Bara memaksakan langkah kakinya untuk terus berjalan menyusuri bangsal rumah sakit itu. Sesekali ia menunduk sopan kala ada beberapa pasien yang menyapanya. Walaupun jika boleh jujur, ia masih belum memiliki tenaga untuk bertegur sapa dengan orang lain.
Mungkin sudah lebih dari tiga bulan, Bara dengan rutin mengunjungi tempat ini untuk menemani Ibunya berobat. Sesekali Alma diperbolehkan untuk pulang, tetapi di lain hari Ibunya diharuskan untuk menginap.
Seperti beberapa hari yang lalu, Alma masih harus diperiksa dan diawasi lebih lama. Jadi kali ini, Bara—yang masih mengenakan seragamnya—harus kembali mengunjungi rumah sakit.
Ketika sebuah pintu dengan papan bertuliskan nomor yang sudah tak asing lagi baginya telah berada dihadapan mata, Bara pun menyempatkan diri untuk mengatur nafasnya.
Sebenarnya, ia masih merasa sesak setiap kali harus melihat Alma dengan pakaian yang biasanya seorang pasien kenakan.
Hatinya masih dibuat pedih setiap kali harus mengingat apa yang tengah Ibunya alami sekarang.
Namun bagaimana pun, Bara tak ingin menularkan rasa sendunya kepada sang Ibu.
Sudah cukup sosok itu mendapatkan cobaan yang bertubi-tubi, ia tak ingin membuat Alma semakin terpuruk karena kesedihannya.
Setelah mengumpulkan keberanian, Bara pun membuka penghalang berwarna putih itu dan berjalan memasuki ruangan.
Dari pengamatannya, pasien-pasien yang juga menetap di kamar ini sedang tak ada ditempat.
Lalu senandung irama pun mulai terdengar, ketika Bara sudah sampai di ujung ruangan.
"Melukis harapan di angkasa~
Bertabur bintang~
Terjaga dari mimpi yang panjang~
Lelah menyiksa~"
Alma mengarahkan tubuhnya kepada jendela yang tengah menunjukkan langit berkabut. Angin semilir yang menendang, diiringi pula oleh deburan dedaunan yang berterbangan. Kedua mata jernih itu tak lekang berhenti meratapi pemandangan di luar sana, sampai ia tak menyadari kehadiran Bara yang baru datang.
Namun kala netranya sudah mulai terfokus kepada bayangan yang tercetak dari dalam kaca itu, Alma pun menolehkan kepalanya secara perlahan.
Senyuman ikut pula ia kembangkan pada bibirnya yang kini berwarna pucat.
"Bay, kamu udah sampe ternyata. Gak kehujanan, kan?"
Bara masih berdiri di tempat asalnya. Ia berusaha menetralkan rautnya yang hampir saja berubah kembali menjadi keruh.
"Enggak kok, Bu. Belum hujan dari tadi."
Alma mengangguk paham, lalu ia menepuk bagian kosong di sebelahnya. Memberikan isyarat bagi Bara untuk ikut duduk di sana.
Bara meneguk ludahnya, ia takut jika Alma bisa melihat kondisi hatinya yang tak baik-baik saja.
Namun pada akhirnya, ia tetap menuruti perintah itu dan ikut duduk berdampingan dengan Alma.
"Gimana Bu kata dokter? Ibu udah boleh pulang?"
Alma menarik bibirnya simpul, lalu mengangguk pelan.
"Udah boleh, kok. Nanti sore Ibu beres-beres."
Walaupun ada helaan dari Bara, namun batinnya tentu masih belum benar-benar lega.
Tapi yasudah, setidaknya Alma tidak lagi menghabiskan malam ini di rumah sakit.
"Bay, kamu kan bentar lagi ujian kenaikan. Emangnya gak ada kesibukan di sekolah, sampe kamu setiap hari bisa nemenin Ibu?"
Alma sangatlah dibuat tak tenang hati setiap kali ia mendapati Bara yang semakin jarang berpergian. Ia sudah berkata, bahwa dirinya masih bisa menjaga diri. Tetapi anaknya itu masih tetap saja bersitegas untuk mengawasinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Arkana dan Albara
RomantikSurat cinta untuk masa remaja, simfoni pahit dan manisnya cinta pertama, senandung kosong berdebu dari sebuah duka. . . . Arkana memutuskan untuk kembali melanjutkan hidupnya setelah sempat terjatuh ke jurang depresi. Rumah baru, sekolah baru, kota...
