tujuh delapan

113 11 6
                                        

Kana meraih botol minum dari dalam kantung cadangan ranselnya. Setelah membuka penutupnya, ia menegak air itu hingga tak bersisa. Entah mengapa hari ini tubuhnya terasa dehidrasi, padahal cuaca tak sekalipun terlihat gerah atau terik.

Suara percakapan di antara teman-temannya masih menggema mengisi ruangan sekretariat. Kebetulan waktu istirahat setelah rapat sudah dimulai. Jadi Lintang, Leni, Dafa, dan yang lainnya dapat berbincang sesuka hati mereka.

"Oh iya, berarti nanti pentas seni akhir taun jadi dong?"
Leni bertanya dengan mulut yang dipenuhi oleh keripik pedas.

"Jadi lah. Tadi kan Kak Galih bilang kalau financenya lagi dibahas dulu sama Kepsek. Nanti kalau rancangannya udah selesai, bakalan langsung dikasihin ke kita buat diurus."
Jawab Dafa dengan tangan yang sibuk mengelap kacamatanya yang mengembun.

"Iya. Lagian juga mereka harus udah ngekonfirm dulu sama anak-anak ekskul yang mau tampil. Biar mereka punya waktu buat latihan. Belum lagi sama murid-murid yang mau perform independent. Gak mungkin lah kita dikasih tau semalem sebelumnya."
Lintang yang tengah mengikat ulang rambutnya, ikut menimpali sesi tanya jawab itu.

Namun ketika ia menelaah ulang ucapannya, Lintang pun spontan menoleh kepada Kana.

"Eh, Na. Berarti lo juga nanti bakalan tampil ya?"

Kana yang baru saja selesai meminum cairan mineral itu pun, kini mengerjapkan matanya.
"Oh, iya juga ya?"

"Iya, Na. Theater kan biasanya suka ikut tampil juga setiap pensi."

Ya, Kana baru ingat sekarang. Kak Rere sudah pernah bercerita panjang lebar mengenai acara-acara yang biasanya mereka ikuti setiap tahun. Dan pentas seni sekolah pun termasuk ke dalamnya.

"Gue gak sabar ngeliat si Izal tampil. Tu anak kira-kira bisa ekting kaga, ya?"
Leni menggelengkan kepalanya cengengesan. Membayangkan laki-laki itu berdialog serius saja, rasanya sudah aneh sekali.

"Mereka kan suka bawain cerita klasik atau dongeng gitu tuh, palingan juga si Izal jadi babu kerajaan."

Kedua perempuan yang duduk saling berhadapan itu pun tertawa terbahak-bahak saat mendengar celetukan Dafa. Tak luput dari Kana yang juga tengah mencoba sekuat tenaga untuk menahan senyumnya.

"Heh, jangan gitu sama temen sendiri."

Kana berdehem dan menetralkan raut wajahnya yang hampir terperosok kedalam gurauan.

"Lagian Izal itu sebenernya bisa kok acting, dance, segala macem. Setiap latihan juga dia PD terus. Cuman kalau udah di pasangin sama Wulan tuh, baru dia malah jadi kaku gitu."

Lintang yang menyimak penuturan Kana pun, lantas menekukkan alisnya. Tidak, ia tidak keheranan. Sudah sering Izal bersikap seperti itu saat ia sedang bersama Wulan. Hanya saja, ternyata Kana juga menyadari perubahan sikap Izal yang selama ini hanya diketahui olehnya.

"... Yaiyalah, orang sama crushnya."
Lintang meraih keripik milik Leni dari bungkusnya saat sang pemilik masih sibuk cekikikan bersama Dafa.

Tanpa menyadari... bahwa Kana berhasil menangkap gumaman kecil itu.

Dan ketika Lintang kembali menoleh, ia pun dibuat termangu saat melihat Kana yang sudah menatapnya lekat-lekat.

Dengan air mukanya yang sudah berubah menjadi serius, Kana mendekatkan bangkunya dengan bangku Lintang dan membisikan sesuatu di telinga perempuan itu.

"... Lo juga ngerasa?"

Lintang pun spontan membelalakkan matanya.

"Lo juga ngerasa... kalau Izal suka sama Wulan?"

Arkana dan AlbaraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang