Malam yang kelam (41)

683 53 14
                                        

18:58 Malam....

"bar cepat...... Aku juga mau mandi"
Aku terus mengetuk pintu kamar mandi sekolah.
Akbar ngapain sih di dalam? Dari tadi belum keluar.

"iya bentar, ini tinggal pake handuk"
Ucap Akbar dari dalam kamar mandi.

"ah! Sudah 3 kau bilang itu terus!"

"kali ini beneran sumpah"
Pintu pun terbuka.
"kan? Hehehe jangan marah begitu dong, nanti Fahmi tidak suka lagi denganmu"

"bodo, udah cepat minggir! Aku juga mau mandi"
Akbarpun keluar dan aku masuk kedalam kamar mandi.
"bar jangan ngintip!"
Teriakku dari dalam.

"dih! Ogah ngintip, buat apa? Aku kan juga punya batang"
Balas Akbar dari luar.

"hehehe, siapa tahu kau khilaf"

"eh bri, jangan lama-lama nanti aku tinggal ya"

"ehhh jangan! Kabarnya di sini dulu ada yang gantung diri, tepat di depan pintu kamar mandi ini"

"ah Abri kau jangan bicara begitu!"

"eh sumpah aku tidak bohong!"

Lalu kemudian tidak ada jawaban lagi.

"bar? Akbar? Akbar kau mana? AKBAR JANGAN LARI WOY!"

.
.

"maaf bri tadi aku terlalu takut"
Ucap Akbar saat aku masuk kedalam kelas sehabis mandi.

"uhhh, badannya saja kekar, nyali kayak kerupuk kena kuah!"

"hehehe, maaf bri, jangan marah ya"

"kenapa sayang?"
Fahmi tiba-tiba datang menghampiriku.

"mi..... Akbar ninggalin aku sendiri di kamar mandi"
Aku mengadu pada Fahmi.

"ehhh bukan begitu mi! Abri duluan yang nakut-nakutin aku! Katanya di kamar mandi itu dulu ada yang gantung diri"

"tega kau bar, kasihan Abri..... "

"yehhh, kau sendiri coba kesana sendirian!"

"aku saja kau tinggal sendirian bisa tahan di situ"

"iya iya, maaf bri, aku tidak akan mengulanginya lagi"

"FAHMI! SEGERA MENUJU KE KANTOR!"
Terdengar panggilan dari TOA yang menyuruh Fahmi untuk ke kantor.

"akhhhh aku capek mau istirahat!!!!"

"sabar mi, semangat ya, nanti kalau sudah selesai kesini, aku buatin mi rebus yak"

"uhhh iya cayangku......., ya sudah, aku ke kantor dulu ya, bar jaga anak ini baik-baik dan kalau bisa kau jangan buka baju"
Kata Fahmi sambil berlari ke arah kantor.

Akbar menatapku sambil tersenyum.
"langgeng ya, hahahaha"

"apaan sih bar! Sana masuk atur tikarnya buat kita tidur nanti"
Aku mendorong Akbar masuk kedalam kelas.

.
.

****ARDI POV****

Aku terus mengikutinya dari belakang.
Entah apa aku bisa punya kesempatan untuk mengungkapkan isi hatiku....

"uhhh akhirnya selesai juga"
Ucap Fahmi sambil mengatur berkas di atas meja.

Suasana ruang TU sedang sepi, apakah ini kesempatan yang bagus untukku?

"ehem! ehem! Kok haus ya?"

Ah kesempatan untukku!
Kebetulan aku membawa sebotol air.
Akupun masuk kedalam ruang TU dan menghampir Fahmi.

"h..hai mi"

"hm? Ard? Ngapain kesini?"

"c...cuma lewat saja tadi, kebetulan aku melihatmu di sini jadi aku masuk"

"oh begitu"

"sepertinya kau sibuk, a...apa kau haus?"

"hm? Wah! Kebetulan sekali! Terima kasih ya"
Fahmi langsung mengambil air yang ku berikan padanya.

"mi...."

"hmmm?"
Fahmi masih meneguk air yang tadi ku berikan.

"aku.... mau bilang kalau aku menyukaimu"

Tiba-tiba Fahmi berhenti minum dan menatapku sangat dalam.
Kemudian dia tersenyum.

"maaf... Tapi ada hati yang harus aku jaga"
Ucap Fahmi dengan senyum yang lebar.

"mi!!!!!!!"
Abri tiba-tiba berlari masuk.

"hei, kok kesini?"

"aku bawa makan malam untukmu, sepertinya kau sangat sibuk jadi mungkin tidak sempat menemuiku"

Apa.....
Apa hati yang Fahmi maksud adalah Abri?

"hei! ard? Maaf aku tidak melihatmu di situ, apa yang kau lakukan di sini?"

"bukan apa-apa"
Aku langsung berlari keluar dari ruang TU.
Aku benar-benar malu....
Aku menyukai seseorang yang mana dia menyukai temanku.

Bugh!

Aku terjatuh karena menabrak seseorang saat aku berlari.
"aduh...."

"ard?, kau..... Tidak apa-apa?"
Ivan!

Ivan lalu membantuku berdiri.

"ard? Kau menangis? Ada apa? Siapa yang memukulmu? Katakan padaku!"

"tidak apa-apa, tidak ada yang memukulku"

"tidak ada yang memukulmu?, jadi.... Apakah Fahmi menolakmu?"
Aku langsung menatap Ivan.
Darimana dia tahu?!

"aku mendengar dan menyaksikan semuanya ard, aku juga melihat tingkahmu sangat aneh sejak hari ini, kau bahkan seperti mengikuti seseorang"
Aku hanya tertunduk mendengarkan Ivan.

"sekarang kau tahu kan?, Fahmi itu milik Abri, Gusti milik Rajab, sebaiknya kau jangan mengganggu mereka berempat"

"t...tapi..... Aku....... "

"aku tahu, kau sangat menyukai Fahmi, aku juga pernah...... Aku juga pernah berada di posisimu..... Menyukai seseorang yang mana dia menyukai temanku sendiri juga"

"kau tidak akan mengerti!, kau tahu apa tentang aku?!"

"aku menyukai Abri!"
Ivan berteriak.

"a..apa.........?"

"tapi aku tidak mau jika hubungan persahabatan kami hancur, aku lebih memilih mengalah, ketahuilah ard, aku tahu bagaimana perasaanmu..... Karena aku....... "
Tiba-tiba Ivan memelukku dengan erat.
"aku menyayangimu ard"

*****

Chie Ivan :v

Jangan lupa yeee
Vote :D

SejenakTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang