Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Keluarga besar Akhyar merupakan keturunan Arab yang sudah turun temurun tinggal di tanah Jawa. Sudah menjadi tradisi mereka menjalankan proses ijab kabul pernikahan dengan semi adat Jawa, terutama terlihat dari kostum yang dipakai pasangan pengantin. Mereka sekeluarga juga berpakaian serba hitam dipadu warna keemasan. Bukan karena berkabung, tapi ada makna yang tersirat dari warna tersebut yang menurut kepercayaan masyarakat Jawa melambangkan kebijaksaan dan kesempurnaan.
Akhyar sudah gagah. Dia tampak sangat percaya diri. Apalagi saat Guntur menghampiri dirinya dan memberi aba-aba untuk bersiap-siap ke luar dari kamar. Guntur berkata dengan sedikit lantang, "Siap-siap, Pak Akhyar. Saya juga sudah siap jadi menantu Bapak..." ujarnya santai sambil menahan senyum.
Farid tak kuasa menahan tawa. Kata Nayra, Guntur sudah banyak berubah semenjak mendapat kabar mengenai kehamilan Ayu. Dia lebih santai dan humoris. Bahkan lebih banyak menyisihkan waktu senggangnya bersama Bagas.
"Biar relaks, Farid," bisik Guntur. Dan Akhyar tersenyum simpul mendengar kata-kata Guntur. Meski terdengar seperti candaan, tapi kata-kata itu justru memantapkan langkahnya ke luar menuju meja akad nikah yang sudah dikelilingi para saksi pernikahan.
Semua tamu laki-laki yang hadir terperangah melihat Akhyar yang muncul dari dalam kamar riasnya. Dia didampingi dua pamannya, Muaz dan Haidar. Ada Farid, Niko dan Guntur yang ikut mengantarnya menuju meja akad nikah.
Entah kenapa perasaan Akhyar begitu tenang saat duduk di hadapan wali hakim dan para saksi. Mungkin karena dikelilingi orang-orang terdekatnya yang sudah memahami kepribadian serta kehidupannya. Benar kata Ola, akad nikah yang hanya dihadiri kerabat terdekat sepertinya sangat menenangkan juga terasa lebih hikmad. Penuh dukungan.
_____
Sementara itu di kamar rias Ola
Ola pun sudah cantik dengan pakaian serta riasan paes di wajahnya. Ola bagai sang putri yang siap dinikahi pria pujaan hati.
Nayra dan Sabine duduk di sisi Ola. Mereka genggam tangan Ola yang dingin. Ketegangan terlihat jelas di wajah-wajah mereka. Apalagi saat terdengar shalawat, doa dan ampunan yang terlantun jelas dan hikmad dari ruang depan. Ola terlihat berkali-kali menahan napas, seperti tidak sabar momen ini segera berlalu.
Beberapa saat kemudian barulah terdengar suara orang-orang setengah bersorak mengucapkan Barakallah berkali-kali. Juga sayup-sayup isak tangis.
Ola menghela lega. Tak sadar, air matanya jatuh begitu saja. Dia sudah tidak janda lagi.
"Ayo, Mbak Ola. Nayra, Sabine. Yuk ke luar..." seru Nayura dari balik pintu. Mantan kekasih Akhyar itu langsung memburu Ola dan ikut membimbingnya ke luar dari kamar rias. Dia gamit lengan Nayra yang menggandeng ibunya.
Nayra kagum dengan suasana pernikahan ibunya. Semua orang tahu Nayura yang Papa sambungnya pernah punya kisah cinta lama. Akan tetapi mereka akhirnya memilih jalan masing-masing yang terbaik menurut mereka. Lebih mengesankan lagi, mereka memutuskan untuk kembali mengeratkan hubungan kekeluargaan yang selama ini sempat terputus, Nayura yang masih kesal dengan Akhyar dan Akhyar yang masih belum mampu memaafkan dirinya.
Dengan adanya pernikahan ini, semua terasa semakin dekat lagi akrab. Maklum, suami Nayura adalah adik Rema yang tidak lain merupakan besan Nayra. Sementara Akhyar juga merupakan kerabat keluarga Rema, adiknya menikah dengan anak sulung Rema. Kini, dia menikahi Ola, ibu Nayra.
"Jangan sedih, Nayra. Papa kamu itu sangat baik. Ibumu pasti bahagia dengannya. Pegang kata-kataku..." bisik Nayura ke telingan Nayra. Nayra menoleh ke Nayura yang tersenyum hangat kepada dirinya.
Nayra pun takjub dengan sikap Nayura. Nayura seakan tahu apa yang Nayra rasakan saat harus melepas ibunya duduk di sisi Akhyar. Kata-kata Nayura benar-benar menenangkannya.
_____
Akhyar terkejut bukan main melihat penampilan Ola. Ola cantik sekali. Matanya mengerjap tak percaya melihat tubuh Ola yang berbalut pakaian adat Jawa. Rancangan Gema memang tidak ada duanya, Gema berhasil merancang pakaian yang sangat pas di tubuh molek Ola, tubuh yang tidak lama lagi akan dia miliki dan nikmati malam ini juga.
Begitu juga dengan Ola, dia tidak dapat menahan rasa kagum melihat tubuh tinggi sempurna Akhyar yang berdiri menyambutnya. Akhyar sangat tampan dengan gaya rambut barunya, juga gagah dengan jas beludrunya. Ola atur deru napasnya yang sekejap memburu, membayangkan malam ini akan tidur bersama pria yang sangat dia cinta, yang juga akan selalu menemaninya di sisa umurnya.
Di salah satu sudut ruangan besar yang dihiasi lampu berkilau, Bu Hanin menepuk-nepuk pundak menantunya lembut seraya mendekapnya. Dia tampak menenangkan Nayra yang tidak sanggup menahan tangis. Sedih membayangkan ibunya yang akan berjauhan darinya.
"Ibumu berhak bahagia, Nayra. Dia lahir dan hanya dua tahun mendapatkan kasih sayang orang tua. Dia gadis yatim piatu. Besar dan tumbuh sempurna di panti asuhan. Dan Bapakmu yang memberinya kesempurnaan hidup. Tapi dia pergi jauh dan tidak mungkin kembali. Sungguh malang nasib ibumu. Doakan terus kebahagiaan ibumu, Nayra. Dia sudah mendapatkan pria yang sungguh-sungguh mencintainya dengan segenap jiwa raganya. Akhyar pasti jadi papamu yang sangat baik hati. Ibu yakin itu..."
Bukan Nayra saja yang menangisi pernikahan ibunya dan Akhyar. Hampir seluruh kerabat menangis haru. Terutama saat mereka harus melepas kepergian Akhyar bersama Ola dengan mobil sedan mewahnya, yang diiringi dua mobil pengawal. Akhyar dan Ola sepakat untuk menghabiskan awal-awal pernikahan mereka di apartemen mewah Akhyar yang berlokasi di daerah kawasan elit Sudirman.
Yang lebih menyedihkan, Gloria dan Grace ikut menangisi kepergian kakek mereka, yang akhir-akhir ini hampir tiap hari menemani mereka.
"Sudah. Jangan nangis. Nanti Njid datang lagi. Kayak pergi ke mana aja..." rutuk Sabine ke kedua anaknya sambil menyeka air matanya. Dia sendiri pun ikut menangis.