Bara dengan semangat menalikan tali sepatunya. Senyum cerah dari wajahnya pun tak kunjung luntur seperti langit yang berseri biru. Sesekali ia memastikan penampilannya sudah rapi atau belum dari pantulan jendela. Berbeda dari hari biasanya, kali ini ia memutuskan untuk memakai pakaian yang lebih bergaya. Celana jeans selutut dan juga kaos berwarna coklat cerah dengan tulisan minimalis ditengahnya.
Tak lupa, topi yang juga berbahan jeans pun ikut terpasang di kepala. Parfum beraroma maskulin—yang ia minta dari Bapaknya—juga sudah dapat tercium dengan jelas bagi siapapun yang melintas.
Seperti kelihatannya, hari ini ia akan pergi berjalan-jalan.
Tak hanya sendiri tentunya, tetapi lengkap dengan Wahyu dan juga Alma.
Beberapa minggu yang lalu, Bara sudah resmi lulus dari jenjang pendidikan sekolah dasar. Dan belum lama ini pun, ia mendapatkan pemberitahuan bahwa namanya telah terdaftar sebagai siswa baru di sekolah menengah pertama yang cukup bergengsi.
Sebagai perayaan, Alma dan Wahyu mengajak Bara untuk berekreasi bersama.
"Eh, Pak. Tas yang di atas lemari tolong bawain sekalian, ya!"
Alma berjalan keluar dari dalam rumah sembari membawa handuk yang masih basah untuk dijemur.
Hari ini Ibunya memakai gaun selutut berwarna kuning langsat. Ia membiarkan rambut panjang nan hitamnya terurai dengan hiasan aksesoris bandana yang berwarna senada.
"Yang ini kan, Bu?"
Wahyu mengunci pintu rumah itu, lalu berjalan menghampiri istrinya. Alma pun memeriksa isi tas slempang hitamnya, sebelum mengangguk membenarkan.
"Pak, Bu. Ayo cepet berangkat! Nanti keburu rame!"
Alma dan Wahyu dengan kompak menoleh dan terkekeh geli ketika melihat gelagat anak mereka yang sepertinya sudah tak sabar untuk pergi.
"Iya-iya, ayo. Kompor tadi gak nyala kan, Pak?"
Wahyu menggeleng, lalu menggandeng lengan Alma.
"Enggak, tadi udah Bapak liat. Ayo kita berangkat sekarang aja."
Bara bergumam girang dengan tangan yang ia kepalkan ke udara. Kakinya pun melangkah sembari melompat-lompat, seolah ia baru saja memenangkan undian.
Jangan salahkan dirinya, pengalaman berjalan-jalan yang ia miliki bersama dengan kedua orang tuanya tidaklah banyak. Jadwal Bapaknya yang senggang sangatlah terbatas. Setiap kali masa liburan datang, Bara hanya terbiasa menghabiskan waktu bersama dengan Ibunya. Bahkan jika tak salah, mungkin sudah beratahun-tahun sejak mereka tetakhir kali berpergian seperti ini.
Walaupun begitu, Bara sama sekali tak pernah merasa kesepian atau kurang diperhatikan oleh Bapaknya. Wahyu masih sering mengajak Bara pergi, walaupun hanya sebatas berkeliling pasar untuk mencari bahan masakan titipan sang istri.
Biasanya Wahyu selalu memberikan Bara uang jajan lebih untuk membeli makanan apapun disana.
Ditambah, Bara pula kerap kali diajak datang ke tempat proyek dimana Wahyu bekerja. Dari pengamatannya, Bara terlihat begitu tertarik dengan arsitektur dan proses pembuatan sebuah rumah. Anak laki-laki itu tak ada hentinya bertanya mengenai setiap hal yang ia temukan menarik.
Bara mengisi kursi kosong di dalam bus dan membiarkan kedua orang tuanya untuk duduk bersama di belakang. Kala ada seorang perempuan lanjut usia yang mengisi spot kosong di sampingnya, ia pun tersenyum ramah dan memberikannya lebih banyak lahan.
Sesekali Bara pun menjawab pertanyaan-pertanyaan dari sosok itu dengan sopan.
Wanita itu pula kian memuji paras Bara dan terus menerus menyebutnya tampan. Dan reaksi yang ia berikan hanyalah sebuah senyuman ramah dan kekehan pelan.
Bicara soal ketampanan, akhir-akhir ini Bara kerap kali mendengar kalimat pujian seperti itu dari orang lain.
Ya... Sedikit canggung untuk mengingatnya kembali, karena pada akhirnya para perempuan yang memberikannya pujian itu berakhiran marah kepada Bara.
KAMU SEDANG MEMBACA
Arkana dan Albara
General FictionSurat cinta untuk masa remaja, simfoni pahit dan manisnya cinta pertama, senandung kosong berdebu dari sebuah duka. . . . Arkana memutuskan untuk kembali melanjutkan hidupnya setelah sempat terjatuh ke jurang depresi. Rumah baru, sekolah baru, kota...
