"Apa mungkin kemauan Ola ini ada kaitannya dengan Akhyar, Ang?" tanya Bu Hanin yang tampak lemas saat pulang dari menjenguk Ola. Anggiat menghela napas berat.
"Mungkin saja, Bu. Saya lihat wajah Bu Ola berubah saat saya sebut nama Akhyar,"
"Apa perlu kita beritahu Akhyar juga?" tanya Bu Hanin. Dia sangat terpukul dengan keputusan Ola. Menurutnya keputusan yang dibuat Ola sangat tidak bijak. Membiarkan kebenaran tidak terungkap.
Anggiat merapatkan bibirnya. Baru dia sadari kenapa Akhyar mendadak membatalkan melanjutkan kasus kematian suami Ola. Mungkin kecewa dengan kasus berat Ola. Sepertinya dia harus menjelaskan ke Akhyar. Tapi...
"Kita harus hargai keputusan Bu Ola, Bu. Akhyar jangan lagi kita libatkan. Akan menambah masalah buat Bu Ola. Kita tunggu saja. Siapa tau ke depan Bu Ola berubah pikiran. Yang jelas saya sudah siapkan segala hal untuk meringankan hukuman Bu Ola,"
Bu Hanin mengurut dadanya.
"Semoga Farid cepat menyelesaikan kuliahnya. Aku sudah tidak sanggup lagi mengurus usahaku, Ang..." isak Bu Hanin.
***
Beberapa bulan kemudian...
Akhyar semakin hari semakin terlihat muda juga gagah. Wajar, Akhyar sekarang rutin berolahraga. Apalagi sekarang dia memiliki teman berolahraga, khususnya bermain tenis, Igor Kashawn, sahabat lamanya, yang merupakan menantu Nayura, mantan kekasihnya.
Setelah menjelaskan alasan untuk tidak mempertahankan hubungannya dengan Nayura beberapa tahun silam, Akhyar lega. Kini dia dan Nayura malah kerap bertemu di beberapa kesempatan, terutama pengajian keluarga. Nayura yang awalnya sangat sulit diajak bertemu dengannya, kini mulai mau membuka diri.
Sepertinya status Akhyar yang memiliki anak tanpa ada ikatan pernikahan tidak lagi menakutkan bagi Nayura. Dia bahkan semakin bangga bisa berdekatan kembali dengan Akhyar, yang semakin hari semakin mempesona.
Akhyar kini bahkan sering diundang Nayura menyaksikan pameran fashion yang diadakan oleh Gema, putri sematawayangnya.
Seperti sekarang ini, sambil menggendong gemas Idris, Akhyar dengan senang hati menyaksikan pakaian-pakaian hasil rancangan Gema yang dipamerkan di panggung milik Gema.
"Terima kasih, Khal. Sudah datang liat pameran Gema..." ucap Gema senang. Tapi wajahnya menunjukkan ketidaksenangan saat melihat ibunya yang senyum-senyum melihat kehadiran Akhyar.
"Sama-sama. Semoga sukses terus, Gema," ucap Akhyar sembari menurunkan tubuh Idris. "Khal pamit ya. Lain kali jangan segan undang Khal..." ujarnya kemudian.
"Gue temani lu ke luar, Yar..." sela Igor. Lalu keduanya melangkah menuju pintu utama mall.
"Masih ada ser ser sama mertua gue. Mentang-mentang lakinya sedang di Kolombo..."
Akhyar tertawa kecil mendengar gurauan Igor.
"No. Aku justru sayang sama istrimu. Perlu didukung prestasinya. Bukan Nayura. Dia masa lalu. Meski pernah menjadi yang terbaik..."
Igor tertawa kecil. "The best? She even hit Gema before I decided to marry..."
"Maksudnya?"
Igor lalu menceritakan kisah pernikahannya dengan Gema yang penuh drama panjang.
"Sampai sekarang, Gue belum bisa terima apa yang pernah dia lakukan ke bini gue, meski dulu belum jadi bini gue. Dia memang mertua gue, Yar. Tapi perlakuan dia ke Gema belum bisa gue lupain begitu saja..."
Akhyar sebentar menoleh ke arah belakangnya. Dilihatnya Nayura sibuk membantu Gema mempersiapkan pameran selanjutnya.
"Dia bukan the best, Men... sanggup mengakui masih cinta kepada laki-laki lain? Sementara suaminya sedang bertarung mencari uang jauh-jauh di Kolombo?" Igor menggelengkan kepalanya. Dia tidak habis pikir dengan pendapat Akhyar mengenai mertuanya yang cantik jelita itu.
