Kehamilan Ola yang bersamaan dengan kehamilan anaknya dan menantunya akhirnya diketahui keluarga besar yang sedang berada di kota Melbourne. Semua terkejut sekaligus bahagia.
Ola menjadi pusat perhatian keluarga yang sedang berkumpul di rumah Hakiem di Flemington. Mereka tak bosan-bosannya membahas kehamilan yang luar biasa tersebut. Di usianya yang hampir menginjak setengah abad, Ola malah diberi titipan indah mengandung dua anak sekaligus.
Dan Hanindita, selaku 'mak comblang' Akhyar, dia sangat bangga. Menurutnya, Kehadiran anak dalam pernikahan Akhyar dan Ola akan menambah keharmonisan keluarga mereka ke depan. Harapan Hanin pun terkabul dan dia tidak perlu mencemaskan kehidupan besannya itu yang sebelumnya tidak membahagiakan, menurutnya.
Saking senangnya, Hanin pun tidak mempermasalahkan sikap putranya yang 'nekad' membawa serta istri yang sedang hamil muda ke Melbourne. Apalagi dia melihat Nayra baik-baik saja. Bahkan Nayra tampak sangat bahagia bertemu dengan anak sambungnya. Berlipat-lipat kebahagiaan Hanin, Nayra memang tulus mencintai anak lelaki dan menyayangi cucunya.
Yang melegakan, Ola akhirnya mengetahui alasan kenapa Akhyar yang tiba-tiba berubah tidak ingin memiliki anak di usia senja. Salah satunya adalah Akhyar terpengaruh dengan kata-kata sahabatnya, Igor. Menurut Igor Akhyar tidak perlu memikirkan anak lagi, lebih baik memikirkan kesenangan dan menghabiskan waktu bersama pasangan saja di sisa usianya. Ola bahagia sekali dengan keterusterangan suaminya. Dia semakin yakin bahwa hari-harinya ke depan akan terus mengalami kebahagiaan tanpa batas, kehadiran dua anak sekaligus, keterusterangan suami, kejujurannya, dan keluarga yang semakin ramai serta akrab.
"Ah, kamu itu, Akhyar. Mbok ya kalo konsultasi masalah kehidupan, pernikahan, keluarga dan anak ya sama aku dong. Yang sudah malang melintang mengurus keluarga. Yang sudah berpengalaman. Puluhan tahun..." ujar Hanindita dengan gaya soknya. Ola yang duduk di sampingnya sibuk menahan tawa. Menurutnya Hanin terlalu percaya diri mengungkapkan kesuksesan mengurus anak semata wayangnya. Dia akui bahwa ketegasan Hanin cukup mumpuni dalam mengatasi masalah-masalah keluarga, terutama setelah Guntur menikah dengan putrinya.
Akhyar yang duduk di hadapan Hanin mengangguk-anggukkan kepalanya, seperti seorang anak yang sedang diomelin seorang ibu.
"Ini kok malah konsultasi sama preman. Yang nggak jelas itu. Siapa namanya, Ola? Kok aku lupa terus?"
"Igor, Mbak..."
"Tuh. Menantu mantanmu itu, kan, Akhyar? Bisa jadi ada konspirasi mereka itu, biar kalian nggak menikmati masa-masa pernikahan dengan hadirnya anak..."
Akhyar menggelenkan kepalanya. Hanin terlalu jauh menilai Igor, pikirnya. Tapi dia diam tidak menanggapi.
Ola cepat menarik tangan Akhyar dan menggenggamnya agar Akhyar memahami sikap besannya dengan tidak terlalu menanggapi kata-katanya yang mungkin menyinggung perasaannya.
"Kamu itu kan baru pertama kali menikah. Pertama kali mengucap sumpah di depan penghulu. Baru pertama kali memulai mengarungi bahtera rumah tangga." Hanin memelankan suaranya. "Memang kamu memiliki anak, Yar. Tapi belum mengalami kenikmatan mengurus anak-anak bersama-sama istri. Ini yang seharusnya nggak boleh kamu lewati. Disyukuri dapat amanah dari Gusti Allah."
Akhyar yang awalnya gusar menjadi sedikit lebih tenang. Apalagi saat menatap mata Hanin yang sungguh-sungguh menginginkan kebahagiaan pernikahannya dengan Ola selama-lamanya.
"Iya, Nin..." tanggapnya pelan.
"Mengerti maksudku kan?" tanya Hanin sambil mengawasi sekelilingnya khawatir ada yang mendengar ucapannya.
"Yang sudah ya sudah. Semuanya sudah merelakan masa lalu kamu. Tinggal bagaimana kamu memikirkan kehidupan kamu dan anak cucu kamu ke depan."
"Iya, Nin..." ucap Akhyar mengerti.
