seratus tujuh

83 8 3
                                        

Kana mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya di atas permukaan meja kayu. Pandangannya masih bertumpu pada sebuah buku catatan yang sedari tadi ia coreti oleh kalimat-kalimat acak. Namanya juga sedang menuangkan ide, apapun yang terlintas di kepala harus dengan cepat ia tulis agar tidak kelupaan.

Waktu mengalir begitu deras sehingga semester genap sudah memasuki babak pertengahan. Padahal rasanya baru kemarin Kana menginjakkan kaki di Jakarta, sekarang ia sudah hampir satu tahun menyandang status sebagai pelajar di ibu kota.

Kakak kelasnya pun telah disibukan oleh soal-soal latihan sebagai persiapan menuju ujian kelulusan.
Karena itulah, kini Galih yang masih memegang tahta sebagai ketua Organisasi Siswa sudah menyelenggarakan seleksi pemilihan pemimpin yang baru.

Setelah para senior berembuk dan saling mengambil pendapat mengenai siapa saja sosok-sosok yang dikira mumpuni untuk menjadi penerus Galih, tiga nama kandidat pun meraih suara paling banyak.

Ryan, Jejes, dan Kurnia.
Ketiga siswa kelas 11 itu memiliki citra dan kinerja yang baik dalam kepengurusan Osis.
Sikap rajin dan ketelatenan bukanlah satu-satunya alasan mereka dipilih, tetapi kedekatan mereka dengan para siswa SMA Kenanga pun termasuk kedalam faktor utamanya.
Kepemimpinan akan mudah terjalin jika jarak diantara pengikut dan pemandu tidaklah berjauhan.

Para anggota Osis yang lain pun sudah dibagi menjadi beberapa regu.
Kelompok-kelompok ini berfungsi untuk membantu keberlangsungan masa kampanye ketiga calon ketua osis itu.

Dafa terdaftar kedalam regu Kurnia.
Lisa dan Leni terdaftar kedalam regu Jejes.
Sementara Kana dan Lintang terdaftar kedalam regu Ryan.

Kana dan Lintang pun mendapatkan tugas sebagai divisi kreatif.
Pekerjaan mereka berkutat pada kepengurusan promosi media visual seperti poster dan perancangan program-program non-akademik yang akan dilaksanakan jika Ryan terpilih.

Tentu saja, semua pekerjaan ini dibantu dan dipantau oleh Ryan.

Beberapa rancangan tim kreatif sudah selesai didiskusikan.
Kana dan Lintang telah menentukan warna atau grafik yang akan mereka pakai untuk konten di sosial media.
Kata-kata bijak yang sejalan dengan visi misi milik Ryan pun sudah mereka catat untuk digunakan kedalam slogan poster.

Salah satu program yang hendak mereka promosikan dalam masa kampanye diberi nama 'Surat untuk seseorang pada lini masa'.
Para murid nantinya dipersilahkan untuk menulis sajak atau puisi tentang seseorang yang mereka kagumi secara anonim.
Semua catatan yang terkirim akan diposting pada website sekolah, namun catatan terbaik akan mereka pajang pada mading.

Selain meningkatkan literasi, hal itu pun bisa menguatkan rasa solidaritas diantara para murid.

Sama seperti beberapa detik yang lalu, Kana masih sibuk menggerakkan pena sembari membuka setiap laci pada sudut kepalanya untuk menemukan ide baru.
Tetapi kini ekor matanya mulai menangkap lirikan netra dari sosok lain.

"Kenapa, Yan?"

Ryan yang ketahuan sedang memandangi Kana pun tak bertingkah seolah-olah ia sudah tertangkap basah.
Justru sebaliknya, laki-laki itu malah mengulas senyuman tanpa dosa.

"Enggak kenapa-napa, gue cuman lagi ngagumin lo aja."

Lintang yang semula masih mendaratkan perhatiannya pada artikel di internet itu, kini secara spontan menoleh terkesiap.
Gila juga Ryan, blak-blakan sekali dia.

"Serius, Na. Gue masih kena star struck waktu ngeliat lo tampil.
Kok bisa sih, lo yang udah cakep jadi tambah cakep lagi?"

Kana yang mendengar jawaban itu hanya bisa mendenguskan kekehannya sembari menggelengkan kepala.
Rasanya ia sudah mulai terbiasa mendapatkan pujian-pujian secara rutin dari bibir Ryan.
Sedari belum lama kenal pun, laki-laki ini memang sudah sering mengatakan hal yang serupa.
Tetapi semenjak acara pensi kemarin, sepertinya jenis kata-kata manis yang ditujukan kepada Kana semakin bermacam-macam saja.

Arkana dan AlbaraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang