Bara berjalan menuju kendarannya dengan tergesa-gesa. Kunci motor pun sudah berada di dalam genggaman tangan, ia hanya tinggal menyalakan mesinnya saja. Langit mulai terlihat sangat mendung, jika ia tak segera bergegas mungkin hujan akan segera turun. Namun yang paling utama, ia tak ingin membuat Kana menunggu.
"Bar, buru-buru amat sih, lu! Mendung gini mending ngopi!"
Pak Slamet berteriak dari dalam warungnya. Padahal baru saja ia menggoreng cemilan, tetapi laki-laki yang satu itu sudah hendak pergi saja.
"Ah, iya Pak! Nanti lagi aja, ya!"
Bara tak ada waktu untuk berbasa-basi, setelah menaiki motornya, ia pun dengan segera mengenakan helm dan melaju pergi.
"Mau jemput ceum-ceumannya tuh, Pak!"
Padli menyahut dengan cengengesan dari tempat duduknya.
Pak Slamet yang mendengarkan itu pun dengan cepat menolehkan kepala.
"Hah?! Si Bara punya gebetan?!"
Wildan yang duduk tak jauh darinya pun ikut menukkikan alisnya terkejut.
"Hah emang iya?! Kok gue gak tau?!"
Padli yang awalnya memang hanya bergurau pun, kini hanya bisa menggaruk dahinya gundah.
"Kagak anjir, gue bercanda doang kali. Kalau iya si Bara punya pacar, udah geger kali satu kecamatan."
Pak Slamet dan Wildan kompak mendecak sebal. Namun pria yang sudah berumur itu masih tetap mempertanyakan apa kesibukan Bara akhir-akhir ini, sampai ia menjadi sangat jarang berkunjung.
Padahal dulu jika tak ada anak Blue Raven yang berkumpul pun, Bara pasti selalu mampir untuk makan.
"Terus tu anak mau kemana? Perasaan akhir-akhir ini dia jarang kumpul bareng sama lu pada."
Asep yang tengah memainkan ponselnya ikut menyeletuk,
"Paling mau jemput Kana, Pak. Mereka rumahnya searah jadi sering pulang pergi bareng. Bara juga jadi sering belajar bareng sama dia."
Pak Slamet yang kini mengetahui fakta itu pun menaruh tangannya di atas dada seolah tengah menyaksikan keajaiban dunia.
"Wehh! Bagus dah kalau begitu! Udah waktunya ya, lu-lu pada serius sama sekolah. Jangan cuman ngebut, ngebul, sama pacaran doang! Harusnya lu pada juga pada ikut belajar bareng sana!"
Asep yang merasa tersindir pun, secara perlahan mematikan ponselnya dan menaruh benda pipih itu di atas meja.
"Tapi si Kana-Kana ini tuh, yang waktu itu bantuin lu pada soal geng-geng itu, kan?"
Wildan mengangguk sebagai konfirmasi,
"Hooh! Kalau gak ada Kana, mungkin kita masih belum bisa nafas dengan tenang kali."
Pak Slamet dibuat terkagum-kagum oleh sosok-sosok ini untuk yang kesekian kalinya.
"Wahhh, bawa dah ya tu anak kesini lain kali! Biar dia nyebarin pengaruh yang baik sama lu semua juga! Bilangin gitu, nanti dia Bapak traktir!"
Padli mengangguk-anggukkan kepalanya setuju,
"Boleh-boleh, tuh! Tapi kalau ketemu sama dia jangan kaget ya, Pak! Soalnya tu anak gak kucel kaya si Wildan sama si Asep."
Pemilik kedua nama yang tadi Padli sebutkan pun, secara bersamaan memukul pundak laki-laki itu dari belakang dengan kuat sampai membuat sang empu mengaung kesakitan.
"Wah, emangnya iya?"
"Emang cakep anaknya, Pak."
Asep mengambil alih pertanyaan itu.
Wildan meraih salah satu gorengan yang ada di atas nampan, lalu melahapnya dengan khidmat.
Kepalanya kembali mencari potongan-potongan gambar dengan Kana dan Bara di dalamnya.
"Tapi kalau gue liat-liat, mereka itu kaya bukan orang temenan dah."
Wildan memincingkan matanya, seolah-olah hal itu dapat membantunya mengingat sesuatu.
Dibandingkan dengan Padli dan Asep, dirinyalah yang paling sering bertemu dengan mereka berdua—karena ia sekelas dengan Kana dan Bara.
KAMU SEDANG MEMBACA
Arkana dan Albara
RomanceSurat cinta untuk masa remaja, simfoni pahit dan manisnya cinta pertama, senandung kosong berdebu dari sebuah duka. . . . Arkana memutuskan untuk kembali melanjutkan hidupnya setelah sempat terjatuh ke jurang depresi. Rumah baru, sekolah baru, kota...
