seratus delapan

125 14 2
                                        

Kana melangkahkan kakinya beriringan bersama dengan Lintang menuju mading sekolah.
Kedua pasang lengan mereka pun masing-masing tengah mengangkut sebuah kotak kardus.
Benda kubus itu berisikan selembaran poster untuk kampanye kepemimpipinan Ryan dan kertas-kertas hiasan lainnya.

Selama satu minggu penuh, setiap calon ketua Osis diwajibkan untuk mengisi mading dengan poster-poster yang menjelaskan visi misi mereka secara merinci.
Dua minggu lalu, Kurnia dan regunya sudah mengisi mading itu dengan suara mereka.
Lalu seminggu kemudian, Jejes dan timnya pun sudah mendapatkan bagian.
Dan akhirnya minggu ini, waktu Ryan untuk menyampaikan aspirasinya lewat media cetak pun telah tiba.

Oleh karena itulah, Kana dan Lintang—yang bertugas sebagai divisi kreatif—harus segera menghiasi papan kayu itu agar para murid yang lain bisa dengan cepat pula membacanya.

Istirahat jam kedua sudah hampir habis. Tapi bukannya bel masuk yang berdering, justru suara seorang gurulah yang menggema dari dalam mikrofon.

"Untuk murid kelas sebelas, mohon segera kumpul di lapangan."

Lintang yang mendengar itu pun lantas bertanya kepada Kana,
"Eh, itu ada apaan? Kok pada dipanggil?"

Kedua remaja yang masih menempuh perjalanan menuju mading itu pun, harus memberikan ruang bagi para murid yang lain untuk bergegas ke lapangan.

Kana mengeratkan pegangannya pada kotak yang ia bawa agar tak terjatuh.
"Kalau gak salah, hari ini kan ada promosi gitu dari perusahaan minuman."

Ia tak ingat apa nama mereknya. Tetapi yang jelas, Ryan pernah memberikan kabar bahwa minggu ini SMA Kenanga akan kedatangan tamu dari tim marketing sebuah produk minuman kesehatan bagi pertumbuhan remaja.

Seperti acara kunjungan yang lalu, para murid nantinya akan diberikan tester gratis.

"Ohhh, iya gue inget. Tapi kita bakalan dapet gak, sih? Soalnya kan kita gak ikut kumpul di lapangan."

Lintang meluruhkan pundaknya lesu.
Padahal barang cuma-cuma seperti itu lumayan juga untuk dibawa pulang.
Memang sudah resiko menjadi babu sekolah, ia lebih sering kebagian susahnya saja.

Namun kala pasrah hendak menjadi pilihan akhir, secercah cahaya tiba-tiba menyala dengan begitu saja dari dalam kepalanya.
"Ehh, iya! Gue suruh si Leni buat minta bagian punya kita! Dia kan ketua kelas, Pasti tukang promosinya percaya kalau dia bilang ada dua murid yang lagi berhalangan hadir."

Kana menggelengkan kepala tak habis pikir sembari tertawa renyah, kala melihat Lintang yang dengan ribut mengeluarkan ponselnya untuk mengirimkan sebuah pesan kepada Leni demi mendapatkan minuman gratis itu.

Niat mereka untuk langsung mengerjakan tugas setelah sampai di tempat tujuan pun, harus tertunda terlebih dahulu kala sebuah sahutan terdengar.
Dengan kompak, keduanya langsung menoleh pada asal suara.

"Na!"
Ryan berlari kecil berlawanan arah dari para murid yang tengah berlalu menuju lapangan.
Tangannya pun tak kosong seperti sedang menggenggam sesuatu.

"Eh, Yan. Lo tadi dipanggil rapat, kan? Udah selesai? Kalau udah selesai, kenapa lo gak ikut ke lapangan?"
Kana meletakkan kardus yang ia bawa ke atas lantai, lalu meregangkan jemarinya yang terasa sedikit pegal.

Ryan mengelap peluhnya yang mulai bercucuran sembari menyunggingkan senyuman.
"Iya, rapat tadi udah selesai. Tapi gue gak ikut ke lapang, soalnya udah dikasih duluan."

Ryan menyodorkan sebuah botol dengan kemasan plastik berwarna biru muda kepada Kana.
"Tadi waktu dikasih, gue sekalian aja minta bagian punya lo. Soalnya kan lo pasti gak akan ikut ke lapangan sekarang."

Arkana dan AlbaraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang