13:25 Siang.....
Cshhhh (ceritanya suara menggoreng)
Aku menggoreng ikan yang berhasil kami dapatkan dari memancing tadi.
Baru 3 jam kami memancing, peti gabus milik bapak sudah hampir penuh dengan ikan.
Ini bukti kalau lautan Indonesia itu kaya :D.
"bri, lihat aku dapat cumi! Masakin yak"
Ivan masuk kedalam dapur kapal dan memperlihatkan seekor cumi hasil tangkapannya padaku.
"taruh saja di piring dulu, nanti aku masak"
Kataku.
"siap kapten, aku mau mancing lagi!"
Ivanpun pergi.
Aku lanjut mengutak-atik bumbu dapur yang ada.
Tak lama kemudian, Irfan masuk.
"Abri, ikannya mau di apakan?"
Tanya Irfan.
"mau di goreng, sama di masak kuah kuning"
Jawabku.
"kalau begitu biar ku bantu bersihkan sisik ikannya"
Irfan mengambil pisau dan mulai membersihkan sisik yang ada pada ikan hasil pancingan tadi.
"terima kasih om"
Ucapku.
"om om, jangan panggil om!"
"hehehe maaf"
"ingat, jangan panggil om ya, panggil kakak atau sayang saja boleh"
"apa?"
"m...maksudku panggil kakak atau abang"
"tadi kau bilang sayang?"
"ahhh kau salah dengar saja itu"
"hmm......"
"ehem!"
Aku langsung menoleh ke arah pintu, ada Fahmi di sana yang kini berjalan perlahan mendekati kami.
"biar aku saja!"
Fahmi merebut pisau yang Irfan pegang.
"haha, biar kau saja..... Kau mancing saja di luar"
Irfan mengambil kembali pisau itu.
"kau mau apa di sini? Membantu?, apa mau menggoda keponakanmu sendiri?"
"hei hei....., jangan bicara macam-macam ya"
Irfan mengacungkan pisau yang ia pegang di depan wajah Fahmi.
Situasinya semakin memanas, aku langsung menarik Fahmi untuk sedikit menjauh.
"mi, sudahlah, Irfan tidak melakukan apapun padaku, tenang saja"
"benarkah?, bukannya tadi dia bilang sayang?"
Kata Fahmi dengan ekspresi serius.
"kurang ajar kau!"
Irfan langsung maju dengan pisau di tangannya.
"fan!!!!"
"Bri!!!!!!!!!"
"Abri!"
"awhhh......."
Aku meringis kesakitan karena pisau yang Irfan pegang itu melukai telapak tanganku saat aku hendak menahan Irfan mendekati Fahmi.
"uhhhh ada apa dengan kalian berdua?!!!, Keluar!"
Aku emosi dengan tingkah kekanak-kanakan mereka berdua.
"tapi bri tanganmu kan harus di...."
"aku bisa sendiri!"
Aku membentak Fahmi.
Aku sangat marah dengan mereka berdua yang tidak bisa berdamai.
"Abri maaf, aku tidak sengaja.... "
Ucap Irfan.
"pokoknya jangan temui aku sampai kalian berdua bisa berdamai!, KELUAR DARI SINI!"
"tapi bri...... "
"mi! Keluar!"
Merekapun keluar dari dapur.
Sementara itu tanganku masih mengeluarkan darah.
"dasar"
Ucapku.
Aku kemudian membasuh luka di tanganku dengan air dari wastafel.
Sepertinya lukanya lumayan parah....
Lalu aku membuka kotak p3k yang ada di dapur itu, sayangnya aku tidak menemukan plaster luka dan perbannya juga tidak cukup untuk membalut lukaku.
"bagaimana ini.......... "
Ucapku khawatir, mana mungkin aku biarkan luka terbuka tanpa di tutup seperti ini.
"sini tanganmu"
"eh?"
Aku kaget, tiba-tiba Akbar datang dan menarik tanganku yang terluka.
Dia kemudian melilitkan sebuah kain di telapak tanganku yang luka.
"bar.....? Kain apa ini?"
"diam dulu......."
Akbarpun mengikat kain itu dengan kuat.
"nah sudah"
Ucapnya.
"kain apa ini?"
"lengan baju Fahmi, dia menyuruhku untuk mengobati tanganmu"
.
.
.
.
.
Sementara itu di Anjungan kapal....
****FAHMI POV****
"kau lihat sendiri kan?, Abri sampai terluka..... "
"aku tahu, itu salahku....... Harusnya aku tidak gampang emosi"
"itu sadar.... "
"hufff....., Fahmi aku minta maaf"
Ucap Irfan.
"aku juga..... "
"Kira-kira Abri akan memaafkan kita?"
"entahlah....... Semoga dia mau, aku tidak bisa hidup tanpanya"
"kau sangat mencintainya?"
"lebih dari apapun.... "
"Aku juga.... "
"uh?"
Apa maksudnya?!
"aku kira ada kesempatan untukku, tapi ternyata tidak ya?, kalaupun aku menyingkirkanmu..... Abri sepertinya tidak akan bisa melupakanmu"
"jadi kau....... "
"sudah sejak dulu, tapi tidak apa-apa, Omong-omong temanmu yang satu itu juga tipeku"
"yang mana?"
"yang waktu itu masuk rumah sakit"
"Rajab sudah punya Gusti!"
"owh...., ya sudah tidak apa-apa..... "
"jangan coba-coba ya"
"tidak akan.... Aku juga tidak berani merebut milik orang"
"tapi Akbar dan Ivan itu masih Jomblo"
"ahhh tidak, terlalu berotot dan terlalu konyol, dan lagi kupikir mereka pacaran?"
"tidak, mereka? Pacaran? Haha"
"owhh tidak ya..... "
"mi, fan?"
Abri datang.
"bri? Bagaimana tanganmu?"
Aku langsung menghampiri Abri dan melihat tangannya.
"tidak apa-apa, terima kasih ya"
Ucap Abri.
"bri, aku...... Minta maaf soal yang tadi"
Ucap Irfan.
"iya, kalian sudah berdamai?"
Kami mengangguk.
"bagus! Aku tidak mau melihat kalian berdua bertengkar lagi!, oh iya sebentar lagi makan siang sudah siap, jangan lupa panggil yang lain ya!"
Kata Abri sambil berjalan keluar dari anjungan kapal.
"syukurlah......"
Helaku.
"kupikir dia tidak akan memaafkan kita.... "
*****
Jangan lupa vote :D
KAMU SEDANG MEMBACA
Sejenak
RomanceKisah cinta Abri dan Fahmi, duo bucin yang memulai hubungannya dengan penuh liku-liku. Bersama teman-teman mereka, Gusti, Ivan, Rajab dan Akbar, menjalani hari-hari indah yang penuh dengan kekonyolan. Warning.... 18+ Bagi yang Homophobic harap tid...
