Bara menekan tombol terima panggilan kala ponselnya berdering. Dari ujung sana, Shendik tengah memberikan arahan kepada Bara mengenai tata letak benda yang ia cari. Bara pun bergumam paham, lalu kembali menutup telfon itu.
Berhubung hari ini adalah hari libur, Bara dan anggota Blue Raven yang lainnya memutuskan untuk pergi konvoi bersama. Tak jauh-jauh, masih di dalam kota. Namun kala Bara sudah berada di tengah jalan menuju titik temu yang telah ditentukan, Shendik meminta bantuan kepadanya untuk mengambil sebuah barang yang tertinggal. Mau tak mau, Bara pun menuruti permohonan itu dan mampir terlebih dahulu ke rumahnya.
Bara menjelajahkan pandangannya kala kediaman itu sudah berada di depan mata. Merasa tak sopan jika harus berteriak dari pagar, Bara pun kembali melangkah memasuki teras dan mengetuk pintu berbahan kayu itu dengan tempo berirama.
"Permisi."
Bara tak yakin siapa sosok yang sudah terjaga pada pagi buta ini. Perkirannya mungkin sang pembantu. Setahunya, Sheila akhir-akhir ini tengah sibuk belajar. Jadi mungkin saja perempuan yang berstatus sebagai murid SMA itu masih terlelap.
Kala tak ada jawaban, Bara pun hendak kembali berujar dan mengetuk.
"Permi—"
"Iya?"
Namun tiba-tiba, pintu itu terbuka dan menampilkan sosok yang sangat asing bagi Bara. Rambutnya hitam sebahu, bibirnya terbentuk seperti gambar hati, lalu tubuhnya dibaluti oleh piyama berwarna merah muda.
Keduanya saling berbagi tatap untuk waktu yang lama.
Seolah-olah, mereka dibuat tertegun oleh satu sama lain.
Tetapi bagi Bara, alasannya cukup memalukan.
Ia sedikit dibuat terkesima melihat kecantikan sosok ini.
"Eh, eum, gue disuruh sama Shendik buat bawain tas dia yang ketinggalan."
Perempuan itu mengerjap kikuk, lalu mengangguk kecil.
"Iya, Kak Shen-Shen udah ngasih tau. Bentar, ya."
Dengan langkah kaki yang terpatah-patah, perempuan itu kembali memasuki ruang tamu dan membawa tas yang dimaksud untuk diserahkan. Namun tak bisa dipungkiri, segaris senyuman gugup terulas pada wajah itu kala ia mencuri-curi pandang kepada Bara.
Bara tak berani bertanya mengenai siapa status perempuan itu di rumah ini. Tetapi dari perawakannya, mungkin sosok itu sebaya dengan Bara.
Tak ingin membuat suasana canggung bertahan semakin larut, Bara pun dengan cepat berpamitan kala tas itu sudah berada digenggaman.
"Makasih ya, kalau gitu gue permisi."
Bara melenggang berbalik arah tanpa menengok ke belakang. Tetapi sinyal perasanya berkata, bahwa sosok perempuan itu masih menatapnya dari jauh.
Tak bisa dipungkiri pula, pertanyaan-pertanyaan mengenai sosok itu pun mulai bermunculan.
Tetapi tanpa perlu diminta, Shendik dengan inisiatif menjelaskan bahwa sosok yang tadi Bara temui adalah sepupunya yang tengah menginap, namanya adalah Tika.
Semenjak hari itu, setiap kali Bara menapakkan diri di rumah Shendik, ia menjadi lebih sering menjumpai sepupu perempuan dari sang ketua.
Interaksi mereka pun awalnya hanya berkisar pada tawaran untuk dibuatkan minum atau dibawakan cemilan.
Namun lama kelamaan, Tika mulai membuka percakapan lebih jauh, sehingga Bara pun mempunyai alasan untuk lebih lama menanggapinya.
Bagi Bara, Tika orangnya asik.
Selain tentunya cantik, ternyata perempuan itu pun memiliki pemikiran yang menarik.
Rasanya Bara nyaman-nyaman saja jika harus berbincang dengannya selama berjam-jam.
Karena sudah saling bertukar kontak, interaksi mereka pun semakin bertambah setiap harinya. Walaupun situasi ini terbilang baru bagi Bara, namun ia sama sekali tak merasa keberatan untuk melakukannya setiap hari.
KAMU SEDANG MEMBACA
Arkana dan Albara
RomansaSurat cinta untuk masa remaja, simfoni pahit dan manisnya cinta pertama, senandung kosong berdebu dari sebuah duka. . . . Arkana memutuskan untuk kembali melanjutkan hidupnya setelah sempat terjatuh ke jurang depresi. Rumah baru, sekolah baru, kota...
