Bara masih termangu.
Ia masih belum yakin apakah kalimat yang baru saja didengarnya memang benar nyata atau justru kedua gendang telinganya lah yang sedang bergurau.
"Bar... Boleh, gak?"
Kana memiringkan kepala sembari mengulang pertanyaan kepada sosok yang masih membatu itu.
Ia memberikan jeda selama sepuluh detik untuk sang pemilik rumah menjawab, namun hening masih tetap menjadi bunyi paling nyaring sampai sekarang.
Kana lantas hanya bisa terkekeh canggung, rasanya cukup malu menerima penolakan halus seperti ini.
"Kalau gak boleh juga gak ap—"
"BOLEH BANGET!"
Nanang yang sedari tadi ikut terkesiap karena mendengar permintaan tak terduga dari Kana, kini dibuat terlonjak kaget kala Bara berteriak tanpa aba-aba.
Berbeda dengan Kana yang bereaksi sebaliknya; ia membeku ditempat dengan kepala yang masih berusaha mencerna respon laki-laki itu.
Padahal baru sedetik yang lalu Bara terlihat tak tertarik dengan tawarannya, tetapi mengapa ia sekarang terlihat bersemangat sekali?
Bara yang sudah berdiri tegak dengan senyum lebar sumringah, kini secara perlahan mulai menyadari ucapannya.
Lantas, ia pun terpekik dengan tindakannya sendiri.
"EH, ENGGAK-ENGGAK!"
Kana menyatukan alisnya kembali dibuat kebingungan.
"Jadi, gak boleh?"
Bara sontak membelalakkan matanya sembari melambaikan tangan ribut. Jelas bukan itu yang ia maksud.
"ENGGAK, BUKAN GITU! G-GUE MAU! GUE MAU LO NGINEP! MAU BANGET!"
Kana mengedipkan matanya beberapa kali,
"Jadi, lo mau banget gue nginep?"
Sialan. Wajah Bara terasa semakin memanas. Dan yang pasti, ini bukan ulah dari demamnya.
Bara menggaruk tengkuknya frustasi. Tidak ada kalimat yang tepat untuk menyampaikan apa maksudnya saat ini.
Bara tak ingin Kana melakukan semua itu hanya karena sebatas rasa bersalah. Bagaimana pun ia tetap tak ingin membuat Kana merasa terbebani. Tapi... Bara akan berbohong jika berkata bahwa ia tak menginginkannya.
Entah apa yang tengah merasukinya saat ini, hanya saja... Ia ingin Kana bersama dengannya lebih lama.
Rasanya sangat nyaman dan menyenangkan untuk diperhatikan oleh Kana.
Dengan terbata-bata, Bara pun membuka suara sembari mendaratkan kembali tubuhnya di atas sofa. Kali ini lebih tenang dengan intonasi yang rendah, tentunya.
"M-maksud gue, gue gak masalah kalau lo m-mau nginep. Tapi, gue takut ngerepotin lo lebih j-jauh."
Kana menghela nafas setelah rasa bingungnya terhapus secara keseluruhan.
"Kan gue udah bilang Bar, gue gak ngerasa direpotin."
Kana mendekatkan posisi duduknya dengan Bara, mencoba meyakinkan sosok itu bahwa ia sangatlah bersungguh-sungguh.
"Rumah gue kan deket, gue tinggal telfon aja orang rumah buat izin. Lagian juga besok kan libur, gue gak ada acara apa-apa. Daripada diem di rumah gak ada kegiatan, mending gue bantu-bantu disini. Siapa tau lo butuh sesuatu kan. Jadi gimana, boleh gue nginep?"
Dengan sedikit gugup, Bara mengangkat wajahnya yang tertunduk. Lalu kala pandangan mereka kembali bertemu, anggukan kepala pun secara otomatis dilakukannya.
Bagaimana bisa ia menolak apapun yang sosok ini minta?
Seperti nyamuk yang tengah berteduh, Nanang hanya bisa membisu dengan isi kepala yang riuh. Jika ia tak menahan diri untuk merusak suasana, mungkin Nanang sudah tertawa terbahak-bahak dan meledeki temannya itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Arkana dan Albara
RomantikSurat cinta untuk masa remaja, simfoni pahit dan manisnya cinta pertama, senandung kosong berdebu dari sebuah duka. . . . Arkana memutuskan untuk kembali melanjutkan hidupnya setelah sempat terjatuh ke jurang depresi. Rumah baru, sekolah baru, kota...
