seratus empat

112 13 3
                                        

Kana secara perlahan mulai membuka kedua kelopak matanya saat secercah sinar telah menemukan celah untuk masuk.
Ia mengeliat sesekali, menggaruk pipinya yang terasa sedikit gatal, lalu kembali membawa objek yang ada dihadapannya kedalam pelukan.

Mentari sudah tumbuh dan memancarkan hangatnya. Bahkan suhu itu bisa Kana rasakan hanya dari sebatas pantulan cahaya yang memasuki jendela dan membaluri kulitnya. Suara percakapan antar tetangga pun dengan samar-samar bisa ia dengar. Ya, sepertinya ini waktu yang tepat untuk bergegas dari atas ranjang.

Namun kala pandangannya secara berkala tak lagi mengabur, ia pun dibuat terkersiap.

Tunggu, ini bukan kamarnya.

Kana menjelajahkan netranya dari ujung ruangan ke ujung yang lain sembari mencerna secara pasti dimana keberadaannya saat ini.
Sebuah lemari kayu, nakas dengan lilin yang sudah meleleh, lalu...

Kana mengerjap.
Bara kini tengah terlelap di pelukannya.

Bahkan ia bisa merasakan hembusan nafas laki-laki itu di ceruk lehernya.

Degupan jantung dengan tempo yang tak bernada pun secara natural menjadi hal pertama yang melanda tubuh Kana. Wajahnya dibuat memerah dalam seketika. Ditambah, kini ia menyadari bahwa lengan Bara tengah melingkar dengan erat pada pinggangnya.

Ingin sekali Kana mengutuk dirinya sendiri, bagaimana bisa ia sampai lupa untuk pindah kemarin malam saat Bara sudah merasa lebih tenang?!

Bahkan terlebih lagi, Kana tak ingat bagaimana dirinya bisa sampai terbawa rasa kantuk dan ikut terlelap di atas ranjang ini. Bersama Bara.

Menyadari bahwa ia tak memiliki waktu yang banyak, Kana pun mengabaikan suara-suara di dalam pikirannya dan memutuskan untuk membenahi permasalahan ini terlebih dahulu.
Dengan perlahan, Kana memindahkan kepala Bara menuju  atas bantal.
Selimutnya pun ikut ia tarik untuk menutupi tubuh Bara secara keseluruhan.
Tanpa ingin membuat kegaduhan dan membangunkan sang pemilik kamar, Kana pun dengan mengendap-endap turun dari atas ranjang.

Keinginan untuk mencerca diri sendiri masih belum hengkang. Rasa malu betubi-tubi menyerangnya, sehingga pompaan jantung pun belum juga mereda.

Hatinya memohon-mohon, semoga saja Bara tak mengetahui kebodohan ini.
Mau ditaruh dimana wajahnya nanti?

Ingin memastikan bahwa sosok itu masih tetap terlelap, Kana pun dengan berhati-hati menolehkan kepalanya menuju titik dimana Bara berada.

Keheningan sempat mengisi kamar itu untuk segelintir waktu, sebelum Kana akhirnya melenguh gusar.
Rasa lega tetap tak bisa ia temukan, bahkan setelah mendapati Bara yang masih tertidur pulas.

Justru hatinya kini membaur lelah, Kana kembali mengingat setiap bait kisah yang kemarin Bara ceritakan.

Ia masih tak terima bahwa Bara harus mengalami semua itu dengan sangat kebal. Namun kini, ia bisa melihat sendiri bagaimana Bara nampak lebih damai dalam rehat jelaganya.
Seolah-olah, ia telah menumpahkan seluruh emosi yang dibendungnya selama ini.

Kana menarik bibirnya tipis, lalu kembali mendekati sosok itu.
Ia mensejajarkan tubuhnya agar berhadapan dengan sosok yang tengah demam, lalu menaruh punggung tangannya di atas permukaan kening Bara.

Rasa syukur ia panjatkan, ketika suhu hangat tak lagi menyelimuti kulit itu.
Obat yang kemarin diberikannya ternyata bekerja dengan baik.
Tangan Kana yang sebelumnya terdiam pun, kini secara perlahan beralih menuju helaian rambut hitam milik Bara dan membelainya pelan.

Pasti energinya sudah terkuras karena menangis semalaman, lebih baik Kana membuatkannya sarapan pagi ini.

Mungkin salah satu menu yang tertulis di dalam buku resep peninggalan Ibunya itu, bisa membuat perasaan Bara menjadi lebih baik.

Arkana dan AlbaraCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang