112. Keputusan Ola

7.3K 952 34
                                        

Kini waktunya Selita akan pergi dari rumah Sabine. Dia peluk Sabine kuat-kuat di salah satu pojok ruang tamu. Dia tumpahkan segala penyesalan dan maafnya di sana. Sabine pun tak kuasa menahan tangis harunya. Tangisan Selita terdengar sangat beda. Tidak pernah Sabine mendengar tangisan seseorang yang penuh dengan penyesalan seperti tangisan mamanya sekarang.

"Maafkan Mama yang dulu tidak menghendakimu, yang mengabaikanmu, yang menolakmu saat berdekatan dengan Mama," ucap Selita penuh penyesalan.

"Aku yang seharusnya minta maaf, Ma. Maafkan kehadiranku..." balas Sabine. Selita menggeleng kuat.

"Mama yang salah, Nak. Perbuatan Mama tak termaafkan. Berbuat yang di luar aturan, kemudian menelantarkan kamu..."

"Mama nggak pernah menelantarkan aku. Mama masih beri aku kesempatan bersenang-senang. Seperti sekarang ini dan masih banyak kesenangan yang aku dapatkan..."

"Tapi Mama pernah berniat ingin kamu tidak hadir dalam hidup Mama..."

Selita benar-benar menyesal. Dia eratkan pelukannya, sambil mengecup-ngecup ubun-ubun Sabine. Selita menyesali kenapa dia baru bisa menunjukkan rasa sayangnya ke Sabine saat Sabine sudah dewasa dan menikah. Seharusnya dia lakukan sejak lahir Sabine. Ini sangat tidak adil buat Sabine. 

"Maafkan Mama yang mungkin berlebihan, Sabine. Karena Mama ingin hidup lebih baik..., lebih tenang. Kamu juga..., Mama harap hidupmu tenang, bahagia dan tidak lagi susah hati."

"Iya, Ma..."

"Sayangi adik-adikmu nanti. Pasti mereka bangga punya kakak seperti kamu..."

"Mamaaa..."

"Iya, Sayang. Kamu beruntung punya Ibu yang baik hatinya, yang mengerti kamu, ngerti Mama juga. Yang nggak beda-bedain kamu dan anak-anaknya. Yang sayang sama cucu-cucu Mama..."

Sabine mengangguk sedih. Kata-kata mamanya membuatnya tidak ingin melepas mamanya pergi.

"Nanti Mama bakal tinggal di Solo. Kita bisa lebih sering bertemu. Apalagi kamu tiap lebaran atau Natal kan bakal liburan di sana. Kita bisa berkumpul lagi."

Selita mengusap-usap pipi Sabine yang basah. "Sudah. Jangan nangis lagi. Mama sayang kamu..." ucap Selita.

Meski harus melepaskan mamanya pergi, Sabine merasa sangat bahagia. Kejadian ini malah mempererat hubungannya dengan mama, ibu dan papanya. Keakraban ketiganya terlihat jelas di siang ini. Papa telah memilih teman hidup yang sangat tepat, yang bisa membuat suasana kekeluargaan lebih hangat dan menenangkan.

Setelah puas memeluk Sabine, Selita kemudian berpamitan kepada Akhyar. Dia tatap wajah Akhyar yang masih memar akibat pukulan-pukulan kerasnya semalam. Selita tak sanggup menahan senyumnya saat Akhyar menunjukkan wajah cemberutnya. Entah apa makna cemberut Akhyar, marah atau sedih karena Selita yang langsung pergi meninggalkan Jakarta menuju Solo.

"Maaf..." ucap Selita akhirnya. Ini pertama kalinya dia berucap maaf. Selita sebelumnya sangat membenci sosok Akhyar. Sosok yang pernah mengecewakannya di masa lalu.

Akhyar menggeleng seolah tidak menyetujui kata maaf dari Selita.

Akhyar hela napas lega.

"Terima kasih telah memukulku, Selita. Aku sangat berhutang kepadamu. Dengan kamu memukulku, aku pun menyadari bahwa ada yang salah dalam hidupku. Kamu sudah menyelamatkanku..." ucap Akhyar.

Selita mendongakkan kepalanya. Dia tertawa mendengar kata-kata Akhyar.

"Tak perlu merasa berhutang, Akhyar. Kamu tau? Aku sudah benar-benar muak dengan apa yang sudah aku lewati dalam hidupku. Dan aku tidak ingin kembali terperosok ke dalam jurang yang sama. Tidak menggangguku saja sudah cukup melunasi hutangmu," balas Selita. Dia lupakan sikap Akhyar yang menuduhnya ingin menguasai harta-hartanya melalui Sabine.

A Love StoryCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang