sembilan delapan

44 9 0
                                        

Bara tak lagi bertaut dengan raganya.
Semenjak sentuhan kasih sayang dari sang surya sudah tak lagi terasa, kini baginya kehidupan hanya tentang perkara bertahan atau mati terbengkalai. Jalanan kota malam ia arungi dengan kosongnya relung yang mengemis akan makna dunia. Alasan mengapa kakinya bisa sampai menapak di atas butiran tanah yang tak pernah ia minta.

Bara sudah tak lagi sering berdiam diri di dalam rumah. Ia selalu berpergian kemanapun itu selepas pulang sekolah. Terkadang kakinya membawa Bara menuju barat, terkadang kakinya membawa Bara menuju timur. Ia tak peduli kemana arahnya atau dimana ia berakhiran berada, Bara hanya tak ingin berpas-pasan dengan Wahyu.

Kali ini, pada kelamnya langit yang hampir menunjukkan pukul delapan malam, ia berjalan menuju sebuah tempat tongkrongan kaula muda yang sering dibicarakan oleh orang-orang. Untuk menuju destinasi, ia harus berjalan menyusuri rel kereta api dan sisi lain dari perkotaan.

Bara menengok keselilingnya dan mendapati cahaya-cahaya lampu neon dari toko yang baru saja buka.
Restoran barbeque yang kian mengeluarkan asap, bar-bar malam yang kian memiliki banyak pengunjung, lalu bangunan bertuliskan karaoke yang kian mengeluarkan gendangan musik.

Orang-orang berjalan melintasinya dengan begitu cepat. Rasanya mereka semua hanyalah kunang-kunang yang berkeliaran di dalam hutan.

Sementara Bara masih tak menemukan arah kemana hidupnya akan berjalan. Kali ini ia membiarkan takdir yang berkata dan mengambil seluruh kuasa. Bahkan jika saat ini ia terjatuh di atas rel kereta dan hancur saat itu juga, Bara sudah tak lagi peduli.

Bagi Bara, kehidupannya sudah berakhir disini.

Geraman bunyi gerbong tak kunjung terdengar, kala Bara melintasi arus berbersi itu. Namun di depan sana, ia sudah bisa melihat segerombolan manusia yang berjalan masuk menuju suatu tempat—yang lebih tepatnya seperti sebuah gang.
Bukan, mereka bukan calon penumpang kereta, melainkan mereka adalah pengunjung langganan dari sebuah tempat yang kini tengah Bara hadang.

Bara berjalan melewati kumpulan remaja yang tengah asik bercanda gurau. Matanya menjelalah untuk memeriksa bagaimana lekuk asli dari tempat itu.

Di dalam gang yang terbentuk cukup luas, Bara mendapati banyaknya tenda kecil dari setiap sudut. Ada yang menjajakan minuman hangat, ada pula yang menjajakan nasi goreng, dan tentunya... Ada pula yang menajajakan minuman keras.
Namun hal yang menyita perhatian Bara adalah jumlah bangku yang tersedia. Pantas saja tempat ini penuh, karena sang pendiri menyediakan banyaknya alas untuk duduk.

Bara menghampiri seorang pria tua yang berada di balik mini stan, lalu memesan sebuah kopi hitam dan menyerahkan selembar uang.
Sebuah bangku kayu pun ia klaim sebagai miliknya malam ini.
Setelah pesanannya datang, Bara pun menyimpan gelas itu di atas meja.
Sembari menunggu kopinya untuk berubah menjadi hangat, Bara mengeluarkan sebungkus rokok dari dalam saku jaket dan menyalakan benda itu dengan korek.

Hembusan asap berabu pun terukir diantara udara seperti genangan cat di dalam air.
Suasana yang ramai dari percakapan orang-orang disekitarnya tak membuat rasa kesepian Bara berkurang.
Lagi-lagi kala ada pelik yang mulai menjanggal didadanya, Bara akan kembali menyesap nikotin itu sampai hampir habis setengah.

Tidak, Bara sebelumnya bukanlah seorang perokok. Dulu baginya, kesehatan itu adalah hal yang utama.
Namun kini, kala ia sudah tak lagi memiliki alasan untuk bertahan, Bara memutuskan untuk melanggar peraturannya sendiri.

Sejujurnya Bara masih belum terbiasa dengan rasa pahitnya, tetapi dengan berkala ia masih mengkonsumsi benda itu.
Bukan karena ketagihan, tetapi karena ia butuh pelampiasan.

Kata orang, merokok bisa menenangkan pikiran yang kusut.
Walaupun bagi Bara ucapan itu tak sepenuhnya benar, namun lebih baik mencoba daripada tidak sama sekali.

Arkana dan AlbaraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang