Bara merasa sebuah topan kencang yang datang entah darimana baru saja menghantamnya. Setelah panggilan itu terputus, seluruh energi di tubuhnya serasa menghilang dengan begitu saja. Berita ini rasanya seperti mimpi, rasanya sangat tidak mungkin.
Baru saja kemarin malam ia bercengkrama dengan Shendik, tetapi kini... Nyawa laki-laki itu sudah tak ada lagi di bumi.
Bagaimana bisa?
Setelah menjumpai angkutan umum dengan jurusan destinasinya, Bara pun hanya bisa mengetuk-ngetukkan kakinya gundah dan berharap bahwa semua ini hanyalah lelucon belaka.
Bahkan saat ia sudah hampir sampai di rumah sang terduga, Bara masih memiliki kepercayaan bahwa ini semua hanyalah bualan semata.
Namun kala samar-samar sebuah raungan memasuki gendang telinga. Saat itulah hati Bara yang masih retak dibuat kembali patah.
Semuanya nyata, ini semua terasa sama.
Sama seperti saat ia kehilangan Ibunya.
Bara melangkah memasuki wilayah rumah itu yang sudah dipenuhi oleh anggota Blue Raven yang lainnya. Mereka semua membilur sendu sembari menutupi isakkan yang tak ada hentinya mengalun.
Di dalam rumah, ia melihat Nanang yang tengah terduduk dengan pilu. Tangisan laki-laki itu ikut menggema pada suasana kelabu.
Untuk yang kedua kalinya, Nanang kembali dibuat berduka.
Namun yang paling menyakitkan adalah pemandangan di tengah ruangan. Sheila meringkuk sembari memeluk tubuh Shendik yang mulai membeku. Pakaiannya yang selalu urakan, kini berganti dengan kain putih semu.
Ia berteriak parau dari ujung tenggorokan, sampai suaranya berubah menjadi serak.
Sheila baru saja kehilangan sebagian dari dirinya.
Seperti Bara dahulu, saat ia baru saja kehilangan Ibunya.
Nafas Bara kembali dibuat tersenggal. Rasanya ia seperti kembali pada hari itu. Dadanya mulai terasa sesak. Bagaimana bisa kematian membawa seseorang tanpa peringatan?
Bara hampir saja terjatuh dengan pikiran yang kalap, namun suatu pemandangan membuatnya mematung dan tak bergerak.
Orang-orang disekitarnya, mereka semua mengeluarkan kesedihan yang begitu mendalam. Wajah-wajah yang terkenal seram, kini dibuat ketakutan akan kehilangan.
Mereka merasakan apa yang dahulu Bara rasakan. Bagaimana duka memangsa habis jiwanya sampai buta.
Namun kali ini, mereka semua tak sendirian.
Mereka memiliki satu sama lain.
Bara mengatur pernapasannya sembari berusaha untuk memendam emosi.
Hanya ia yang berpengalaman dalam rasa duka. Hanya ia yang bisa membantu mereka untuk bertahan. Bahkan Nanang yang nampaknya sudah kuat pun, kini dibuat kembali hancur tak berdaya.
Hanya Bara yang bisa membantu.
Ini caranya untuk membuat mendiang Shendik tenang di alam yang baru.
Dari hari itu sampai hari pemakaman. Bara memutuskan untuk menginap dan membantu seluruh perlengkapan yang dibutuhkan. Walaupun orang tua Shendik ada disana, nyatanya mereka masih membutuhkan tenaga orang luar. Sementara Sheila masih mengurung diri di kamar, ia masih belum sanggup menghadapi kenyataan.
Ketika para tamu silih berdatangan, Bara berusaha untuk menyajikan tempat dan jamuan agar mereka bisa mendoakan Shendik dengan lebih khidmat. Bara pula lah yang menjadi pihak dari keluarga untuk mengkordinasikan kapan acara pemakaman itu hendak dilaksanakan.
Saat itu, rasanya umur Bara bertambah puluhan tahun.
Tak akan ada yang mengira bahwa ia hanyalah anak SMP yang bahkan belum lulus.
Bara menghadapi rasa duka seperti seorang sarjana.
Seolah-olah ia sudah sangat berpengalaman.
Ketika Bara sedang tak memiliki kesibukan, ia pun memutuskan untuk mengambil rehat dan berjalan ke depan teras.
Namun kala ia tiba disana, matanya sudah terlebih dahulu menangkap sosok tak asing di ujung taman.
KAMU SEDANG MEMBACA
Arkana dan Albara
RomansaSurat cinta untuk masa remaja, simfoni pahit dan manisnya cinta pertama, senandung kosong berdebu dari sebuah duka. . . . Arkana memutuskan untuk kembali melanjutkan hidupnya setelah sempat terjatuh ke jurang depresi. Rumah baru, sekolah baru, kota...
