Chapter 43 (Faktanya)

815 47 4
                                    

****

****

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Farez menatap datar ke arah depan, ia tengah duduk di atas tempat tidur dengan kedua tangan terlipat di depan dada

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Farez menatap datar ke arah depan, ia tengah duduk di atas tempat tidur dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Jangan lupakan sebuah plaster penurun panas yang menempel di dahinya.

Barra baru saja keluar dari kamar mandi, lengkap dengan handuk yang tersampir di kepalanya.

Saat mendekati dan menatap Farez, dirinya tak bisa menahan tawanya.

"Kenapa mukanya kayak gitu?" Tanya Barra pelan.

Farez pun melirik, "Harus banget ya, pake kayak ginian, Yang!?" Rengek Farez.

Barra sontak terbahak, "Ya salah sendiri disuruh minum obat susah banget, buat gantinya, ya obatnya dari luar itu."

"Dilepas aja ya?" Ucap Farez sudah ingin melepas plaster di dahinya.

"Ehhh!! Kamu lepas, aku marah ya!" Ancam Barra. Farez pun mengurungkan niatnya, kemudian kembali memasang wajah masam.

Barra menghela nafas pelan, kemudian menaruh handuk di gantungan baju dekat kamar mandi. Setelahnya ia naik ke atas tempat tidur, dan mengelus kening Farez pelan.

"Aku tuh cuma pengen kamu cepet sembuh loh, Yang. Aku ini khawatir, tadi demam kamu sempet naik lagi. Napa rewel banget sih," ucap Barra lirih.

Bagaimana Barra tidak khawatir, setelah tadi pagi berhasil membujuk Farez untuk makan sedikit, kemudian berganti baju dan minum obat. Tiba-tiba tubuh Farez sedikit menggigil dengan suhu badan yang kembali tinggi meskipun tidak separah semalam.

Namun Farez keras kepala dan tidak ingin meminum obatnya lagi setelah 4 jam. Barra yang saat itu masih setia mengompres Farez sempat ingin menghubungi dokter, namun urung karena Farez lagi-lagi melarangnya. Bahkan dirinya sendiri belum memakan apapun sedari pagi, dirinya terlalu mengkhawatirkan Farez.

Akhirnya karena Farez tetap tidak ingin meminum obatnya, Barra terpaksa menggunakan plaster penurun demam. Barra bersyukur demam Farez kembali turun, akhirnya ia berani meninggalkan Farez hanya sekedar untuk mandi.

Farez yang melihat tatapan khawatir Barra pun akhirnya masuk ke dalam pelukan Barra, "Maaf ya, bikin kamu khawatir."

Ada sedikit rasa bersalah, Barra sudah berusaha merawatnya sejak semalam. Seharusnya Farez mengerti itu.

OH! MY SEDUCTIVE NERD! (FORCEBOOK Lokal Ver.)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang