27. Tegar Ola

6.1K 1K 112
                                        

satu satu ya... ada kesibukan yang nggak bisa dihindari...

Maaf dan thank you...

_________

Wak Tima menggelengkan kepalanya saat Syarif, Pak RT, mengatakan kepadanya bahwa Ola tidak ingin keluarga besannya tahu tentang penangkapan dirinya. Dia juga tidak ingin anak-anaknya mengetahui bahwa dirinya sedang ditahan di kantor polisi. Wak Tima mengurut dadanya memikirkan nasib sahabatnya itu.

"Dia takut besannya malu, Tima. Punya besan napi. Dia juga nggak mau anak-anaknya malu. Dia cuma pesan jika seandainya ada yang nyariin dia, bilang saja dia sedang mencari tau keluarganya di Surabaya. Begitu..."

"Ya, mana bisa gitu, Pak RT. Mereka harus tau. Ini Ola pagimane si. Cepat atau lambat pasti mereka tau,"

"Katanya kecuali kalo terlanjur tau..., gitu."

Tidak puas mendengar keinginan Ola, akhirnya Wak Tima menjenguk Ola hari itu juga. Dia serahkan urusan laundry ke menantunya. Ada juga Pak RT yang ikut menemaninya.

"Lu tuh baek apa tolol si, Olaaa. Anak mantu lu musti tau. Lu mau sisa umur lu di sini?"

"Duh, Wak. Aku nggak mau mereka malu. Aku yo kepingin tenang. Wak bayangin. Kalo anak-anakku tau aku ada di sini, mereka pasti malu. Malu punya ibu napi. Apalagi aku juga nggak bisa mengelak dari kesalahan yang aku buat, akibat kebodohanku. Mau nggak ngaku, aku yo nggak bisa. Toh aku nggak punya bukti. Semua mereka punya, Wak."

"Ola..." Wak Tima tidak mampu berbicara apa-apa lagi. Ditatapnya Ola lamat-lamat. Dia akhirnya mengerti posisi Ola dan apa yang Ola pikirkan.

"La kalo mereka tanya, lu bilang aja kalo semua ini ulah keluarga laki lu."

"Nggak segampang itu, Wak. Aku benar-benar nggak kepengen mereka malu karena aku..., yang bodoh. Lagipula aku juga nggak bisa sembarangan nuduh kalo yang melaporkan aku keluarganya Mas Yusuf."

Wak Tima menghela napas sembari menatap Ola cukup lama.

"Gua cari pengacara buat lu, kalo begitu."

"Nggak usah, Wak Tima. Habis duit Wak Tima."

"Jadi lu pasrah aja?"

Ola mengangguk.

"Berapa lama, La?"

"Kalo kasus pemalsuan kata pak polisi tadi paling lama itu enam tahun. Kalo yang selingkuhan itu sembilan bulan, Wak..."

Wak Tima meraih tangan Ola dan menggenggamnya erat. Dia tidak menyangka Ola begitu tenang. Ola memang perempuan yang kuat hatinya.

"Lu kuat, La..." lirih Wak Tima.

Ola tersenyum. "Tapi aku bodoh," balas Ola sedih.

____

Karena masih tahap peyidikan, Ola menginap di kantor polisi. Sudah dua malam ini dia menginap di sana. Para petugas menyukai sikap Ola yang ramah juga menjawab pertanyaan penyidik dengan sangat sopan. Hingga mereka menyebut Ola sebagai pelaku kriminal terbaik dan tersopan. Ola diam saja dengan gelar yang mereka beri, dia tidak tahu apakah itu pujian atau sebaliknya, sebuah sindiran. Ola berusaha melakukan yang terbaik demi kelancaran proses penyidikan, dan sepertinya para petugas puas dengan sikap Ola.

Ada seorang polwan yang sedikit curiga dengan kasus Ola. Ola memang mengakui bahwa dia menandatangani surat-surat yang yang tidak sesuai dengan fakta. Dia mengaku menandatanganinya secara sadar dan tidak di bawah tekanan siapapun. Ola menjelaskan bahwa tujuannya membuat surat tersebut tidak lain adalah ingin melunasi hutang-hutang atas nama suaminya.

A Love StoryCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang