Bara mengucapkan kalimat terimakasih kepada seorang penjual basreng saat ia telah menerima pesanannya. Berhubung jam istirahat baru saja dimulai, ia masih bisa bersantai dengan teman-temannya di kantin dan tak perlu bergegas memasuki kelas.
Karena meja dan kursi sudah terisi penuh oleh murid lain yang lebih dulu berdatangan, Bara, Iko, dan Reja pun memilih pijakan di dekat tangga sebagai tempat tongkrongan untuk mengisi perut mereka.
"Coy, menurut lu berdua, gue kira-kira kasih apa ya buat Yola?"
Pertanyaan yang tak merinci dari Reja itu membuahkan kerutan dahi dari kedua temannya.
"Hadiah buat Yola? Hadiah apaan?"
Iko bertanya sembari mengecap batagor miliknya, sementara Bara hanya menyimak dan memilih untuk meneguk minuman manis botolan yang juga tadi ia beli.
"Iya, soalnya gue besok mau nembak dia."
Pungkasan Reja yang terdengar begitu ringan, sontak membuat Bara memuncratkan air dari dalam mulutnya.
"ANJIR BAR! LU NGAPA DAH?!"
"MINUMAN LO KENA SEPATU GUE BEGO!"
Bara tak mengindahkan makian dari kedua laki-laki itu dan sibuk menepuk-nepukkan dadanya yang tersedak akibat dari sisa minuman yang merembas begitu saja ke dalam kerongkongan.
Bara menelan ludahnya beberapa kali untuk menetralkan tenggorokan, sebelum ia menoleh kepada Reja dengan tatapan tak percaya.
"Jir, lu serius suka sama Yola?"
Reja menggarukkan kepalanya heran. Mengapa hal seperti itu terdengar sangat mengenjutkan bagi Bara?
"Iya, emang napa dah? lu sampe shock ke gitu."
Bara lagi-lagi melongo dibuatnya.
Beberapa minggu yang lalu, Reja memang sempat membicarakan tentang murid perempuan dari kelas sebelah. Ia berkata bahwa mereka sering kali bertukar pesan setiap harinya. Dan tak lama, Reja sempat membeberkan fakta bahwa ia menyukai Yola.
Namun saat itu Bara hanya menanggapinya sebagai candaan belaka. Karena mana mungkin hal seperti itu bisa terjadi. Toh, dirinya, Iko, dan Reja masih menyandang status sebagai anak kecil. Mana mungkin mereka sudah bisa mengalami perasaan yang hanya diperuntukan bagi orang-orang dewasa seperti 'suka' atau bahkan 'cinta'.
"Tapi kan lu masih kecil, Ja. Mana mungkin bisa suka-sukaan."
Reja dan Iko termangu untuk sejenak saat telinga mereka menangkap pernyataan polos dari Bara. Namun tak lama, kedua orang itu tergelak nyaring sembari memegangi perut yang serasa digelitiki.
"Napa, dah? Gue salah ngomong?"
Dari tampilan dan perawakannya, mungkin orang-orang akan mengira bahwa Bara sudah terlebih dulu menginjak masa pubertas dibandingkan dengan anak-anak lain. Namun kenyataannya, Bara lah yang paling lugu diantara mereka ketika berurusan dengan masalah asmara.
"Jingan lu Bar, ngakak banget gua dengernya. Lu pikir kita-kita masih TK apa?"
Bara mencebik jengah. Mengapa mereka seolah memojokan dirinya yang tak berpengalaman?
"Ko, emangnya sekarang lu juga ada suka sama orang?"
Tawa Iko perlahan memelan dan menghilang. Ia memilih untuk tak menjawab dan berpura-pura terfokus kepada makanannya yang baru setengah habis.
Melihat reaksi Iko yang kentara tengah mengalihkan percakapan, Reja pun memukul pundak laki-laki itu dengan wajah yang curiga.
"WOYYY, SUKA SAMA SIAPA LUU?! KASIH TAU CO?!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Arkana dan Albara
RomantikSurat cinta untuk masa remaja, simfoni pahit dan manisnya cinta pertama, senandung kosong berdebu dari sebuah duka. . . . Arkana memutuskan untuk kembali melanjutkan hidupnya setelah sempat terjatuh ke jurang depresi. Rumah baru, sekolah baru, kota...
