tujuh tujuh

128 10 0
                                        

Kana memandangi pemandangan ibu kota dengan tatapan yang sunyi. Angin sepoi-sepoi menerpa kulitnya yang tengah terduduk di atas jok penumpang motor.
Sesekali ia melontarkan pertanyaan kepada Bara, tetapi selebihnya ia memilih untuk diam.
Ia tahu, pasti Bara membutuhkan waktu untuk bercengkrama dengan dirinya sendiri sekarang.

Di hari minggu dalam bulan september ini, langit terlihat sudah terbagi menjadi dua rasa. Terkadang ia memancarkan cahayanya, terkadang awan menutupi ronanya.
Suasana yang cukup selaras dengan kegiatan yang akan mereka lakukan.

Setelah mendapatkan bukti, Bara dengan segera memberikan format video itu kepada teman-temannya.
Para anggota Blue Raven pun kompak saling berdiskusi panjang lebar.
Sampai akhirnya, Nanang menunjuk diri untuk menjadi juru penghubung antar dua kubu.

Karena tak memiliki satupun nomor telfon dari para anggota di ujung sana, Nanang memilih via DM instagram sebagai pengantar kabar.

'Gue punya bukti kalau Ello bukan orang yang ngehajar temen lo.'

Awalnya ia berpikir, pesannya akan tenggelam dan tak terbaca sama sekali.
Mengingat bahwa ia dan Gery tidak saling mengikuti satu sama lain.
Tetapi setelah satu hari menunggu, tiba-tiba ponselnya berdenting bertanda ada notifikasi yang masuk.

'Bukti?'

Nanang meratapi para persegi huruf di dalam ponselnya, lalu ia pun kembali menekan-nekan benda pipih itu.

'Iya. Video.'

Tak ada balasan pesan apapun dari mereka selama berjam-jam. Nanang mulai berpikir bahwa kemungkinan orang-orang itu sedang berunding atau semacamnya. Tetapi kemungkinan juga, mereka tak mengindahkan ucapannya dan menganggap itu hanya sebagai kebohongan belaka.

Namun saat sore datang, ia mendapatkan pesan untuk yang terakhir kalinya.

'Tunjukkin langsung sama kita. Hari minggu jam sebelas. Basecamp SS.
Tapi dengan satu syarat, ajak Kana sama kalian.
Kalau dia gak ikut, artinya gak ada kesepakatan.
Terserah lo semua mau atau enggak."

Bara mengendarai kendaraannya dengan laju yang sedang. Saat ini tujuan utamanya adalah parkiran dekat toko pernak-pernik yang malam itu pernah didatangi Kana. Ia dan teman-temannya yang lain sudah membuat janji untuk berkumpul di sana terlebih dahulu sebelum menghadang menuju basecamp Street Snake.

Bara tak tahu bagaimana rencana ini akan berjalan. Sebenarnya ia pun memendam kecurigaan bahwa orang-orang itu akan langsung berhamburan dengan senjata satu detik setelah mereka sampai di sana. Hanya pemikiran saja, ia harus tetap waspada.

Tetapi bagaimana pun, ia tak boleh berburuk sangka.

Setidaknya, itu yang Kana katakan.

Ya, Kana.

Bara membuang nafasnya gusar.

Saat mendengar bahwa mereka mengajukan syarat untuk membawa Kana, Bara dengan lantang berkata tak setuju. Ia berusaha menawarkan permintaan lain kepada mereka, apapun itu, asalkan jangan menyertakan Kana yang tak bersangkutan. Ditemani oleh Kana saat mencari bukti pun sudah cukup membuatnya gelisah tak karuan, apalagi jikalau Bara harus kembali mempertemukannya dengan mereka.

Namun saat Nanang mengirimkan pesan untuk bernegosiasi, mereka malah bersikap acuh dan tak menghiraukan.

Ia awalnya memiliki prasangka yang sangat buruk kepada orang-orang itu. Sudah jelas ada arti terselebung, mengapa mereka begitu bersikeras meminta Kana untuk ikut.

Arkana dan AlbaraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang