36. Ceria Ola

7.8K 1.1K 85
                                        

Ola terlihat serius mengerjakan kerajinan tangannya kali ini, menyatukan kain perca untuk dijadikan kebutuhan rumah tangga, seperti keranjang sampah, keset kaki, dan selimut. Ola memang peserta yang paling semangat mengikuti berbagai kegiatan di lapas. Ola pun kerap dijadikan contoh bagi peserta lain sebagai peserta yang selalu semangat mengikuti berbagai kegiatan selama menjadi tahanan.

"Bu Ola, Kang Desmon minta dibuatin keset kaki untuk di kamarnya..." bisik Gita yang baru saja tiba di ruang pelatihan menjahit. Dia senggol bahu Ola yang sedang khusyuk menyatukan kain-kain perca di mesin jahitnya.

"Kamu tuh suka ngarang. Kalo kamu mau sama dia jangan sungkan-sungkan bilang. Seharusnya kamu tuh cocok sama Pak Desmon, sama-sama menggelapkan duit orang. Yang satu korupsi yang satu melenyapkan duit arisan. Duh, Gitaaaa. Jangan sodorin ke aku, Git..." balas Ola sengit. Dia jengah karena hampir setiap hari digoda Gita. Belum lagi godaan dari Ria, sahabat yang selalu menemaninya tidur setiap malam di dalam kamar tahanan, karena tempat tidur mereka yang bersebelahan. Sebelum tidur, Ria tidak lupa menggoda Ola dengan menjodoh-jodohkannya dengan Desmon sang koruptor. Ola diam tidak memperdulikannya.

"Duh, Bu Ola. Kalo aku sama Kang Desmon kapan kita insyafnya, Bu. Bisa banyak korban berjatuhan akibat perbuatan kita berdua. Hehe..., kalo sama Ibu kan Kang Desmon bisa kapok, secara ibu itu sebenarnya kasusnya hanya apes ketemu orang brengsek."

"Iya. Brengsek kayak kamu," balas Ola cepat. Gita tertawa kecil mendengar nada sewot Ola. 

Dan satu keset kakipun selesai dikerjakan Ola dengan sangat rapi. "Nih. Bilang sama dia nggak usah pake acara bilang ke orang-orang kalo suka aku. Kalo suka kenapa nggak langsung ngomong ke aku?" tantang Ola sambil menarik satu keset kaki dari mesin jahitnya.

Tiba-tiba...

"Saya emang suka sama Ibu," sebuah suara pria mengejutkan Ola. Ola menoleh ke belakang, juga Gita. Gita tersenyum simpul melihat keberadaan pria tambun berkulit bersih itu. Dia pun perlahan mundur dari posisinya, bahkan pergi membiarkan Ola berduaan dengan pria yang bernama Desmon itu. 

"Eh, Pak..." Bu Ola sedikit terkesiap. Tapi dengan cepat dia atur emosinya.

"Ini pesanan Bapak. Sudah saya buatkan..." ujar Ola seraya menyerahkan keset kaki kain perca buatannya. Pria bernama Desmon senyum-senyum melihat wajah Ola yang tampak kaget bercampur malu. Dia sambut juga keset kaki dengan melipatnya dan meletakkannya di pangkuannya.

"Gimana sidang kemarin, Bu? Kok nyerah gitu saja," tanya Desmon. Sepertinya orang-orang di dalam tahanan tahu masalah yang dihadapi Ola,termasuk Desmon. 

"Saya nggak mau punya masalah lagi, Pak. Nggak mau repotin orang-orang..."

"Saya bisa bantu kalo ibu nggak keberatan,"

Ola mengangkat alisnya. Jangankan kamu, besanku saja tidak aku biarkan menolongku..., gumamnya membatin. Siapa kamu?

"Saya keberatan, Pak. Lebih baik saya jalankan saja hukuman ini..."

Desmon memperbaiki letak duduknya. Dia terlihat tidak nyaman duduk di atas bangku papan kecil yang tentu tidak singkron dengan perutnya yang besar. Ola tersenyum kecil melihat gerak gerik Desmon. Namun Desmon tampak biasa saja dengan ketidaknyamanannya.

"Ibu ini ternyata mertua Pak Guntur Haribawa Noer, Ya?" tanya Desmon tiba-tiba.

Ola terkesiap. Dia tidak pernah bercerita tentang keluarganya secara detail dengan teman-temannya di tahanan. Dia hanya sekilas bercerita bahwa dia adalah janda dengan dua anak yang semuanya sudah menikah.

"Kok Bapak tau?" tanyanya menyelidik.

"Lha iya. Bisa tau karena saya sering lihat Pak Guntur di ruang kunjungan..." Desmon masih memasang wajah yang membuat Ola penasaran.

"Oh... Pak Guntur itu dosen anak saya, Raisa. Dulu Raisa sering cerita tentang dosen favoritnya yang ternyata menikah dengan temannya sendiri. Anak ibu kan? Nayra. Nayra dulu teman satu sekolah dengan Raisa. Pernah datang ke rumah saya beberapa kali, kerja kelompok," jelas Desmon.

Ola memegang dadanya. Menyadari bahwa dunia ini kecil sekali. Ternyata ada juga yang mengenal keluarganya. Di dalam tahanan. Bukan main.

"Saya senang dengan sikap anak Ibu kalo datang jenguk ibu. Ibu disuapin, disiapkan makanan, ibu dipijet-pijet, dipeluk-peluk. Sepertinya hubungan ibu dan anak ibu sangat baik," ujar Desmon sambil mengamati wajah Ola yang masih terlihat syok dengan pengakuannya. "Saya iri dengan kehangatan hubungan ibu dan Nayra. Raisa saja ogah menjenguk saya. Juga anak saya yang lain. Padahal selama ini saya yang membiayai kehidupan mereka. Tapi ini balasan mereka. Membiarkan saya seolah saya tidak ada."

Ola terenyuh mendengar keluhan Desmon. Namun hanya sesaat, lalu dia tersenyum mengerti.

"Lha, Bapak juga cari duitnya begitu. Jalannya aja sudah salah..." ucapnya sedikit menyalahkan Desmon. "Lagipula Bapak kalo ngasih apa-apa ke anak nggak usah mikir timbal balik. Berbuat baik, ya berbuat baik saja. Nggak usah pamrih..." lanjut Ola menasihati.

"Kalo sayang anak, ya sayang dengan tulus. Ajarkan hal-hal baik. Cukup. Nggak perlu berlebihan..."

Desmon menghela napas panjang. Dia kagum dengan Ola. Benar kata orang-orang di dalam tahanan, Ola sangat menenangkan. Dari cara bicaranya, hingga cara menatap orang yang menjadi lawan bicaranya. Senyum Ola juga sangat menawan. Rasanya tidak pantas orang seperti Ola berada di dalam tahanan. Terlalu baik menurutnya.

Sepertinya Desmon ingin berbicara lebih lama dengan Ola. Tapi apa daya, tampak Pak Hans, penjaga tahanan, datang tergopoh-gopoh menuju Ola.

"Ibu dapat kunjungan lagi hari ini," ujar Pak Hans. "Cowok ganteng, Bu..." ujarnya lagi sambil melirik ke Desmon yang terlihat pasrah karena obrolannya harus terhenti karena Ola yang harus menemui orang yang menjenguknya.

Namun wajah Ola terlihat tidak semangat.

"Bukan yang itu, Bu. Kalo yang itu datang lagi, sudah saya siapkan jawaban dari Ibu..., Ora sudi kan, Bu," jelas Pak Hans. Tamu yang dimaksudnya adalah Akhyar. Sejak Akhyar datang ingin menjenguknya, Ola wanti-wanti berpesan kepada Pak Hans bahwa dirinya tidak sudi ditemui pria berdarah Arab itu jika sewaktu-waktu dia datang kembali. Pak Hans mengingat pesan Ola dengan seksama.

Ola mengernyitkan dahinya. Seketika pikirannya dipenuhi tanda tanya. Ada laki-laki yang mengunjunginya. Gunturkah? Tapi tidak mungkin Guntur datang sendiri. Dia selalu ditemani Nayra. Dan Pak Hans pun mengenal Guntur dengan baik karena Guntur sering memberinya sedikit upah lebih supaya dia memperhatikan ibu mertuanya itu dengan baik. Pak Hans juga biasanya langsung menyebut anak menantu, jika Guntur datang menjenguk.

Ola lalu membereskan sekaligus merapikan bahan-bahan kerajinan tangannya. Desmon turut membantunya.

"Lain kali kita bisa lanjut ngobrol-ngobrol, Bu Ola?" pintanya bertanya.

"Oh. Tentu boleh, Pak Desmon. Nanti kapan-kapan kita lanjut ngobrol," balas Ola dengan wajah binarnya. Desmon bertambah semangat membantu membereskan peralatan kerajinan Ola karena jawaban Ola yang sangat menyenangkan hatinya.

______

Jantung Ola terasa lepas saat melihat dari kejauhan sosok yang sedang duduk di ruang kunjungan lapas. Dia teringat seseorang yang sangat dia rindukan selama ini. Orang yang sangat dia cinta sekaligus mengecewakan. Orang yang sudah lama meninggalkannya tanpa pesan.

Ola cepat-cepat melangkahkan kakinya menuju tempat duduk orang itu dengan perasaan rindu yang sangat mendalam. Dia pegang dadanya yang berdetak kencang.

"Mas Yusuf?" desah Ola dengan napas yang memburu karena langkahnya yang terburu-buru.

______

A Love StoryCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang