"Aku cemburu," ulang Ola. "Dan aku nggak suka itu. Aku nggak pernah merasakannya. Baru tadi saja ketika Mas salah sebut nama..., aku merasakannya dan aku nggak menyukainya. Tapi saat aku menyadari bahwa aku hanya teman dekat Mas, perasaan cemburu itu hanya sekilas saja muncul. Makanya aku merasa lebih baik kita berteman dekat saja..."
Akhyar kini menempelkan tangan Ola ke pipinya.
"Aku cinta kamu, Ola. Dengan segenap hati ini," Akhyar berusaha meyakinkan Ola.
"Kita coba. Aku tau kamu nggak bisa lupain Yusuf. Dan kamu tau aku belum bisa melupakan Nayura sepenuhnya. Posisi kita sama sebenarnya. Tapi setidaknya jalan hati dan pikiranku sudah sampai di titik bahwa aku mencintai kamu dan sudah bisa bertahap melupakan masa laluku, termasuk Nayura. Kalo kita sama-sama mencoba, aku akan bahagia dan kamu juga bahagia."
Ola masih dengan diamnya dan tatapan kosongnya.
"Aku minta maaf, karena salah sebut nama anakmu hingga membuat kamu cemburu. Yakinlah, Ola. Kalo kita saling ucap sayang, saling ucap cinta, saling ucap rindu, cemburu akan berubah jadi sesuatu yang menyenangkan. Cemburumu membuat aku sangat yakin bahwa kamu sebenarnya juga mencintaiku."
Ola benar-benar terhenyak. Akhyar menang kali ini.
"Mau, ya?" bujuk Akhyar sambil mengusap-usap punggung tangan Ola.
"Nggak repot untuk jadi pacarku. Cukup bilang sayang atau cinta, bilang rindu. Aku sudah sangat merasa tersanjung dengan kata-kata itu. Aku akan beri kamu segenap hati ini," rayu Akhyar.
Ola perlahan meletakkan tangan lainnya ke atas punggung tangan Akhyar. Namun dia masih saja diam.
"Bilang cinta, Ola..." desak Akhyar dengan tatapan lembutnya. Suaranya terdengar sangat merdu.
Ola tampak ragu mengucapkannya. Entah kenapa tangannya terasa bergetar dengan sendirinya.
Dengan cepat Akhyar menarik tangannya dan menangkup kedua tangan Ola dengan dua tangan besarnya, mencoba memberi kekuatan agar Ola bisa mengungkapkan perasaannya dengan tenang.
"Aku cinta..." ucap Ola dengan suara bergetar.
Akhyar masih menunggu kelanjutannya.
"Aku cinta kamu, Mas Akhyar..."
Akhyar tersenyum lebar. Kemudian tertawa lepas. Dia eratkan genggamannya. Akhyar tampak sangat bahagia. Ini kali kedua dia mendengar ungkapan balasan cinta seumur hidupnya. Pertama Nayura, perempuan belasan tahun yang lugu, kini Febyola, seorang perempuan setengah baya yang bersahaja. Rasanya sangat beda. Jika sebelumnya ada rasa cemas dan gelisah yang menderanya karena dia menyadari bahwa keluarga Nayura tidak merestui hubungannya, sekarang cemas itu tidak dirasakannya karena yakin bahwa keluarga Ola akan menyetujui hubungannya.
"Aku juga cinta kamu, Ola," balas Akhyar. Suaranya terdengar sangat ringan.
Akhyar melepas genggaman tangannya dan membuang napas lega.
"Ken. Tolong berhenti sebentar," ujar Akhyar ke Keni, sang supir sekaligus ajudannya. Keni langsung memelankan laju kendaraan dan mencari tempat parkir yang pas.
Sementara itu Ola memasang wajah penuh tanya.
Tak lama, mobil pun perhenti di sisi jalan.
Kemudian, Keni yang seperti memahami sinyal dari Akhyar, meraih sebuah kotak kecil dari bangku depan di sampingnya dan menyerahkan benda itu ke Akhyar. Akhyar meraihnya. Sikap Akhyar sangat membuat Ola bingung.
"Ola. Ini buat kamu..." ujar Akhyar sambil menunjukkan sebuah kotak ke hadapan Ola dan membukanya. Ada sebuah cincin bermata berlian di dalamnya.
Ola yang kini sudah tenang karena sudah mengungkapkan perasaannya tersenyum menggeleng. Dia pegang kotak itu dan mengamatinya cukup lama. Tapi kemudian, dia serahkan kembali ke tangan Akhyar.
