delapan empat

77 10 1
                                        

Kana membaca naskah yang terselip diantara jemari tangannya dengan seksama. Mengamati baris demi baris kalimat yang tertera dan mencoba untuk menghayatinya.
Sesekali ia menyuarakan dialog itu untuk menelaah nada bicaranya.
Sama seperti dirinya, orang yang berada di sekitar Kana ikut pula mempraktekan adegan mereka masing-masing.

Casting untuk projek theater Renatevie akan segera dimulai. Pertunjukan yang masih dalam proses pengembangan ini akan ditampilkan dihari pentas seni.

Seperti tradisi, Renatevie selalu menggarap ulang pertunjukan mereka yang sempat diikut sertakan dalam lomba. Singkatnya, cerita yang pernah mereka bawakan dalam perlombaan akan mereka bawakan kembali dalam pentas seni di sekolah. Konsep, koreografi, dan properti yang sudah tersedia dapat mengurangi waktu mereka untuk bekerja dan mengeluarkan budget lebih. Ditambah, banyak pula murid dari SMA Kenanga yang belum pernah melihat pertunjukan ini, jadi tak ada salahnya untuk kembali dikenalkan.

Perbedaan yang mencolok, hanyalah pemainnya saja. Pemain yang sudah lulus SMA, jelas meninggalkan peran mereka untuk diisi oleh anggota baru. Biasanya, hanya anak-anak kelas 12 saja yang mendapatkan pemeran utama. Mengingat mereka sudah lebih berpengalaman.

Peran yang disediakan oleh para pengurus untuk audisi hanya ada lima. Hal ini sekedar bertujuan untuk melihat seberapa besar kemampuan setiap anggota saja. Mereka hanya perlu memilih peran mana yang sekiranya nyaman untuk dibawakan. Tentu, semua anggota tetap akan mendapatkan peran, walaupun mungkin hanya sebagai pemeran belakang.

Merasa dirinya kurang percaya diri, Kana memilih peran utama yang tak begitu signifikan. Dialog yang tengah ia baca pun hanya terhitung beberapa baris kalimat saja.

"Lan, lu mau audisi jadi siapa?"
Izal yang duduk di sebelah Wulan mulai mempertanyakan raut wajah perempuan itu—semakin lama dilihat, semakin terasa suram.

"Jadi ratu lah, siapa lagi?"

Jawaban santai dari Wulan hampir membuat para anggota lain terpekik kaget akibat dari suara tawa Izal yang menggelegar.

"Sialan lu! Kenapa ketawa?!"
Wulan memukul pundak laki-laki itu, merasa tak terima dengan responnya yang seolah merendahkan.

"Enggak-enggak, cuman muka lu kok gitu banget, padahal kan peran ratu disini baik hati."
Izal meremas perutnya yang masih terasa digelitiki.

"Gue lagi serius, ya! Makannya muka gue kek gitu. Emangnya lu mau jadi siapa, sih?!"

Pertanyaan yang terlontar secara perlahan membuat tawa Izal memudar. Dan reaksi itu membuat Wulan menukikkan alisnya dan mulai menebak-nebak.

"Jangan-jangan... Lo mau jadi raja lagi?!"

Izal hanya menjawab dengan keheningan.

"Tuh, kan! Lu aja ngambil peran yang ketinggian! Mana ada raja jalannya legeg kaya lo?!"

Izal merengut tak senang,
"Lo belum liat ya akting gue! awas aja lu nanti kalau terpesona!"

Wulan dengan cepat mengendikkan bahunya yang secara otomatis mulai meremang hebat.
"Najis!"

Kana tertawa kecil ketika mendengar perdebatan diantara dua temannya itu. Namun saat mengingat sesuatu, ia dengan spontan mengalihkan pandangannya dari atas naskah.

"Eh, tapi kalau kalian berdua lolos meranin raja sama ratu. Berarti kalian bakalan jadi pasangan, dong?"

Izal dan Wulan kompak membulatkan mata mereka, lalu menyelidik satu sama lain seolah begitu tersentak.

"ENGGAK!"
Wulan menggeleng-gelengkan kepalanya. Mencoba membuang gambaran menyeramkan yang baru saja terbentuk di dalam sana.

Ia dan Izal menjadi... Pasangan?!

Arkana dan AlbaraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang