Jalan menuju Parkiran (38)

632 52 2
                                        

Jam pulang...

"bri! bri!"
Aku segera menoleh saat mendengar suara Fahmi memanggilku.

"ya mi?"

"bri, kumohon jangan dekati si Akbar itu"

"memangnya kenapa? Dia itu sangat baik mi, dia tidak seperti Andi, percayalah padaku"

"tidak bri...... Bagaimanapun juga kau harus menjauh darinya!"
Aku mulai merasa jengkel, kenapa Fahmi sangat ingin menjauhkanku dari Akbar?, maksudku Fahmi mungkin hanya belum mengenal Akbar saja.

"mi, dengar aku, dia tidak seperti yang kau pikir, walaupun dia punya hubungan darah dengan Andi, tapi dia bahkan terlihat tidak tahu apa-apa soal Andi yang menyekab Rajab"
Aku berusaha menjelaskannya ke Fahmi, tapi Fahmi terlihat makin gelisah.

"arghhhhhh!!!!! Terserah kau! Tapi jangan mengadu padaku kalau kau kenapa-napa"
Fahmipun pergi meninggalkanku.

Aku jadi tidak enak dengannya....
Tapi di sisi lain, aku juga merasa kasihan pada Akbar.
Dia kan siswa baru di sini.

"bri? Tadi siapa?"
Akbar tiba-tiba menghampiriku.

"oh, tadi itu....."

"Fahmi ya? Wah.... Sepertinya kau punya hubungan yang lebih dengan dia hahaha.... "
Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang aneh.
"hehehe bercanda bri, katanya mau pulang bareng, ayo"

Kamipun berjalan keluar dari area sekolah dan menuju ke arah tempat parkir yang agak berjauhan dengan area sekolah kami.

"eh? Itu Ivan!"
Aku melihat Ivan berjalan keluar dari sekolah, dia bersama seseorang yang belum pernah aku lihat sebelumnya.

"siapa?"
Tanya Akbar.

"oh hehehe, temanku tadi"

"ohh, Kapan-kapan kenalkan aku ya!"

"pastilah"

Kami melanjutkan berjalan ke arah parkiran.
Saat kami masuk ke sebuah gang, ada sekelompok orang yang terlihat tidak asing.

"itu........ "

"bri... Mundur"
Akbar menyuruhku bersembunyi di balik tubuhnya.

"eh sepupu, ternyata benar kau pindah ke sini"
Dia.....
Andi!
Tapi mau apalagi dia datang kesini?!
Dia bahkan bersama tiga temannya waktu itu.

"kau sendiri? Bukannya ini sangat jauh dari sekolahmu?"
Akbar terlihat sangat marah saat melihat keberadaan Andi di sini.

"yah kau tahu kan..... Aku ke sini untuk mengambil sesuatu, tapi sepertinya kau sudah lebih dulu mengambilnya"

"ku peringatkan kalian untuk pergi dari sini!"
Akbar mengusir mereka semua.

"boleh, tapi berikan aku orang yang sembunyi di belakangmu itu"
Ucap Andi.

"aku tidak tahu apa yang mengubahmu sampai sejauh ini, tapi yang pasti kau bukan orang yang dulu aku kenal"

"haha, jangan pikir kita keluarga dan aku akan baik hati padamu"
Andi langsung mengkode teman-temannya untuk maju.

Merekapun berjalan perlahan ke arah kami dengan tangan yang sudah di kepal.

"bac0t!"
Teriak salah satu teman Andi.

Akbar langsung menendangnya hingga dia jatuh tersungkur, tapi teman-temannya yang lain dengan sigap langsung menarik kerah baju Akbar dan melepaskan pukulan, tinjuan hingga tendangan ke arah Akbar.

"Akbar!"
Aku hanya bisa berteriak melihat Akbar di siksa seperti itu.

Sementara teman-teman Andi menyiksa Akbar, Andi tak terasa sudah ada di depanku.

"hei"

"mau apa kau?! Pergi!"
Teriakku.

"jangan gitu dong sayang..... "
Andi menyentuh pipiku, tapi aku hanya memberikan tatapan sinis padanya.

"JANGAN SENTUH DIA!"
Akbar berteriak dan berusaha melawan orang-orang yang sedang menghajarnya.

"Akbar!!!, apa yang kau mau?! Hentikan teman-temanmu itu! Dia sepupumu!"
Aku memohon pada Andi untuk menyuruh temannya berhenti menghajar Akbar.

"jadi? Dengar sayang, sepupu seperti dia itu hanya mengganggu saja, aku akan menyuruh mereka berhenti kalau kau mau ikut denganku"

BUGH!

Sebuah bogem mentah mendarat di wajah Andi.

"MI!"
Fahmi datang!

"bri! Kau tidak apa-apakan?!"
Tanya Fahmi cemas.

"tidak apa-apa! Tapi tolong Akbar!"

"kau di sini saja! Gusti!"
Fahmi dan Gusti langsung berlari ke arah Akbar dan teman-teman Andi.

Merekapun berkelahi, tak lupa Rajab di belakangku sibuk merekam perkelahian itu.

"jab, kenapa kau rekam?"
Tanyaku.

"biar bisa jadi bukti"

"Kurang ajar!"
Andi tiba-tiba bangkit dan mencekik Rajab.

"ughhhh"

"Jab!"
Aku berusaha menarik Andi tapi dia terlalu kuat.

"RAJAB!!!!!!"
Gusti yang melihat Rajab di cekik sangat panik, tapi saat ia hendak lari ke arah kami, dia malah di tahan oleh salah-satu teman Andi.
"SIALAN! LEPASKAN AKU! RAJAB!!!!!"

Bugh!

Akbar menendang orang yang menghadang Gusti hingga tersungkur di tanah.
"terima kasih"
Ucap Gusti, dia pun berlari ke arah kami dan melepaskan tinjuan ke arah Andi.
Andipun terjatuh dan Rajab juga bebas.

"ughhh..... Sakit sekali..... "

"jab, kau tidak apa-apa?"

"PERGI KALIAN DARI SINI!"
Fahmi berteriak marah.

Andi dan teman-temannya segera pergi meninggalkan kami.

****

UKS.....

"untung saja aku menyimpan kunci UKS, mana tanganmu?"
Fahmi mengulurkan tangannya, terlihat tangannya berdarah.
"dasar, sudah kubilang jangan berlebihan"

"tapi....."

"sssst! Diam!, jangan banyak bicara, bukannya kau harus minta maaf?"

"hhhh oke oke, Akbar, maaf aku sudah salah paham"

"hm?, i...iya, aku juga mau bilang terima kasih pada kalian"
Ucap Akbar.

"tidak, kami yang harus berterima kasih"
Kata Fahmi sambil tersenyum.
"kalau tidak ada kau, mungkin Abri sudah di culik"

"aku juga mau berterima kasih, kalau kau tidak membantuku melepaskan diri, mungkin Rajab bisa mati"
Ucap Gusti..

Akbar tersenyum.
"iya, sama-sama aduh...... "

"bri, obati saja Akbar lebih dulu, lukanya yang paling parah"
Kata Fahmi.

Akupun beralih ke hadapan Akbar dan mulai mengobati lukanya.

"Omong-omong Aku tidak pernah melihat Ivan hari ini"
Ucap Gusti.

"tadi aku melihatnya, dia bersama seseorang, aku juga belum pernah melihat orang itu sebelumnya"
Jelasku.

"orang yang bersama temanmu di luar sekolah tadi?, saat aku baru tiba di sekolah tadi pagi, bukan hanya aku siswa baru di sekolah ini"
Ungkap Akbar.

*****

Siapa ya????????????????!!!!!!!!!!

Jangan lupa vote :)

SejenakTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang