Bara meraih handuk kecil yang berada di atas gantungan, lalu menggasak rambutnya sekilas dengan kain itu. Tak lupa pula, ia meraih handuk lain yang berukuran lebih besar untuk mengeringkan pinggang sampai lututnya.
Walaupun kepalanya masih terasa cukup pening, ditambah tubuhnya pun masih setia berteriak menggigil, Bara tetap memaksakan diri untuk mandi dan bertingkah seolah semuanya baik-baik saja.
Biasanya dengan cara mengabaikan, ia akan kembali sehat seperti sedia kala.
Beruntung, matahari masih menunjukan atmosfir cerahnya. Ia pun memanfaatkan hal ini untuk sekedar menghangatkan suhu tubuh dan menghilangkan buliran air dari pori-pori kulitnya.
Dengan santai, Bara berjalan ke depan teras rumah. Kelopak matanya sesekali tertutup, kala ia tengah meregangkan otot-ototnya yang kaku. Jadwal tidur yang berantakan pun membuat dirinya tak henti menguap karena kelelahan.
Bara menatap langit biru yang kemungkinan akan berubah menjadi kelabu lagi seperti hari lalu.
Dan ketika mengingat rona atap bumi yang keruh seperti kemarin, ia mulai teringat kembali pada sore itu.
Semu di wajahnya dengan samar-samar mulai berubah. Semangat untuk menjalani harinya yang memang sudah tersisa sedikit pun semakin terkikis dibuatnya.
Lebih baik Bara tak memikirkan hal ini lebih jauh agar hatinya tak kembali bergemuruh.
Tetapi satu yang pasti, ia berharap Kana pulang dalam keadaan baik-baik saja.
Namun ketika Bara hendak berlalu untuk mengistirahatkan tubuhnya di atas kursi, netranya dengan cepat menangkap sesuatu yang tak asing. Dan objek yang ia lihat itu secara serentak menghentikan fungsi otaknya. Bara benar-benar membeku. Kontak mata pun tak terelakan saling bertaut dan enggan terputus.
Ini... Bukan imajinasi, kan? Apa jangan-jangan... Ini salah satu gejala dari demamnya?
Karena saat ini, ia melihat Kana berada tepat di hadapannya.
"B-bar?..."
Dan ketika Bara mendengar dengan jelas namanya terucap dari bibir itu, lamunannya pun buyar dalam sekejap.
Tetapi belum sempat ia bertindak, hembusan angin yang mengenai kulit dadanya membuat Bara kembali mengawang.
Ia melirik tubuhnya, lalu melirik Kana, dan secara otomatis bola matanya pun mulai terbelalak.
Dalam hitungan detik, Bara segera berlari masuk ke dalam rumahnya tanpa mengucapkan apa-apa.
SIAL, SIAL, SAAT INI IA TAK MENGENAKAN ATASAN!
Bara meraih tumpukan pakaian yang berada di dalam keranjang tanpa memilihnya terlebih dahulu. Yang mana saja, ia tak peduli, saat ini jantungnya berdegup terlalu cepat untuk bisa berpikir jernih. Bahkan tangannya mulai bergetar ketika ia mengenakan kaos hitam itu.
Bara terlalu terguncang saat menyadari bahwa Kana melihatnya dengan penampilan seperti ini. Bukan apa-apa, Bara hanya takut jika sosok itu merasa tak nyaman seperti kejadian beberapa bulan yang lalu.
Jangan, jangan sampai.
Namun, jika memang hanya itu kekhawatiran Bara, lantas mengapa benaknya terasa seperti terbakar?
Entahlah, ia merasa sedikit malu.
Dan di luar bangunan, Kana masih berdiri mematung di tempatnya. Tetapi kepalanya sudah berpaling ke arah yang berlawanan sekarang.
Jemarinya meremat tas jinjing yang ia bawa, sementara tangannya yang lain ia kibas-kibaskan seolah memaksakan sang udara untuk mendinginkan wajahnya yang memanas.
Sepertinya, wajah Kana sudah mirip seperti tomat matang sekarang.
Mengapa ia menjadi gugup tanpa alasan seperti ini?
KAMU SEDANG MEMBACA
Arkana dan Albara
RomansaSurat cinta untuk masa remaja, simfoni pahit dan manisnya cinta pertama, senandung kosong berdebu dari sebuah duka. . . . Arkana memutuskan untuk kembali melanjutkan hidupnya setelah sempat terjatuh ke jurang depresi. Rumah baru, sekolah baru, kota...
