seratus lima

58 8 0
                                        

Bara berjalan melewati lautan manusia yang berlalu lalang dengan berhati-hati. Masalahnya para siswa dan siswi SMA Kenanga itu tak melintasi koridor dengan tangan yang kosong. Kebanyakan dari mereka sibuk mengangkut properti untuk keperluan ekstrakulikuler masing-masing.

Hari ini adalah hari dimana pentas seni tengah dilaksanakan.
Setelah menghabiskan waktu selama seminggu dengan rasa penat oleh ulangan akhir semester, kini para murid pun sudah bisa melepas ambisi dan kekhawatiran masa depan walau hanya sejenak.

Beberapa hari sebelumnya, SMA Kenanga sudah menjalankan jadwal rutin porak. Bara tentu saja mengikuti perlombaan antar angkatan itu.
Dan beruntung, teman-teman sekelasnya terbilang cukup pandai dalam permainan bola kaki.
Sehingga hasilnya pun tak mengecewakan, mereka membawa pulang gelar juara dan bingkisan kecil untuk setiap anggotanya.

Mungkin alasan bagi para peserta untuk menang pun berbeda-beda. Ada yang memang hanya ingin mendapatkan hadiah dan ada pula yang hanya ingin memamerkan keahlian saja.

Tapi bagi Bara, sumbu penyemangatnya saat itu adalah Kana yang tetap setia menontonnya di setiap sesi perlombaan.

Walaupun Kana adalah seorang anggota Osis dan memiliki kesibukan yang padat karena tengah bertugas sebagai panitia, tetapi ia masih sempat memberikan Bara kata-kata seruan dari ujung lapangan.

Oleh karena itu, kini sudah sepatutnya Bara melakukan hal yang sama.

"Bar, si Padli sama si Asep udah ada di lapang, kan?"
Wildan bertanya di antara hilir mudiknya para murid untuk memastikan keberadaan teman mereka. Setengah karena kepedulian, setengah lagi karena kedua orang itu masih memiliki hutang kepadanya.
Beberapa menit yang lalu Wildan mendapatkan pesan dari Asep dan Padli untuk membelikan mereka tahu krispi dengan dalih 'sekalian aja mumpung lo lagi di kantin'.
Dasar pemalas.

"Iya, kali."
Bara sedari tadi sibuk memutar kepalanya kesana kemari.
Siapa tahu ia bisa menemukan keberadaan sosok yang tengah dicari.

Tetapi di antara para siswa yang kini tengah memakai pakaian tradisional untuk menari, pangsi untuk pencak silat, dan busana edgy untuk modern dance, ia sama sekali tak melihat Kana.

Biasanya, anggota teater selalu memakai atribut yang mencolok untuk setiap pertunjukan. Jadi tak mungkin Bara melewatkan tanda-tanda dari kehadiran mereka.

Terutama Kana, setebal apapun riasan atau properti yang dipakainya, pasti Bara masih bisa mengenali sosok itu.

Sepertinya para anggota teater masih belum keluar dari tempat persembunyian sampai waktu tampil tiba.

Setelah menemukan titik dimana Asep dan Padli duduk, Wildan dan Bara pun ikut menyusul menuju ujung lapangan.
Karena situasi tempat yang kini sudah penuh, mereka akhirnya terpaksa untuk bersantai di atas pijakan batu kecil yang digunakan sebagai alas.

"Woy, nanti akhir taun acara kita jadi kan? Kalau jadi, gue bakalan bilang nyokap buat gak ikut ke karawang."
Padli melahap pesanannya sembari melirik ketiga temannya itu.

Wildan mengangguk keras sebagai konfirmasi.
"Jadi lah gila, orang gue udah ngemodif motor juga. Rugi banget kalau malah wacana doang."

Asep menghela kecil, lalu menunjuk Bara yang masih menghadapkan pandangannya pada para partisipan pentas seni.
"Jadi kagak boss?"

Bara hanya mengangguk samar disertai dengan deheman.
"Iya. Semua alumni juga udah ngasih tau kalau mereka bersedia. Kata Nanang, nanti biar dia yang urus sama yang punya tempat."

Awal minggu dibulan desember, para tetua dari perkumpulan Blue Raven memberikan usulan untuk mengadakan lagi acara touring.
Karena kini situasi mereka sudah tak lagi terancam dari pengamatan kubu musuh, maka rutinitas yang memang biasanya mereka lakukan itu sudah bisa dilaksanakan kembali.
Destinasi yang mereka rencankan untuk kunjungi adalah puncak di Bogor.

Arkana dan AlbaraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang