delapan tujuh

62 10 3
                                        

Bara melangkahkan kakinya dengan penuh semangat. Raut riang yang tercetak di wajahnya menggaet kalimat tanya dari para tetangga yang juga tengah melintasi gang.
Namun bukannya menjawab, anak laki-laki dengan seragam sekolah dasar itu hanya menganggapi dengan tarikan senyum dan kekehan saja.
Ia tak punya waktu untuk itu, Bara harus segera sampai ke rumahnya untuk menagih janji sang Ibu.

Dari luar teras, hidungnya sudah dapat mencium aroma yang menggugah selera. Dengan tergesa-gesa, Bara mendaratkan diri di atas lantai dan membuka sepatu hitam putih beserta kaos kakinya. Setelah kedua alas kaki itu terlepas, Bara berlari memasuki ruang tamu dan meneriakan salam.

"Ibu, Abay udah pulang!"

Seorang perempuan yang baru saja menyimpan hidangan-hidangan di atas meja pun dengan spontan mengangkat kepala. Lantas secarik senyuman ikut tumbuh dari wajahnya yang ayu, kala ia menangkap sosok yang telah dinantikan itu.

Tanpa menunggu Bara untuk sampai menuju tempatnya berdiri, Alma dengan inisiatif berjalan menghampiri anak semata wayangnya dan memberikan laki-laki itu pelukan hangat.

"Udah pulang ternyata anaknya Ibu. Gimana tadi ujiannya? Lancar?"
Alma mengusap lembut butiran peluh yang merambati rambut Bara.
Pasti anak ini sudah berlari dengan kecepatan penuh, saat tadi ia menempuh jalan pulang.

Bara mengangguk sembari mengeluarkan selembar kertas dari dalam ranselnya untuk dipamerkan.

Alma terkekeh halus saat melihat jumlah angka yang tertulis oleh bolpoin itu. Tentu, ia sangatlah bangga setiap kali anaknya mendapatkan nilai yang memuaskan. Namun, kesempatan seperti ini bukanlah kejadian langka baginya.
Bara memang sudah terkenal karena kepintarannya sejak dini, ia sudah tak dibuat terkejut lagi.
Tetapi tentu saja, Alma akan selalu mengapresiasi kerja kerasnya.

"Eummm, Abay pinter banget sih. Tapi susah gak tadi ngerjainnya?"

Bara menggeleng mantap dengan bibir yang berubah menjadi garis tipis. Menandakan bahwa soal-soal yang beberapa jam lalu digelutinya itu bukanlah hal yang menyulitkan.

"Enggak, Bu! Biasa aja tuh. Malah, tadi ngebosenin banget tau, Abay sampe ngantuk soalnya yang lain malah lama ngerjainnya. Padahal kan, Abay pengen cepet-cepet pulang."

Melainkan ujian, hal yang hari ini sangatlah membuat Bara kesal adalah seberapa lambat waktu berjalan. Rasanya setiap detik bertambah seperti kukang yang merangkak.
Ya, fenomena seperti itu akan selalu terasa setiap kali ada hal yang dinantikan olehnya.

"Tapi, tadi Abay nolongin cewe gitu waktu mau pulang."

Alma merengut mendengar itu. Merasa tertarik, ia pun kembali bertanya.
"Tolongin gimana?"

Bara menggaruk keningnya yang terasa sedikit gatal karena sisa keringat yang masih menempel. Ia mencoba mengingat-ingat peristiwa yang belum lama terjadi itu.

"Tadi pas Abay mau pulang, Abay gak sengaja ngeliat murid cewe gitu digangguin. Waktu Abay samperin, ternyata mereka lagi malakin cewe ini. Yah, sama Abay langsung dijewer dong tuh preman-preman ingusan. Malahan, Abay bohongin mereka kalau Abay kenal sama kepala sekolah biar mereka takut. Padahal kan kagak."

Tawa yang begitu polos dari anak laki-laki itu, ikut mengundang gelakkan dari sang Ibu. Alma menepuk pundak Bara sembari menggeleng-geleng tak percaya dengan aksi yang dilakukannya.

"Kamu ini ya, ada-ada aja tingkahnya. Tapi Abay gak apa-apa, kan?"

Bara mengangkat lengan sembari menunjukkan bisepnya. Dengan percaya diri, ia memamerkan cetakan otot yang masih terlihat samar-samar itu.
"Nih liat Bu, tenaga Abay segede gini mana ada yang berani buat ngelawan."

Arkana dan AlbaraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang