***Flashback....
****ABRI POV****
Beberapa Tahun yang lalu...
Awal Abri mendaftar....
.
.
.
.
Aku menunggu....
Menunggu waktu pemanggilanku.
Nomor tes 267!!!!!!!!!
Arghhhhhhhhhhhh sial sekali dapat nomor tes ini!
Ini akan menjadi hari yang panjang untukku.....
.
.
Pukul 5 Sore....
Akhirnya!
Nomor tesku sudah di sebut bersama dengan 4 nomor lainnya.
Aku dan 4 orang dengan nomor tes yang tadi juga di sebutkan memasuki sebuah ruangan.
Di dalam ruangan itu ada beberapa anggota TNI yang membawa papan catatan.
"oke, tanggalkan seluruh pakaian kalian"
Eh?
Apa katanya?
"SEKARANG!"
Tentara itu berteriak dengan suara lantang.
Sontak yang lain langsung membuka pakaian yang mereka kenakan.
"kau tunggu apalagi?! Jangan membuang waktu!"
Dia menunjukku karena aku masih tetap diam.
"s...si...siap pak!"
Aku dengan terpaksa melepaskan seluruh kain yang melekat di tubuhku.
.
.
.
.
Begitulah hari tes pertama.
Sebenarnya di pagi hari ada tes tertulis juga. Lalu ada psikotes, tes wawancara, dan yang tadi itu tes kesehatan pertama.
Keesokan harinya aku kembali menjalani tes, yakni tes kesehatan jasmani, dimana para peserta akan di uji kekuatan fisiknya dengan beberapa jenis olahraga.
****
1 Minggu kemudian.....
Rumah.....
"ABRI!!!!!!!!!!!!!!!!!!"
"bang Ridwan pagi-pagi sudah teriak, memang ada apa bang?"
Tanyaku.
"KAMU LULUS! KAMU LULUS ADIK ABANG!!!!!!!!"
Bang Ridwan langsung memelukku.
"ehhh tunggu! Tunggu dulu bang! Lulus apa?"
"memangnya kamu mendaftar apa?"
Dan akupun sadar lalu balik memeluk bang Ridwan.
"HORE!!!!!!!!!! ABRI LULUS BANG!!!!"
"ini ada apa? Pagi-pagi suaranya lebih besar dari suara pesawat"
Bang Akbar datang.
Aku dan bang Ridwan langsung memeluk bang Akbar juga.
"ehhhh apa ini?! Apa? Apa?!"
"ABRI LULUS!!!!!!!!"
Teriakku bersamaan dengan bang Ridwan.
"hah?! Benarkah?!"
Bang Akbar terlihat tidak percaya.
"ABRI LULUS?! WAHAHAHAHA!!!!!"
Bang Said yang tadinya ada di halaman belakang juga berlari ke arah kami dan ikut berpelukan.
"hm! Bang said habis ngapain?! Asem banget!"
"maaf tadi abang habis nanem sayur di halaman belakang"
"yahhhhhh Abri dah mandi lagi...... "
.
.
.
Malam harinya.....
Aku berbaring di kamarku.
Menatap foto Bucin....
"mi, aku juga lulus!, kau pasti senang kan?, tapi...... Aku sedih, artinya pertemuan kita beberapa bulan lagi harus di tunda untuk beberapa tahun kedepan"
Air mataku keluar.
"aku ingin kau tahu, aku sangat merindukan sosokmu sekarang mi! Aku ingin kau ada di sini sekarang sebelum aku pergi....., aku ingin memelukmu walau sebentar saja...."
Aku memeluk foto di bingkai itu dengan erat dan akupun terlelap.
****
2 Minggu Kemudian......
Surabaya - Jawa Timur.....
Akademi militer AL.
Aku membereskan barang-barangku di dalam kamar asramaku.
Bersama dengan 3 orang teman sekamarku, Andre, Dodi dan Adha.
Aku baru tiba di Surabaya kemarin dan Bapak yang memang masih bertugas di sini sudah mempersiapkan barang-barang selama aku di sini.
"pasti sulit untuk pendatang sepertimu ya bri?"
Tanya Andre.
"tidak kok ndre, lagi pula masih satu negara kan? Jadi santai saja"
"tapi kau hebat bri, bisa masuk 10 besar di urutan ke 5 hasil tes, padahal ini hitungannya seluruh Indonesia lho"
Puji Dodi.
"aku juga tidak menyangka, dan aku pikir sebenarnya aku tidak bisa lulus"
"buktinya sekarang kau ada di sini bersama kami, kami bertiga sebagai orang asli sini juga mengucapkan selamat datang padamu"
Kata Andre.
"mulai sekarang kita adalah teman, jadi jangan sungkan jika ada masalah, ceritakan saja semuanya"
Kata Adha.
Btw Adha mirip Fahmi....... :'(
"iya mi... Eh! Dha!, sorry tadi aku kurang fokus"
"hahaha, biasa itu kalau masih awal pasti kita ada rasa gugup"
Kata Adha.
.
.
.
.
Berbulan-bulan telah berlalu.
Aku semakin betah ada di sini.
Kira-kira bagaimana keadaan Fahmi sekarang?
"bri? Kenapa melamun begitu di pinggir kolam?"
Adha datang dan menghampiriku yang sedang berjongkok di tepian kolam sambil memainkan air.
"nanti kau jatuh seragammu bisa basah"
Adha ikut berjongkok di sampingku.
"tidak apa-apa dha, aku cuma merasa rindu saja dengan orang-orang di Sulawesi Selatan sana"
"bri, jangan sedih, aku, Dodi dan Andre kan selalu bersamamu"
Memang benar kata Adha, walaupun jadwal Izin Bermalam di luar, mereka bertiga tidak pernah pulang kerumah dan terus di asrama menemaniku.
"aku sudah menganggapmu sebagai adikku sendiri bri, yang lain juga sama, bagi kami bertiga.... Kau itu adik bungsu kami, jadi sudah sepantasnya kami selalu ada untukmu"
"makasih ya dha"
Ucapku.
Baru saja aku ingin memeluknya, tiba-tiba.......
BUGH!
BYURRRRR!!!!!!
.
.
.
Ruang kesehatan......
Aku sadar.....
Dan kini tengah terbaring di ranjang yang ada di ruangan perawatan.
Kenapa aku bisa ada di sini?
"bri? bri? Kau sudah sadar? Syukurlah..... "
"Rajab?"
Aku melihat sosok Rajab.
"apa..... Yang kau lakukan di sini?!"
Tanyaku heran.
"dek? Adek tidak apa-apa kan?"
Suara itu......?
Aku segera menoleh dan melihat....
"k...kak.... Waldi......."
Dan teringat, sebelumnya kepalaku terkena Bola Volly cukup keras dan menyebabkanku jatuh ke kolam.
"bri! Rajab itu siapa?!"
Seketika sosok yang tadinya Rajab itu berubah menjadi Adha, dan Kak Waldi yang tadi kulihat juga menjadi orang lain.
"aku De Javu?"
"apa bri?"
"oh? Hehehe tidak apa-apa dha, eh? Seragamku mana?! Kenapa aku cuma pake handuk sama selimut saja?!"
Aku panik saat menyadari di balik selimut ini aku benar-benar telanjang.
*****
Jadi ini adalah kisah saat Abri menjalani masa pendidikannya, sama seperti Fahmi dulu.
Kalau kalian ngeh pasti sadar kalau di awal cerita Abri juga terkena bola Volly oleh kak Waldi.
Jangan lupa vote :D
KAMU SEDANG MEMBACA
Sejenak
RomantikKisah cinta Abri dan Fahmi, duo bucin yang memulai hubungannya dengan penuh liku-liku. Bersama teman-teman mereka, Gusti, Ivan, Rajab dan Akbar, menjalani hari-hari indah yang penuh dengan kekonyolan. Warning.... 18+ Bagi yang Homophobic harap tid...
