Farez kembali meminum botol berisi bir miliknya, kemudian membenarkan letak kacamata tipisnya. Mungkin banyak yang mengira, jika dirinya yang sering dipanggil 'nerd' karena penampilannya itu, benar-benar pria yang ketinggalan jaman.Nyatanya tidak sama sekali. Farez bahkan memiliki toleransi yang tinggi terhadap alkohol. Namun memang dirinya tidak seberapa suka bersosialisasi dengan banyak orang. Hanya beberapa orang terdekat saja, yang mengetahui bagaimana dirinya.
Saat berangkat ke pub bersama Ervin, Dareen sudah merengek ingin ikut, tapi Farez menolak. Dia tahu betul bagaimana perangai adiknya itu, Dareen tidak akan diam saja jika sudah di sini.
"Tumben banget lu mau gue ajak ke sini. Biasanya gue harus ngebujuk lu ini itu." Tanya Ervin yang setengah mabuk.
Farez tersenyum kecil, ini juga menjadi alasannya untuk tetap sadar malam ini. Ervin yang mabuk adalah musuh terbesar jalan ramai ibukota. "Gue tahu, ada sesuatu yang bikin lu milih buat minum malam ini."
Ervin menghela napas pelan, "Gue bingung."
Farez menaikkan salah satu alisnya, "Karena?"
Terdiam beberapa saat, akhirnya Ervin kembali berbicara. "Gue kepikiran Cashel, haha."
Ervin sudah setengah mabuk, terlihat dari cara berbicaranya yang mulai melantur. "Gue munafik apa ya?" Tanya Ervin entah pada siapa. Sampai akhirnya dia meracau sendiri dengan meletakkan kepalanya di lipatan tangan.
Farez menggelengkan kepalanya pelan, tak habis pikir dengan kelakuan temannya ini. Lalu dia harus memberikan saran seperti apa jika yang memiliki masalah sedang tidak sadar begini.
Memutuskan untuk membiarkan Ervin melanjutkan racauannya dan dirinya menghabiskan botol terakhir. Mungkin setelah ini dia akan mengajak Ervin pulang.
Sedangkan di sisi lain, ada 3 pria yang baru memasuki pun itu. Banyak mata yang mengarahkan pandangan memuja pada ketiganya. Ketiga pria yang tak lain adalah Barra, Yuwa dan Cashel itu hanya terus berjalan dengan santai. Sudah terlampau hafal dengan situasi seperti ini.
"Mending kita di sana deh, di pojok," usul Cashel.
Yuwa dan Barra hanya mengangguk mengiyakan.
Setelah ketiganya duduk dan mulai minum. Banyak pria top maupun bottom yang mulai datang silih berganti, bahkan juga para wanita. Namun mereka hanya berbincang ria tanpa rasa ingin bertindak lebih.
"Hah sialan!" Umpat Yuwa pelan.
Barra menoleh, "Kenapa?"
"Belum ada yang menarik perhatian gue. Membosankan!"
"Lu serius mau main lagi?" Tanya Barra sambil tertawa kecil, kemudian menggeplak belakang kepala Cashel yang mendusal di pundaknya. "Pantes baju lu malem ini macam kurang bahan." Barra tertawa kencang setelahnya.
Dari awal dia sudah memperhatikan baju Yuwa. Lihat saja, kemeja baby blue dengan beberapa kancing kemeja yang terbuka, celana yang menampilkan lekuk tubuhnya. Kemudian tatanan rambut yang terkesan cutie itu.
"Ck, nggak usah sok gitu dong. Noh lihat sendiri baju lu bangsat! Malem ini cuma Cashel yang kelihatan normal," jawab Yuwa sambil cemberut.
Apa Barra tak berkaca pikirnya. Apa kemeja hitam hampir tembus pandang, yang Barra selipkan ke dalam celana putih dan memamerkan bokong sintalnya itu bisa dikatakan normal untuk malam ini.
Yuwa jadi sedikit menyesal karena akan mengenalkan wanita kepada Barra malam ini. Penampilan Barra bahkan lebih sukses menarik para pria malam ini.
Cashel yang melihatnya hanya geleng-geleng kepala, sudah lelah dengan Yuwa dan Barra yang sering seperti ini. Kemudian menyapukan pandangan ke sekitar pub.

KAMU SEDANG MEMBACA
OH! MY SEDUCTIVE NERD! (FORCEBOOK Lokal Ver.)
RomanceMenceritakan seorang pria player yang sayangnya berwajah cantik, bernama Barra dan dikenal suka berganti pasangan di setiap minggunya, tak peduli pria atau wanita. Namun suatu hari, dirinya terpaku dengan sosok pria berkacamata yang tengah duduk di...