111. Bahagia Selita

6.6K 817 17
                                        

Suasana makan siang hari itu di rumah Niko sangat menyenangkan. Selita dan Mark akhirnya memenuhi janji kembali ke rumah Sabine. Kehadiran mereka sangat membahagiakan keluarga Sabine, juga Akhyar dan Ola tentunya. Apalagi Selita berapi-api bercerita tentang apa yang sudah dia lewati sedari semalam. Dia tidak saja menceritakan tentang dirinya yang langsung melabrak Akhyar, tapi juga proses keberangkatannya dari Melbourne ke Jakarta yang banyak mengalami hambatan. Pesawat yang dia tumpangi mengalami delay dua jam, juga Mark yang tiba-tiba pusing karena terlambat makan. Tapi perjuangan Selita mempertahankan 'namanya' membuahkan hasil maksimal. Dia puas bisa bertemu dan melabrak orang yang mengganggu pikiran Sabine, anak yang sekarang sangat dia sayang.

Sabine ikut senyum-senyum mendengar cerita mamanya. Dia membayangkan mamanya memukul wajah papanya yang menuduh mamanya yang menghasud dirinya untuk segera mempertanyakan harta warisannya. 

"Maaf, Pa..." ucap Sabine yang duduk di samping papanya. Dia amati wajah bengap papanya dari samping. Akhyar menoleh ke arahnya.

"Nggak papa, Sayang..." ujar Akhyar berbisik. Dia usap-usap kepala Sabine dengan penuh rasa sayang.

Tampak Selita dan Mark lahap menyantap makan siang saat itu. Maklum, sejak menginjak Jakarta semalam, tidak ada satupun makanan yang masuk kedalam perut keduanya. Hanya air hangat yang diberikan Ola serta rokok yang mereka habiskan beberapa batang.

Sabine senang sekali melihat mamanya yang sifatnya berubah jauh lebih baik. Dia ingat dulu ketika masih kecil, mamanya kerap terlihat ingin menjauh darinya. Tatapan mamanya selalu menunjukkan rasa penyesalan dan tidak suka. Bukan tatapan kebencian, tapi tatapan yang seakan-akan menginginkannya pergi sejauh mungkin. Sekarang tatapan itu tidak ada lagi, tatapan Selita berubah hangat, malah seakan-akan ingin selalu berdekatan dengannya.

"Masakanmu enak sekali, Sabine. Ini makanan yang paling enak dalam hidup Mama..." puji Selita setelah membersihkan mulutnya dengan serbet.

"Mark aja yang biasanya nggak suka makanan pedas, ini malah nambah-nambah..." lanjutnya sambil memukul pundak Mark yang masih menikmati sup tahu.

"Makanya, Selita. Seharusnya jangan pergi dulu dari Jakarta. Puas-puasin makan masakan Sabine," sela Ola. Dia juga sebelumnya juga makan dengan lahap. Seperti sebelumnya, Grace dan Gloria duduk di sisinya. Entah kenapa si kembar terlihat lebih nyaman berada di dekat eyangnya daripada di dekat neneknya.

"Duh, Ola. Kangenku sama Solo udah nggak bisa ditahan-tahan lagi. Mungkin sudah belasan tahun aku nggak pulang ke sana. Papaku masih ada di sana. Oiya, kalo ada waktu senggang, singgah ke Solo. Sekitar satu tahun lagi, aku rencana tinggal di Solo. Ya kan, Mark?"

Mark mengangguk. Dia mengiyakan setiap kata istrinya walaupun dia sendiri tidak memahaminya.

Ola menghela napas pasrah. Selita akan berangkat ke Solo siang ini juga.

______

Setelah makan siang, Selita menghabiskan waktu bersama Sabine, Ola dan kedua cucunya. Selita ingin memanfaatkan waktu sedikitnya bersama mereka.

Selita tersenyum menggeleng melihat cucu kembarnya yang enggan duduk di dekatnya.

"Kenapa nggak mau duduk sama Nenek?" tanya Selita. Dia senyum-senyum melihat mereka berdua yang terlihat berebut berdekatan dengan Ola. Ola sebelumnya sudah menyuruh mereka untuk dekat-dekat neneknya, tetap saja keduanya menggeleng tak mau. Padahal kata Sabine, keduanya tidak biasanya begitu, selalu pandai menjaga perasaan orang lain.

"Hm..., nenek kurus..., kayak Mama..." jawab Gloria malu-malu. Selita tak mampu menahan tawanya. Apalagi dilihatnya tangan Gloria mengusap-usap perut buncit Ola. Sabine juga ikut tertawa mendengar jawaban polos anaknya.

A Love StoryCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang