Entah kenapa perasaan Nayra tidak begitu semangat akhir Minggu ini. Tiba-tiba bayangan ibunya terlintas di benaknya. Sebelum-sebelumnya Ola memang terkadang tidak mengunjungi atau memberi kabar ke Nayra, seminggu atau lebih, terutama sejak Bagas yang sudah terlihat lebih mandiri. Nayra sangat memahami ibunya yang senang dengan kesendirian dan kegiatan sehari-harinya.
Sekarang Nayra bingung juga heran, karena saat dia mencoba menghubungi ibunya lewat ponsel, tidak ada nada sambung. Biasanya, selalu ada nada sambung meski jarang disambut. Nayra tahu ibunya jarang memegang ponsel dan selalu meletakkannya di laci meja riasnya. Akan tetapi ibunya tidak pernah lupa 'mengecas' ponselnya jika baterai habis. Tapi ini sudah dua hari.
"Ma. Eyang Ola janji mau buat perkedel enak. Kok nggak ke sini-sini ya?" rengek Bagas. Nayra semakin resah. Ibunya tidak pernah menunda janjinya, terutama kepada cucu kesayangannya.
"Mama ke rumah Eyang Ola ya, Sayang?"
"Bagas ikut,"
***
Karena tahu ibunya biasanya pulang sore atau sore menjelang malam, Nayra bersama Bagas yang dibonceng Pak Jo pergi ke rumah ibunya. Sesampainya di sana, Nayra heran, tanaman-tanaman di depan pekarangan rumahnya layu tidak terurus. Dilihatinya juga debu tebal terlihat sangat jelas di atas lantai teras rumahnya. Rumah ibunya tidak pernah begini keadaannya. Akhirnya Nayra memutuskan pergi ke rumah Wak Tima, dia pikir ibunya mungkin masih berada di sana. Dia sempat berpikir ibunya sedang banyak pekerjaan sampai-sampai tidak mampu mengurus rumahnya.
_____
Wak Tima cemas melihat Nayra dan Pak Jo yang menggendong Bagas di depan rumahnya sore itu. Dia langsung menyambar tangan Nayra dan membiarkan Pak Johan berada di teras depan rumahnya.
Perasaan Nayra seketika menjadi tidak karu-karuan karenanya. Ribuan pertanyaan menghujam pikirannya.
"Nayra..." desah Wak Tima. Dia tidak tega memandang Nayra cukup lama.
"Ada apa dengan ibu, Wak? Ibu pergi ya? Ke mana?" tanya Nayra. Jantungnya sudah mulai berdetak tidak karuan.
Wak Tima langsung memeluknya. Dia tidak sanggup berucap karena air matanya sudah tumpah begitu saja.
Wak Tima kemudian perlahan merenggangkan pelukannya.
"Nayra..., ibu lu masuk penjara..." ucap Wak Tima akhirnya.
Napas Nayra tertahan mendengarnya.
"Kenapa?" tanyanya sambil memegang dadanya yang jantungnya berdetak lebih kencang lagi dari sebelumnya.
"Ibu lu terlibat pemalsuan surat kematian Bapak lu, Nay," jawab Wak Tima. Dia tidak ingin menyebut kasus ibunya yang lain.
"Ibu..." desah Nayra lemas.
"Kenapa Wak Tima nggak bilang?" tanya Nayra gemetar.
"Ibu lu yang nggak mau lu tau. Dia takut lu malu..."
Nayra sebentar menoleh ke luar rumah Wak Tima, mengamati Bagas yang sedang digendong Pak Johan. Entah kenapa kepalanya terasa berputar, lalu pandangannya gelap seketika.
Nayra pingsan.
***
