CHAPTER 110

3.4K 142 4
                                        

*SKIP*

Aku menutup berkas terakhir yang harus kuperiksa hari ini. Mataku cukup lelah sekarang. Kulihat jam dinding, jam 11.50. Kurasa ini waktunya untuk makan siang. Aku ingin mengajak Mila makan siang bersama dan kalau bisa sekaligus dengan Aliando

Aku pun berjalan keluar dari ruanganku. Mataku tajam menatap kemeja Mila. Seketika ada rasa cemburu yang membakarku. Bagaimana mungkin aku tak cemburu, ketika melihat seorang pria berusaha mendekatkan diri pada kekasihku

Aku pun berjalan mendekati mereka.
"Mila.. ayo makan siang bareng.."ajak Mischa pada Mila
"Eehmm tapi Misc.. aku masih.."

Belum selesai Mila menyelesaikan kata-katanya, aku langsung memotongnya
"Mila ada janji makan siang dengan saya.. iya kan, Chubby?"tanyaku pada Mila dan tersenyum padanya

Mischa kaget dan langsung berjalan mundur selangkah.
"Pak Kevin.."katanya pelan melihat kearahku
"Jika saya tak salah mendengar, kamu bilang kamu mau mengajak Mila makan siang? Tapi Mila sudah ada janji dengan saya dan Aliando.. bagaimana kalau kita makan bersama saja?"tanyaku
"Ah.. tidak perlu, pak.. saya bisa makan dengan yang lain.. permisi pak, Mila.."katanya sambil berjalan pergi

Aku tersenyum pelan
'Sudah kuduga.. kamu pasti menolak ajakkanku untuk makan denganku, Mila dan Ali.. dan lihat.. dugaanku tak meleset sedikitpun..'kataku dalam hati

Mila menatapku
"Kapan kita janji akan makan siang bareng?"tanya Mila heran
"Entahlah.. tapi kurasa, tanpa kubuat janji sekalipun.. kamu hanya boleh makan siang denganku.. karena kamu kekasihku.."jawabku

Mila hanya diam saja. Dia masih sibuk memeriksa berkas. Aku pun menahan tangannya kala dia ingin mengambil berkas lainnya diujung mejanya
"Sudah cukup.. sekarang waktunya makan siang.. kita makan dulu.. nanti baru dilanjutkan.."kataku
"Tapi ini.."
"Hentikan sekarang atau aku tak akan memberikanmu satu tugas apapun setelah ini.."kataku tegas

Mila menatapku sesaat. Seolah dia kaget aku akan begitu tegas padanya.
"Mila.. ayolah.. hentikan dulu.. kamu boleh melanjutkannya setelah makan siang kan.. aku tak mau kamu sakit.. dan ini sudah jam makan siang.."pintaku

Perlahan Mila pun berdiri
"Baiklah.. tapi setelah selesai makan nanti.. biarkan aku tetap melanjutkan semua pekerjaanku, oke?"katanya
"Baik, Nyonya Kevin.."godaku

Mila tersipu pelan
"Nyonya Kevin?"tanyanya bingung
"Ya.. kata sayang untukmu dariku.."bisikku pelan sambil menggengam erat tangannya dan berjalan pergi dengannya

*SKIP*

Dikafe kantor

Aku menatap Mila tajam. Kami sudah berdebat sedari tadi dimobil sampai akhirnya kami duduk disini

Aku pun memalingkan wajahku, menatap keluar jendela, menunjukkan padanya kekesalanku
"Masih kesal?"tanyanya pelan

Aku hanya diam saja sambil memainkan sedotan pada minumanku
"Kenapa hal sepele saja bisa membuatmu marah padaku? Katanya kamu sayang denganku.."katanya

Aku pun berbalik menatapnya. Kemudian aku menghela napas panjang
"Kenapa harus makan disini? Kenapa tak disalah satu restoran-restoran yang kusebutkan tadi?"kataku akhirnya

Ya, tadi kami berdebat tentang tempat makan. Aku ingin makan disalah satu restoran favoritku, namun Mila malah ingin makan dikafe kantor.

Entah apa yang dipikirkannya, namun dia mengatakan tak perlu pergi sejauh itu hanya untuk sebuah makan siang. Padahal, semua momen bersamanya ingin kubuat sesempurna mungkin agar tak akan pernah hilang dari ingatannya lagi.

Tapi kenapa dia tak mengerti semua ini? Kenapa dia tak mengerti keinginanku? Kenapa dia tak mengerti perasaanku ini?

Aku pun menundukkan wajahku kebawah, menatap kosong kemeja, menahan kekesalanku dalam hati

Perlahan Mila memegang tanganku
"Aku tahu kamu kesal karena masalah tempat makan.. tapi.. Kevin.. ini bukan masalah yang harus dikesalkan kan?"katanya

Perlahan kuangkat wajahku untuk menatapnya. Jika aku sekarang duduk disini, berarti aku telah menerima untuk makan siang disini, dikafe kantor sesuai keinginan Mila. Yang berarti, sudah kuputuskan untuk mengalah padanya sejak dimobil tadi.

'Tuhan.. kenapa aku begitu tak berdaya dalam menghadapi gadis didepan mataku ini? Kenapa aku sama sekali seolah tak mampu menolak apapun yang menjadi keinginannya? Kenapa tatapan dan senyumnya begitu mampu meluluhkan hatiku? Apa ini karena aku telah terlalu dalam mencintainya? Tapi memang tak bisa kupungkiri.. jika aku mencintai Mila diatas segala-galanya.. akan kulakukan apapun hanya agar aku tetap bisa disisimu.. bahkan aku tak akan bisa bayangkan kalau aku harus kehilangannya.. mungkin aku merasa seperti jatuh kesebuah jurang yang sangat dalam dan tak akan mampu bertahan lagi.. jadi, Tuhan.. tolong biarkan aku tetap bisa selalu disisinya.. walau dia belum mampu mengingatku.. tapi setidaknya biarkan aku tetap disampingnya.. membuatnya tersenyum setiap saat.. hanya itu keinginanku.. hanya itu..'kataku dalam hati

TO BE CONTINUED...

IS THIS LOVE?Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang