Lantai 2 Rumah sakit (46)

618 53 12
                                        

Beberapa menit kemudian, Akbar dan Rajab datang ke rumahku.

"jadi kau sudah Ingat bri?"
Tanya Rajab.

Aku tidak punya orang lain, hanya Rajab yang bisa membantuku mengingat masalaluku saat ini.

"hanya sebagian jab, aku benar-benar tidak bisa mengingat sisanya"

"jangan memaksakan dirimu bri"
Ucap bang Said.

"i...iya bang, tapi ingatan yang tidak dapat aku Ingat itulah yang justru aku butugkan"

"memangnya apa itu?"
Tanya Akbar..

"aku pernah memberikan sebuah kalung yang pernah Fahmi kenakan pada orang lain sebelumnya, tapi aku tidak bisa mengingat orang itu sama sekali, jab?"
Aku menatap Rajab, karena pasti dia tahu sesuatu tentang itu.

"huffff....... Maaf bri, kami menyembunyikan ini darimu"
Ucap Rajab.
Aku langsung menarik kerah baju Rajab dan memaksanya untuk mengungkapkan apa yang ia ketahui.
"lalu apa jab?! Siapa orang itu?! Ada apa?! Apa hubunganku dengan dia?!"

"bri lepaskan Rajab!"
Bang Ridwan menarikku agar aku melepaskan Rajab.

"o....orang itu..... Namanya adalah Waldi"
Rajab menyebutkan nama seseorang dan tiba-tiba kepalaku kembali sakit.

Waldi....
Kak Waldi..........

"k...kak.... Waldi.......... "
Ingatanku tentang kak Waldi akhirnya kembali.

"siapa sebenarnya Waldi itu jab?"
Tanya Bang Ridwan.

"dia punya hubungan spesial dengan Abri sebelumnya bang, tapi sekarang kak Waldi sudah meninggal dalam tugas"
Jelas Rajab.

"k...kak Waldi.... Aku sudah menghianati kakak!"
Aku hanya bisa menangis, mengingat apa yang telah terjadi harusnya aku malu pada diriku sendiri.

Ingatan kejadian kecelakaan itu juga sudah kembali, aku dapat mengingatnya dengan jelas.
Saat itu aku mengejar Fahmi karena dia kecewa padaku.
Fahmi sudah menyukaiku sejak dulu, tapi aku yang terlalu ego.

"jadi...... Fahmi benar-benar tidak bersalah"
Ucapku.

Drrrrt Drrrrt Drrrrt

"h...halo?"
Akbar mengangkat telpon yang masuk.

"halo bar! Yang lain dimana?! Kenapa dari tadi aku telpon tidak ada yang angkat?!"

"ini Ivan, maaf van, aku dan Rajab sedang di rumah Abri, ada apa?"

"Fahmi lompat dari jendela kamarnya!"

"APA?! baiklah! Kami akan segera kesana!"
Akbar terlihat panik.

"ada apa bar?"
Tanya Rajab.

"Fahmi lompat dari jendela kamarnya di rumah sakit!"

"FAHMI!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!"
Aku berteriak saat mendengar kabar itu.

Semuanya terjadi karena aku....

***Flashback....

****FAHMI POV****

Beberapa menit yang lalu...

Aku benar-benar bodoh, harusnya aku mengatakan ini dari awal padanya.
Aku sudah tidak punya harapan hidup lagi...

"Fahmi? FAHMI APA YANG KAU LAKUKAN DISANA?!"

Ivan?
Itu suara Ivan...

"apa yang kau lakukan?! Turun dari jendela itu!"

Ivan terus menarikku untuk turun dari jendela tapi aku tidak memberikan respon sedikitpun.

"mi kumohon! Orang tuamu sebentar lagi kesini! Jangan lakukan hal bodoh! Fahmi!"

Brak!

Aku mendorong Ivan menjauh dariku.

"Fah.....mi............"

"Jaga Abri, van"
Aku memberikan senyuman pada Ivan yang mungkin itu adalah senyuman terakhirku.

"FAHMI!!!!!!!!!!!!!!!!!!!"

.
.
.

****AKBAR POV****

"FAHMI!!!!!!!!!!!!!! FAHMI SADAR! FAHMI KUMOHON JANGAN MATI! FAHMI!"

"bri tenangkan dirimu, Fahmi pasti selamat, dokter akan berusaha untuk menyelamatkannya"
Aku berusaha menenangkan Abri.
Aku sangat khawatir dengan Abri saat ini, dia sudah terlalu banyak berfikir untuk hari ini.
Aku takut dengan kejadian ini membuat Abri semakin syok.

"aku..... Tidak menyangka Fahmi melakukan itu"
Ucap Ivan yang tengah duduk bersandar di pintu ruang UGD.

"KAU!!!!!!! KENAPA KAU TIDAK MENGHALANGI FAHMI?!!!!!!!"
Aku segera menarik tubuh Abri yang sebentar lagi akan menerkam Ivan.

"AKU SUDAH BERUSAHA! KAU TAHU APA?! KAU SENDIRI HANYA BISA MEMENTINGKAN DIRIMU! KAU TIDAK PERNAH MEMIKIRKAN ORANG LAIN DI DEKATMU!"
Ivan juga sudah berdiri dan mulai emosi.

"SUDAH KALIAN!"
Gusti menahan tubuh Ivan agar ia tidak mendekati Abri.
"Bri, Van, tenangkan diri kalian, ini rumah sakit"
Gusti berusaha menenangkan Abri dan Ivan.

"diam gus! Orang ini sama sekali tidak akan mengerti!, yang dia bisa lakukan hanyalah mementingkan dirinya sendiri!, lihat saja! Fahmi kritis karena sifat egoisnya itu!"

"TUTUP MULUTMU!"
Aku juga sudah tidak tahan, kata-kata Ivan terlalu menyakitkan untuk Abri.
"KAU TIDAK TAHU SAJA! SEPERTI APA PENDERITAAN ABRI SELAMA INI!"

"heh! Kau sendiri?, Masih saja membela orang yang tidak mengerti perasaanmu"

"a...apa maksudmu....."

"kau juga menyukai Abri kan?! Apa kau membelanya hanya karena kau menyukainya?! Kau sudah di perdaya olehnya! Orang ini harusnya pergi saja dari kita semua!!!!"

Abri langsung melepaskan diri dariku dan berlari entah kemana.

"Abri!, ingat saja, kau akan menyesali perkataanmu tadi! Abri!"
Aku segera berlari menyusul Abri.

"gus, ard, aku nyusul Abri juga ya, aku khawatir"
Rajab juga ikut berlari denganku menyusul Abri.

Kami berdua terus berlari, namun kami tidak menemukan keberadaan Abri dimanapun.

"akhhh telponnya juga tidak di angkat bar"

"terus coba jab, ehh maaf pak pernah lihat orang ini?"
Aku menunjukkan foto Abri di hpku pada orang yang kami temui, tapi tidak ada satupun yang melihatnya.

"bar, Mungkin Abri pulang kerumahnya"

"ah benar, coba kau hubungi bang Ridwan"

"bentar... "

Rajabpun menghubungi bang Ridwan.

"halo bang, maaf apa Abri sudah pulang ke rumah?"

"bukannya tadi dia dengan kalian?! Jangan main-main Rajab! Abang serius!"

Rajab langsung menutup telponnya.
"gawat bar, Firasatku tidak enak"

.
.
.
.

Sementara itu......

****ABRI POV****

Jembatan besar yang menghubungkan dua kecamatan yang di pisahkan oleh aliran sungai yang sangat besar.

Malam yang larut mengakibatkan kendaraan yang lewat sudah jarang.

"apa aku benar-benar seperti itu?"
Tanyaku pada diriku sendiri.

"orang seperti ini harusnya pergi saja dari kita semua!!!"
Ucapan Ivan ada benarnya, aku tidak pantas ada di sini.

"selamat tinggal.... Semua"
Ucapku bersamaan dengan kakiku yang lompat dari jembatan itu.

*****

Sebenarnya ini pertama kalinya author bikin konflik antara teman seperti ini.
Maaf kalau ada kesalahan ya :)

Jangan lupa Vote :D

SejenakTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang