Bara menyimpan helmnya di atas stang motor ketika kendraannya itu sudah terparkir dengan benar.
Ia melirik kaca spion berniat untuk melihat keadaan sosok yang berada di belakang sana.
Lenguhan halus pun Bara keluarkan ketikan pantulannya sudah tertangkap oleh pupil mata.
Kana masih menundukkan kepalanya, raut sendu yang belum sepenuhnya hilang pun masih tetap terpasang.
Setelah berusaha menenangkannya, Bara secara perlahan membujuk Kana untuk membawanya pergi dari sekolah. Kana yang belum benar-benar pulih, hanya bisa mengangguk setuju saja. Beruntung sekolah sudah sepi, sehingga tak ada satupun orang yang melihat Kana dalam kondisi seperti ini—Atau lebih tepatnya, Bara memastikan terlebih dahulu bahwa tak ada siapapun yang masih berlalu lalang. Beberapa menit sebelum bergegas menuju lapangan, ia mengirimkan pesan kepada Lintang untuk membawa teman-temannya pulang. Bukan karena apa, Bara pun tahu bahwa mereka sangat mengkhawatirkan Kana. Hanya saja, ia cukup peka untuk mengetahui bahwa Kana belum siap untuk menjawab pertanyaan apapun dari siapapun.
Ditatap saja, rasanya mungkin akan terlalu berat bagi Kana saat ini.
"Na..."
Kana tersadar dari lamunannya kala Bara membuka suara. Ia kembali mengelap permukaan wajahnya yang sedikit basah, lalu menengadah untuk melihat sekitar.
Dahinya pun secara spontan mengerut, sudah jelas sekali ini bukan area tempat tinggalnya.
"Bar, kita dimana?"
Nafas Bara dibuat sedikit tersendat saat mendengar suara Kana yang setengah hilang dan serak. Entah mengapa hal itu masih tetap membuat hatinya merasa gundah. Namun Bara harus mengenyahkan perasaan pribadinya jauh-jauh sekarang. Karena saat ini, ia harus tetap terlihat tegar untuk bisa menyalurkan ketenangan kepada Kana.
"Turun dulu yu, nanti gue jelasin."
Tak butuh waktu lama bagi Kana untuk menuruti permintaan itu, walaupun ia sendiri masih belum paham mengapa Bara membawanya menuju toko aksesoris ini. Tenaganya yang masih belum terkumpul ia gunakan untuk membuka helm—Dengan hati-hati tentu, pergelangan tangan kirinya yang sudah tak lagi dibaluti oleh apapun bisa saja dilihat oleh orang lain.
Bara pun menyadari gelagat Kana yang masih sangat gugup dan waspada.
Dengan inisiatif, ia meraih lengan Kana. Berniat untuk menutupi garis jahitan itu.
Ia mengerti, mungkin Kana masih takut jika ada orang lain yang melihatnya.
Dan jika memang hal itu lah yang kini Kana khawatirkan, maka Bara akan berusaha untuk membantunya.
Bara membawa Kana berjalan memasuki toko dengan aksen kayu kecoklatan itu. Beruntung lagi, saat ini pengunjung yang datang sepertinya tak begitu ramai. Hal ini jelas akan membuat Kana lebih leluasa.
Aroma bunga lily mulai tercium kala mereka memasuki bangunan utama. Pekerja yang sedang melakukan shiftnya pun mengucapkan sapaan hangat. Bara menarik bibirnya simpul sebagai tanggapan, lalu menjelajahkan pandanganya kesegala arah untuk mencari barang yang sedari tadi terlintas di kepalanya.
Kala kumpulan benda berbentuk lingkaran yang tergantung itu sudah didapatinya, Bara pun kembali berjalan memandu Kana menuju sudut ruangan dimana rak itu berada.
Sebelum melepaskan genggaman tangannya, Bara menutupi tubuh Kana terlebih dahulu. Jaga-jaga saja, siapa tahu pengunjung yang berada tak jauh di sebelahnya dapat mengintip hal yang Kana coba sembunyikan.
"Ayo, pilih aja Na."
Kana yang sedari tadi memutuskan untuk diam, kini semakin bingung dibuatnya. Mengapa Bara membawanya menuju rak gelang-gelang ini?
Lantas pada akhirnya, ia pun mendongakan kepala dan menatap Bara tak mengerti.
Bara yang paham akan hal itu pun, menjawab pertanyaan tak tersirat yang Kana layangkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Arkana dan Albara
RomanceSurat cinta untuk masa remaja, simfoni pahit dan manisnya cinta pertama, senandung kosong berdebu dari sebuah duka. . . . Arkana memutuskan untuk kembali melanjutkan hidupnya setelah sempat terjatuh ke jurang depresi. Rumah baru, sekolah baru, kota...
