Kana masih setia merebahkan tubuhnya di atas ranjang, bahkan saat kini kesadaran penuh sudah kembali pulang kedalam raga.
Jika bisa, ia ingin mengundang lagi seluruh hasrat kantuk untuk hinggap dan membawanya terlelap.
Untuk membuka mata saja, rasanya ia sangat kesulitan.
Rona samar pagi hari berusaha menyelinap masuk pada celah-celah gorden yang menutupi jendela kamar Kana.
Selama dua hari kebelakang, ia sama sekali tak menyentuh, apalagi membuka kain itu.
Seolah-olah, satu titik cercahan cahaya pun tidaklah Kana berikan izin untuk melihat keadaannya sekarang.
Kala kegelapan sudah tak lagi benar-benar melahap ruangan itu, Kana pun terpaksa memasukkan wajahnya kedalam selimut.
Jika diibaratkan, sekarang ia sangatlah tak mau menjadi bagian dari dunia maupun isinya.
Pada kepingan momen kosong seperti ini, hal yang bisa Kana lakukan hanyalah termenung semu.
Dari kemarin lusa, ia masih enggan untuk membuka ponsel maupun berinteraksi dengan manusia lain.
Bahkan ketika sisa air mata pada pipinya membuat kulit putih itu memerah dan meninggalkan reaksi gatal, ia masih tak memperdulikannya.
Kegiatan konsisten yang Kana lakukan selama dua hari terakhir hanyalah menangis tersedu-sedu atau diam terbujur kaku.
Sejujurnya, ia masih belum bisa mencerna seluruh fakta yang ada.
Semuanya terjadi secara bersamaan dan begitu tumpang tindih.
Kenapa harus sekarang?
Kenapa ia harus mengingat semua ini sekarang?
Kenapa ia harus mengingat lagi sosok itu?
Apa gunanya?
Ketika Kana tengah berdebat dengan rembang batin, sebuah ketukan terdengar pada pintu kamarnya.
Belinda tahu pasti bahwa anaknya tak akan langsung menjawab. Oleh karena itu, ia pun melenggang masuk sembari membawa nampan berisikan makanan.
Baru beberapa langkah tersemat di atas lantai, ia sudah dibuat cemas bukan kepalang.
Kamar ini masih dalam kondisi tertutup tanpa adanya sumber cahaya seperti hunian isolasi.
Anak bungsunya pun masih menyembunyikan diri di balik selimut.
Layaknya ditimpa oleh kilat deja vu, Belinda dengan otomatis menggeretakkan giginya kalut.
Rasanya seperti melihat Kana tiga tahun yang lalu.
"Na..."
Ia sebisa mungkin menyaring getaran pada suaranya,
"Mama bawain sarapan, dimakan ya."
Belinda melangkah menuju meja belajar Kana untuk menyimpan benda itu.
Namun kala ia mendapati makanan sisa kemarin sama sekali belum habis—bahkan terlihat tak tersentuh—dadanya pun untuk yang kesekian kali dibuat mencelos.
Ketakutannya sebagai seorang Ibu menjadi lebih besar sekarang.
"Sayang... Makanan hari ini dimakan ya. Jangan disisain."
Belinda tak ingin ucapannya terdengar seperti paksaan. Namun ia pun tak ingin Kana berakhir terbaring di rumah sakit.
Kana yang sedari tadi menyerap setiap derap, setiap bunyi, dan setiap kalimat yang Mamanya lontarkan pun seperti dilempari rasa bersalah yang bertubi-tubi.
Tanpa sengaja, ia sudah kembali menghidupkan mimpi buruk keluarganya.
Kana hampir relapse.
Tentu, semua ini terjadi diluar kendalinya.
Sebelumnya pun, ia sama sekali tak pernah berpikir akan kembali melakukan tabiat buruk ini.
Jika Kana terus menerus melanjutkannya, bisa-bisa ia kembali menyakiti dirinya dengan cara yang lain.
Tidak. Ia tidak mau.
KAMU SEDANG MEMBACA
Arkana dan Albara
General FictionSurat cinta untuk masa remaja, simfoni pahit dan manisnya cinta pertama, senandung kosong berdebu dari sebuah duka. . . . Arkana memutuskan untuk kembali melanjutkan hidupnya setelah sempat terjatuh ke jurang depresi. Rumah baru, sekolah baru, kota...
