Bara memasukkan barang-barang yang terletak di atas meja ke dalam sekotak kardus.
Sejujurnya, ia tak tahu apa saja kegunaan dari setiap alat kecantikan untuk rambut yang tengah dibenahinya. Namun Bara tetap berhati-hati dalam menata, ia tak ingin ada salah satu benda yang lecet atau bahkan rusak.
Sesuai janjinya kepada Maudi, kini Bara tengah membantu perempuan itu dihari pindahannya.
Alma dan Lela pun juga ikut membantu dalam membungkus barang-barang yang berukuran lebih besar.
"Lu berdua harusnya gak usah repot-repot bantuin gue. Mana bawa-bawa Bara lagi, kasian entar dia cape."
Maudi berkecak pinggang melihat kedua sosok yang tak diundang itu, padahal ia sudah bersikeras melarang mereka untuk turun tangan.
Namun Alma dan Lela hanya menanggapi omelan dari Maudi dengan kekehan saja dan sama sekali tak mengindahkannya.
"Gak apa-apa kali, Di. Masa temen sendiri gak ditolongin, sih. Lagian juga Bara emang dari kemarin udah bilang mau bantuin, kok. Iya kan, Bay?"
Bara yang mendengar namanya disebut pun, lantas mengangguk setuju dan tersenyum lebar. Menandakan bahwa dirinya sama sekali tak keberatan.
"Huum, kaya kesiapa aja lo so-soan gak enakan segala. Ini juga kan kali terakhirnya kita-kita ada di salon enih, jadi gak masalah lah bantu-bantu dikit. Asal, nanti kita boleh krimbat gratis ya di salon baru lo."
Maudi memukul lengan Lela sembari mencebikkan bibirnya.
"Tuh, kan. Lu mah pasti ada maunya."
Bara menghentikan aksinya untuk sejenak dan memperhatikan bagaimana ketiga wanita itu saling bercengkrama. Tawa yang mereka keluarkan, rasanya sama sekali tak terdengar seperti suara orang dewasa.
Mereka tertawa layaknya kumpulan anak-anak yang sedang bermain di ujung hari. Tertawa lepas sebelum orang tua mereka memberikan perintah untuk pulang.
Alma, Lela, dan Maudi adalah tiga sekawan yang sepertinya memang diciptakan untuk bersama-sama. Sedari kecil mereka tak pernah terpisahkan.
Tetapi, mungkin bagi Maudi kisah hidupnya terbilang cukup rumit jika harus disingkat kedalam sebuah paragraf.
Dari umur belia, Maudi selalu merasa ada yang berbeda darinya. Ia tak menyukai hal-hal yang biasanya ditujukan kepada seorang anak laki-laki. Ia sama sekali tak merasakan koneksi sebagai seorang pria.
Semakin perawakannya membesar, semakin pula perih batinnya merembah. Jika harus digamblangkan, Maudi merasa dirinya terlahir di dalam tubuh yang salah.
Mungkin, hidupnya akan berakhir tragis jika Alma dan Lela tak ada disampingnya. Karena hanya kedua orang itulah yang dengan suka cita menerima dirinya tanpa ada syarat.
Setelah menghabiskan beberapa waktu untuk transisi, penampilan fisiknya mulai tergambar seperti apa yang ia bayangkan selama ini.
Walaupun begitu, identitasnya sebagai perempuan masih belum bisa diakui oleh penduduk sekitar. Masih banyak orang yang memanggilnya dengan nama lama, tak sedikit pula dari mereka yang kerap memanggilnya dengan panggilan-panggilan tak pantas.
Tetapi, Maudi masih memutuskan untuk bertahan. Salon yang ia buka di dekat kediamannya, berangsur menghasilkan upah yang tinggi dan reputasi yang baik.
Bahkan ia sudah memiliki pelanggan tetap dari segala penjuru ibu kota.
Namun pada akhirnya, Maudi tetaplah manusia. Hatinya masih belum kebal dari hinaan dan sindiran yang orang-orang sekitarnya layangkan. Memang, tak ada satupun dari mereka yang secara gamblang menyuruhnya untuk pergi. Namun ia pun masih memiliki akal untuk menelaah maksud dari ucapan mereka.
Maudi tak diterima disini.
Dan pada akhirnya semua kejadian itu berujung pada hari ini.
Dimana ia memutuskan untuk pindah dan membuka salonnya di tempat lain.
Harap-harap, penduduk di tengah kota bisa sedikit membiarkannya hidup dengan tenang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Arkana dan Albara
RomanceSurat cinta untuk masa remaja, simfoni pahit dan manisnya cinta pertama, senandung kosong berdebu dari sebuah duka. . . . Arkana memutuskan untuk kembali melanjutkan hidupnya setelah sempat terjatuh ke jurang depresi. Rumah baru, sekolah baru, kota...
