Kana menatap keadaan dunia dari jendela yang berada di sampingnya. Perlahan jemarinya terangkat dan mulai mengukir acak permukaan kaca. Cahaya matahari masuk tak begitu benderang karena sebagian langit ditutupi oleh awan.
Walaupun begitu, Kana tetap mengarahkan pandangannya ke atas sana. Berharap rona hari yang tak sepenuhnya semu dapat merubah suasana hatinya yang masih kalut.
Bel pulang masih tetap harus menunggu beberapa menit lagi untuk berdering keras. Namun, sang guru yang sebelumnya mengajar sudah terlebih dahulu keluar dengan alasan ada keperluan. Tugas yang sebelumnya ia berikan pun sudah Kana selesaikan.
Oleh karena itu, Kana memutuskan untuk membuang waktu yang tersisa dengan melamun.
Jika mengingat perkara tentang kemarin sore, rasanya ia ingin lenyap saja.
Setelah Kana ambruk pingsan di tengah koridor, Ryan dengan panik mencoba untuk menyadarkan Kana agar ia kembali bangun. Dan kebetulan, saat itu ada beberapa anggota PMR yang tengah melintas. Mereka pun dengan cekatan ikut membantu. Ryan awalnya hendak meraih ponsel untuk menghubungi ambulans, tetapi salah satu dari mereka menyarankan agar Kana dibawa terlebih dahulu ke UKS. Jika ia tak kunjung sadar, maka pihak rumah sakit dengan mantap harus segera dilibatkan.
Ryan pun mengangguk patuh dan membopong Kana seorang diri menuju lantai atas. Dalam perjalanan, Ryan bertemu dengan Lintang. Perempuan itu pun sama dibuat terkejut setengah mati oleh keadaan Kana yang berubah drastis.
Ketika pikiran-pikiran buruk mulai menghampiri kepala mereka, sebuah harapan akhirnya mulai muncul ke permukaan. Belum lama setelah Ryan meletakan tubuh Kana di atas brankar UKS, sosok itu dengan perlahan membuka kembali matanya.
Ryan, Lintang, dan para anggota PMR yang masih setia memantau pun menghembuskan nafas lega.
Ryan memberikan Kana waktu untuk diperiksa terlebih dahulu oleh yang lebih berpengetahuan.
Setelah dirasa tepat, ia pun mulai mendekat dan melontarkan satu persatu pertanyaan. Dengan nada yang halus tentunya, ia tak ingin terdengar memaksa.
Namun, nihil.
Pertanyaannya diabaikan begitu saja.
KAMU SEDANG MEMBACA
Arkana dan Albara
RomanceSurat cinta untuk masa remaja, simfoni pahit dan manisnya cinta pertama, senandung kosong berdebu dari sebuah duka. . . . Arkana memutuskan untuk kembali melanjutkan hidupnya setelah sempat terjatuh ke jurang depresi. Rumah baru, sekolah baru, kota...
