Akhyar mengecup dahi Ola dalam-dalam saat mereka sudah kembali ke apartemen di kawasan elit Sudirman. Berada di dalam apartemen kesayangannya membuat Akhyar merasa terlahir kembali. Akhyar bahagia sekali. Dia sangat lega saat mendengar keputusan Ola yang akhirnya memilih untuk tinggal di apartemennya.
"Kamu sedih?" tanya Akhyar hati-hati. Selama perjalanan menuju apartemen, Ola memang selalu tersenyum, tapi tidak banyak kata-kata yang terucap dari mulutnya.
Ola tertawa kecil dengan kepala mendongak. Dia anggukkan kepalanya sedikit. Akhyar bimbing Ola menuju tempat tidur dan merebahkan tubuh Ola di atas tempat tidur dengan perlahan.
Akhyar ikut rebah di sisi Ola, lalu dia usap-usap perut Ola. Dia ingin menenangkan perasaan Ola.
"Lalu kenapa kamu pilih di sini. Sebenarnya aku juga nggak masalah kalo harus tetap di rumahmu. Lagipula jarak kantorku malah lebih dekat dari rumahmu daripada dari di sini..."
Ola mencibir. Dia sangat tahu apa isi hati dan otak suaminya. Dia tatap wajah Akhyar dengan wajah sedikit cemberut. Tapi beberapa saat kemudian, wajahnya tidak cemberut lagi.
"Aku iba dengan Sabine. Kalo aku memilih di rumah itu, Sabine pasti terus merasa bersalah. Aku tau bagaimana perasaan Sabine, posisi Sabine. Aku nggak mau batinnya tertekan kalo seandainya kita tinggal di sana. Dia tulus meminta maaf. Aku ingin menyudahi perasaan bersalahnya..."
Ola memiringkan posisi rebahnya dan menghadap ke Akhyar. Dia usap-usap pipi Akhyar sambil menatap wajah Akhyar dengan tatapan lembut. Akhyar kecup tangannya dan memegangnya agar tetap berada di pipinya.
"Aku tau Mas sebenarnya kepingin banget tinggal di sini..." ucap Ola.
Akhyar tertawa. Gigi rapihnya yang putih membuat Ola terkesima. Setelah melewati masalah berat dan saat-saat yang melelahkan, akhirnya senyum Akhyar bisa kembali Ola lihat.
Akhyar menghela napas panjang. "Iya. Tentu aku lebih menyukai di sini..." ucapnya.
Ola mendekatkan wajahnya ke wajah Akhyar. Dia tarik kepala Akhyar dan mengecup matanya.
"Aku suka di sini, Mas," ucap Ola pelan. "Lebih tenang..." lanjutnya. Ola tampak berusaha menyakinkan dirinya.
Akhyar tersenyum lebar. Gantian dia yang menarik kepala Ola dan mendekapnya dengan rasa sayang.
"Kita akan selalu bersama tanpa gangguan...," ujar Ola kemudian, diiringi tawa kecilnya.
"Gangguan siapa, Sayang?"
"Apa saja..."
Akhyar terkekeh.
"Nayra? Ayu? Atau tetangga?"
Ola merenggangkan dekapannya. Dia tertawa mendengar dugaan-dugaan Akhyar.
"Nggak, Mas. Bukan itu yang aku maksud. Gangguan perasaan was-was, khawatir, takut, cemas. Sepertinya jika kita berada di sini, gangguan itu jauh berkurang..."
Ola perbaiki rebahnya sambil memegang perutnya agar posisinya lebih terasa nyaman.
"Untung saja tidak lama kita di sana. Seandainya saja kita lebih lama..., pasti akan banyak pertanyaan dan dugaan orang-orang sekitar. Dan akan menjadi beban pikiran..., pikiranku, pikiran Mas, mungkin juga keluarga Guntur."
Akhyar menundukkan pandangannya, membenarkan pendapat istrinya.
"Tapi kupikir pasti ada yang sedih. Nayra misalnya..." ucap Akhyar. Dia ingat sekali wajah binar dan senyum Nayra ketika menyambut kepindahan Ola ke rumah. Ketika mengetahui ibunya kembali ke apartemen, Nayra terdiam membisu.
