Bu Hanin tidak kuasa menahan tangisnya saat berjumpa besannya di tahanan. Meski Ola terlihat bugar dan lebih tegap, Bu Hanin sangat tahu bahwa batin Ola sebenarnya sangat menderita. Apalagi setelah Anggiat bercerita panjang lebar mengenai kehidupan Ola dari kecil yang sudah ditinggal pergi selama-lamanya oleh keduaorangtuanya, hidup lama di panti asuhan, tidak diinginkan kehadirannya di keluarga besarnya, hingga akhirnya mendapat pekerjaan serta menikah. Belum sampai di situ penderitaan Ola, saat menikah pun dia juga mendapat perlakuan yang tidak adil oleh keluarga suaminya. Ola selalu dijauhi.
"Keluarga Yusuf ini sebenarnya kecewa dengan Yusuf. Awalnya Yusuf ini hendak dijodohkan oleh putri seorang konglomerat. Sang putri sudah mau dijodohkan, tapi Yusufnya nggak mau. Keluarga besar Yusuf sangat berharap. Jika Yusuf menikah dengan putri kaya raya ini, Yusuf bisa menaikkan ekonomi keluarganya. Tapi, Yusuf malah bertemu dan menikah dengan Febyola, yang keadaannya sangat jauh dari kategori yang dikehendaki keluarga Yusuf. Kecewa pastinya. Hingga menimbulkan dendam terhadap diri Febyola..." terang Anggiat.
"Ini yang menjebloskan Ola adalah Liyas, Bu. Kakak Yusuf sendiri. Yang memang sebelumnya sudah wanti-wanti kepada Ola untuk tidak mengungkit kematian Yusuf. Liyas dibantu Pak Musrif, ketua RT. Saya punya banyak bukti-bukti yang bisa menjebloskan mereka masuk bui. Tapi tentu dengan persetujuan Ola juga. Apakah dia menuntut balik atau tidak..." Anggiat menggelengkan kepalanya. Karena kasus ini sangat menyebalkan baginya. Ada seorang paman kandung yang tega membiarkan keponakan-keponakannya hidup dalam keterbatasan. Bahkan merampas hak-hak mereka.
"Padahal sekarang ini mereka kaya raya lho, Bu. Memiliki bengkel mobil besar di Jakarta Timur. Itu berkat menindas keluarga Ola. Tapi kenapa mereka setega itu dengan Ola. Mengancam Ola dengan penjara." Anggiat menggelengkan kepalanya. "Belum lagi difitnah berselingkuh..." gumamnya lirih. Kasus ini lebih berat dibanding kasus fitnah terhadap anaknya, Derby, yang pernah dituduh memperkosa seorang perempuan warganegara Australia. Baginya Derby masih memiliki kehidupan yang lebih bahagia dibanding Ola.
Bu Hanin tidak bisa berkata apa-apa saat memeluk Ola. Demikian juga Ola. Seolah keduanya sudah tidak berjumpa dalam waktu cukup lama.
"Maafkan saya, Mbak..." lirih Ola di tengah tangisnya. Bu Hanin hanya menggeleng. Ola sungguh luar biasa. Dengan keadaan terpuruk, dia masih saja mampu mengucapkan maaf. Padahal dia tahu, ini bukan sepenuhnya kesalahan Ola.
"Ini bukan salah kamu, Ola," balas Bu Hanin seraya merenggangkan pelukannya.
Ola juga dipeluk Anggiat dengan hangat. Anggiat mengucapkan kata-kata penuh dukungan. Dia sendiri juga terlihat merasa bersalah.
"Maaf, Bu Ola. Maafkan tim kami. Ini sebenarnya ada kesalahpahaman. Kami menyadari ini masalah internal keluarga ibu dan kami tidak berhak mengusiknya. Ini awalnya Akhyar yang menginginkan kasus tabrak lari mendiang suami Ibu dibuka kembali. Dia ingin tau siapa yang menabrak. Ini murni keinginan Akhyar yang mau menolong ibu pada awalnya. Saya juga tidak mengerti kenapa dia membatalkannya secara tiba-tiba..." Anggiat menggantungkan ucapannya. Dia sepertinya tidak ingin membahas terlalu panjang, kemudian harus menyinggung hubungan Ola dan Akhyar. Tentu akan menyakitkan bagi Ola.
Ola memejamkan matanya sambil menelan ludahnya kelu. Kini dia pahami kenapa Akhyar saat itu tidak semangat melihatnya ketika berjumpa di mall secara tidak sengaja. Akhyar akhirnya tahu akan masa lalunya, terlibat pemalsuan dokumen kematian Yusuf serta perselingkuhan.
Ola menghela napas panjang. Dia lega sekali. Akhirnya dia ketahui juga kenapa dia kini berada di dalam penjara.
"Biarkan saya selesaikan masa tahanan saya, Pak Anggiat. Bapak tidak perlu lelah membela..."
Bu Hanin terkesiap mendengar ucapan Ola.
"Olaaa..."
"Bu..."
Ola mengangguk mantap.
"Saya yang bertanggung jawab atas kebodohan saya. Saya tidak ingin ada permusuhan yang berkelanjutan antara anak-anak saya dengan keluarganya sendiri. Biar saya selesaikan sendiri..."
Bu Hanin mengurut dadanya. Dia mulai panik.
"Ola. Anak-anak dan cucu-cucumu yang harus kamu pikirkan. Mereka pasti tidak menyukai keputusan kamu ini. Jangan mempermalukan mereka dengan sikap ini, Ola. Kamu sama saja dengan membiarkan kebenaran tidak terungkap..." Bu Hanin benar-benar kecewa.
Ola memandangnya dengan perasaan tenang.
"Saya berhak bahagia, Mbak. Saya lebih tenang menjalankan hukuman akibat kebodohan saya daripada bebas tapi saya merasa tidak pantas menerimanya. Saya ingin ini selesai dan tidak ada kegaduhan selanjutnya."
"Lalu anak dan cucumu? Kamu biarkan mereka malu?"
Ola menggeleng.
"Saya tidak ingin mereka saling bermusuhan dan balas-balasan. Tolong hargai keputusan saya, Mbak Hanin, Pak Anggiat...."
Bu Hanin tampak sangat kecewa dengan keputusan yang diambil Ola.
______
Nayra perlahan sudah mau menerima kenyataan bahwa ibunya berada di dalam tahanan karena terlibat langsung dalam kasus pemalsuan surat kematian bapaknya juga kasus perselingkuhan. Nayra pun sudah mendapat penjelasan dari mertuanya dan Anggiat bahwa ibunya menolak mengkonfrontir kasus yang dia hadapi dan lebih memilih menjalani hukuman. Ada beberapa alasan ibunya yang akhirnya memilih untuk dihukum sesuai dengan apa yang telah dia perbuat. Nayra mau tidak mau harus memahami kehendak ibunya, meski sebenarnya dia sendiri sangat berat menerimanya.
Sudah hampir tiga hari dia mengalami demam tinggi akibat memikirkan nasib ibunya. Hari ini dia sudah bisa menemui ibunya, meski masih ada sisa-sisa sakit yang masih dia rasakan. Dia ditemani suaminya.
Nayra merasa lega karena dia melihat ibunya sehat-sehat saja. Malah terlihat lebih segar juga lebih cantik.
"Ibu banyak kegiatan, Sayang. Banyak hal yang ibu tau sejak berada di sini. Karena ibu juga belajar, Nayra. Tentang hukum, keterampilan tangan. Biar ibu nanti bisa move on kalo sudah bebas..."
Nayra tidak sanggup menahan tawa mendengar ibunya mulai bisa menyelipkan kata-kata gaul dalam ucapannya. Tapi tawanya hanya sesaat, kemudian dia menangis lagi.
"Ibu mohon dengan sangat. Ikhlaskan hatimu, Nayra. Kuatkan. Jangan sampaikan keadaan ibu ke Farid. Buat alasan yang bisa membuat Farid mengerti kenapa Ibu nggak bisa dihubungi. Dia lagi berjuang, Nak. Dia sedang belajar mati-matian. Ibu kepingin dia selesai belajarnya. Ibu kepingin dia belajar dengan semangat dan tenang. Ibu kepingin liat dia pake toga, jadi sarjana, kayak almarhum Bapakmu."
Nayra meletakkan kepalanya di bahu ibunya, menginginkan tangan ibunya membelai kepalanya. Mengenang masa-masa hidup bersama ibunya dulu. Meski sederhana, Nayra tidak pernah merasa kekurangan. Apalagi ibunya selalu memberi kata-kata semangat dan menenangkan. Nayra jadi rindu saat-saat itu.
"Jangan juga bilang Ayu. Dia juga sedang belajar, sedang mengandung. Ibu tau dia sayang Ibu, Ibu sayang Ayu juga. Biarkan dia senang, bahagia, sama keluarga kecilnya di sana."
Nayra tidak ingin berkata apa-apa lagi. Dia hanya ingin dibelai ibunya.
"Seandainya nyawaku bisa membayar kepedihan ibu, biarkan aku yang membayarnya dengan nyawaku, Bu," desah Nayra penuh sesal.
"Nggak usah sedih. Apa yang terjadi ikhlaskan. Ibu masih sehat begini. Ibu juga banyak teman. Kamu nggak perlu khawatirkan ibu. Enam atau sepuluh tahun itu nggak akan terasa lama, kalo kita jalani dengan ikhlas. Ibu sudah merelakan, Nayra."
Nayra perlahan menarik kepalanya dari bahu ibunya, karena sepertinya ibunya ingin bicara dengan suaminya.
"Jaga dia sebaik-baiknya, Gun. Ibu kepingin kalian bahagia dan nggak ada yang diperselisihkan. Jangan kayak hidup ibu..." lirih Ola penuh harap.
Guntur yang mendengarnya pun tidak sanggup menahan tangis. Dia ingat kesedihan mertuanya saat dirinya pernah mencelakai Nayra.
"Maafkan saya, Ibu..." ucapnya pelan.
"Ibu yang seharusnya minta maaf, Gun. Ibu nggak berhasil jadi ibu yang sempurna..."
Guntur dan Nayra langsung memburu tubuh Ola.
"Ibu tetap sempurna..., apapun yang terjadi..." ucap Nayra.
***
