Kana berjalan beriringan dengan Bara untuk keluar dari dalam kelas setelah merapikan barang-barangnya. Bel pulang sudah berdering dan seperti biasa, para murid yang telah berperang otak pun dengan girang berbondong-bondong untuk pulang. Leni, Dafa, Izal, Wulan dan Lintang sedari tadi pun masih menghidupkan suasana dengan canda dan gurauan.
Hari ini, Kana sudah membuat janji untuk pulang lagi bersama laki-laki bongsor itu.
Namun saat koridor telah berada beberapa langkah darinya, kehadiran seseorang membuat pergerakan Kana terhenti.
"Na..."
Ryan datang dengan ransel di pundaknya yang luruh. Rautnya sedikit ragu, jemarinya pun sibuk mencengkram buku-buku kuku.
Kana yang masih ingat bahwa kemarin Ryan ikut menjadi salah satu saksi di sana, berusaha untuk bersikap ramah seperti biasa.
"Hai, Yan. Ada apa?"
Ryan menghela nafasnya pelan. Sudah jelas ada yang berbeda dari dirinya hari ini. Tubuhnya yang selalu berdiri tegak, kini seolah memikul benang yang kusut. Ia tak terlihat percaya diri.
"Gue boleh ngobrol sama lo sebentar?"
Kana menarik bibirnya tipis, mengangkatnya canggung, lalu mengangguk setuju.
Ia melirik teman-temannya yang masih berkumpul menunggu.
"Kalian duluan aja! Dah!"
Lalu kepalanya menoleh ke arah samping untuk memberi kode,
"Bar, tunggu bentar, ya."
Bara yang awalnya pun sedikit terkejut dengan permintaan Ryan, hanya bisa mengangguk pasrah.
Walaupun begitu, ia tak memiliki kekhawatiran jika Ryan akan bertindak atau berkata yang tak sewajarnya kepada Kana.
Dari semua orang yang ia tahu, Ryan adalah salah satu orang yang paling berpikiran terbuka. Pasti Ryan bisa menghadapi situasi ini dengan cerdas.
"Iya, Na. Gue tunggu disini."
Kana dan Ryan berjalan ke area sekolah yang sudah sepi. Sepanjang perjalanan hanya ada suara gemuruh langkah kaki, kedua mulut yang tersisa memutuskan untuk diam dan membisu. Ryan masih sibuk dengan kalimat-kalimat yang tengah ia tata, sementara Kana masih menunggu apa yang sekiranya laki-laki itu hendak lontarkan.
Sangat abnormal bagi Kana dan Ryan, biasanya mereka selalu menemukan topik untuk dibicarakan dan tak pernah memberikan ruang pada kesunyian.
Keadaan canggung pun secara perlahan menuju inti acara, Ryan akhirnya memutuskan untuk menjadi juru bicara awal.
"Na... Maafin gue, ya."
Kana menghembuskan nafas kala praduganya ternyata tepat sasaran.
"Yan, kenapa lo minta maaf ? lo gak—"
"Maafin gue yang kemarin kurang tegas dalam ngejalanin tugas sampe-sampe lo harus ngalamin itu semua. Gue udah nanya sama Bu Mira, soal lo yang udah izin pakai gelang, beliau pun konfirmasi kalau ucapan lo bener. Karena itu gue udah laporin Pak Daus ke Bu Mira. Gue udah diskusi panjang sama mereka. Pak Daus juga ngerasa bersalah soal kemaren, jadi dia mau ketemu lagi sama lo. Nanti jangan pulang dulu ya, dia mau minta maaf secara langsung."
Ryan memberikan jeda pada ucapannya,
"Tapi kalau lo gak mau ketemu lagi sama Pak Daus, gue ngerti. Gue bakalan omongin ini sama dia."
Merasa urat-urat di matanya mulai kehilangan tenaga untuk memalingkan pandangan, Ryan pun mengumpulkan keberanian untuk menatap Kana tepat di jendela netranya.
"Tapi... Gue lebih jauh ngerasa bersalah. Gue kemaren bingung harus ngapain. Gue seharusnya langsung datengin lo waktu lo lari. Pas Bara nyusul lo, gue pikir mungkin kehadiran dia bakal cukup buat bikin lo lebih tenang. Gue takut, gue malah bikin perasaan lo makin kacau, kalau gue maksain buat nyusul..."
KAMU SEDANG MEMBACA
Arkana dan Albara
RomansaSurat cinta untuk masa remaja, simfoni pahit dan manisnya cinta pertama, senandung kosong berdebu dari sebuah duka. . . . Arkana memutuskan untuk kembali melanjutkan hidupnya setelah sempat terjatuh ke jurang depresi. Rumah baru, sekolah baru, kota...
