenalinya.
"Na... Ih kok lama banget sih, gue daritadi nungguin tau."
Kana menunjukan raut tak enaknya kala ia mendengar bisikan Wulan,
"Sorry, Lan. Tadi macet banget di jalan."
Tetapi ketika Kana mengarahkan pandangannya ke sudut warung, rasa bersalahnya pun digantikan oleh raut jenaka.
"Tapi kan ada Padli, Lan. Bukannya lo mau pdkt sama dia?"
Wulan merengut,
"Iya emang. Tadi dia juga ngajak gue ngobrol kok. Tapi ya.... Malu lah."
Jika Izal ada disini, bisa dipastikan sosok itu sudah mengejek Wulan habis-habisan karena ucapannya barusan. Wulan dan kata sungkan selalu terdengar aneh jika berada di dalam satu kalimat.
Bara yang menyaksikan interaksi dari Kana dan Wulan pun diam-diam terkekeh samar.
Hari ini adalah hari terakhir pada penghujung tahun.
Tepatnya tanggal 31 desember 2021.
Berhubung kali ini destinasi mereka adalah puncak—dan yang paling utama lagi berada di Bogor. Maka setiap orang yang ikut pun dianjurkan untuk memakai jaket dan pakaian tebal.
Apalagi saat ini adalah musim pancaroba dan didominasi oleh hawa dingin beserta hujan gerimis.
Persiapan pula telah mereka pikirkan matang-matang. Walaupun nanti sore mereka sudah harus pulang, tetapi keamanan dan kenyamanan tetap menjadi prioritas utama.
Saat Kana masih sibuk berbincang dengan Wulan, sementara Bara mulai berdiskusi dengan para tetua. Dua sosok terakhir pun datang melangkahkan kaki mereka dengan bersamaan.
Asep yang tadinya sibuk mengecap permen pun dengan serentak melambaikan tangannya tinggi-tinggi kala perempuan yang didamba telah tiba.
"Jess!!! Sini!!!"
Jejes menghela nafas samar sembari menggaruk keningnya.
Sementara Lisa hanya bisa tersenyum ramah setiap kali ada pasang mata yang mengarah kepadanya.
Namun, ketika mata perempuan itu menangkap sosok yang dikenal, langkahnya pun secara otomatis terhenti.
Kana pun sama, suaranya sempat menggantung ditenggorokan kala ia mendapati Lisa yang baru saja menampakkan wajahnya.
Mereka berdua saling menatap satu sama lain dengan lamat, sebelum keduanya kompak tertawa tak percaya.
"Naa, kok jaket kita bisa samaan?!"
"Iya loh! Kok bisa sih, Sa?!"
Jaket yang mereka kenakan bukan hanya identik, tetapi sudah dipastikan adalah keluaran brand yang sama.
Sebuah mantel berwarna cream yang sedikit berbulu pada permukaannya.
Hal itu pun menjadi topik pembicaraan di antara anggota Osis dan kesenian itu.
Beruntung Wulan dan Jejes pun saling mengenal dan memiliki darah ekstrovert, sehingga interaksi yang terjalin pun sama sekali tak memiliki unsur kecanggungan.
"Guys! Kita berangkat sekarang, ya! Coba cek dulu motor lu pada! Nanang nanti nyusul bareng sama Kak Sheila."
Derungan mesin yang menyala pun mulai menyela satu persatu untuk mengetes keadaan kendaraan mereka masing-masing.
KAMU SEDANG MEMBACA
Arkana dan Albara
RomanceSurat cinta untuk masa remaja, simfoni pahit dan manisnya cinta pertama, senandung kosong berdebu dari sebuah duka. . . . Arkana memutuskan untuk kembali melanjutkan hidupnya setelah sempat terjatuh ke jurang depresi. Rumah baru, sekolah baru, kota...
