Chapter 93 (Pindah)

391 33 6
                                    

*****

Barra membuka matanya, mengernyit ketika menatap arah luar jendela yang gelap. Matanya kembali mengedar, merasakan plester yang menempel di keningnya.

"Eunggg? Kok pake ini?" Lirihnya.

Matanya menilik ke seluruh sudut ruangan, Barra masih bisa merasakan sedikit pening di kepalanya.

"Tadi aku kenapa?"

Ingatannya mengarah pada kejadian tadi siang, seingatnya ia sedang mengerjakan tugas akhirnya di kampus. Lalu karena merasakan rasa sakit di kepalanya yang semakin menjadi, akhirnya ia memilih untuk tidur. Namun setelahnya hanya samar yang ia ingat, hanya suara teman-temannya yang panik, suara Yuwa, juga suara Farez.

"Hmmm? Farez?"

Ia baru ingat jika tadi kesadarannya di ambang batas, lalu dibawa pulang oleh Farez. Bingung ketika tidak mendapati kekasihnya itu, akhirnya ia turun perlahan dari tempat tidur. Tubuhnya lemas, namun demamnya sudah lumayan turun. Bisa Barra lihat pintu kamar mandi yang terbuka, ia mengintip dan tersenyum melihat Farez yang tengah bercermin dengan alat cukur di tangan. Kekasihnya itu hanya memakai celana pendek dan kaos dalam tanpa lengan.

Barra memilih masuk dan berjalan perlahan ke arah Farez, lalu memeluk tubuh kekasihnya itu dari belakang. Sontak Farez terkejut setengah mati, "Sayang! Kok bangun??"

Barra tersenyum tipis, dagunya menumpu pada pundak Farez, "Aku nyariin kamu, tumben cukuran malem-malem."

Farez tertawa kecil, ia membasuh wajahnya lalu memutar tubuhnya menghadap Barra, memeluk tubuh hangat kekasihnya itu, "Hmmm?" Ia lalu mencium pipi Barra, gemas sekali melihat kekasihnya itu mengenakan plester penurun panas, "Biar nggak nusuk-nusuk pipi kamu, kalau lagi cium gini," godanya membuat Barra tertawa kegelian.

"Badannya masih anget gini. Bobo lagi ayo. Eh, nggak deh! Makan dulu, minum obat," ucap Farez.

Barra merengut, "Aku pengen mandi."

"Nggak boleh mandi dulu sayang, seka aja ya ntar. Ayo makan dulu, udah dimasakin bubur Mama tadi," ucap Farez pelan.

Barra terkejut, "Eh, Mama ke sini?"

Farez tersenyum lembut.

Flashback on

Farez bergegas mengganti bajunya, kembali mengecek kondisi Barra. Ia khawatir melihat Barra yang sedikit menggigil, "Kita ke dokter aja ya sayang, atau aku panggilin dokter ke sini."

Barra menggeleng pelan, "Nggak mau Farez, kan udah minum obat. Aku mau tidur aja," rengeknya.

Farez menghela nafas pelan, "Aku khawatir sayang."

"Aku pengen tidur aja Rez," ucap Barra lagi, kini sambil setengah ingin menangis.

"Iya... Iya udah iya," jawab Farez mengalah. Ia menatap jam dinding, lalu duduk di sebelah Barra. Ia mengelus kepala Barra pelan, lalu mengecup pelipis kekasihnya itu, "Cepet sembuh sayang."

Beberapa saat kemudian, Farez tersenyum ketika mendengar dengkuran halus dari Barra. Bersamaan dengan itu, suara ketukan pintu terdengar, ia menoleh dan berjalan cepat ke arah pintu.

Saat membukanya, Farez bisa melihat Sang Mama yang menatapnya khawatir.

"Mama..."

"Kakak, mana Barra?" Tanya Sang Mama panik.

Farez tersenyum kecil, "Anaknya nggak ditanyain nih?"

"Kamu nih!" Kesal Sang Mama sambil menepuk dada Farez pelan, ia langsung masuk tanpa mempedulikan Farez, sambil membawa beberapa paperbag.

OH! MY SEDUCTIVE NERD! (FORCEBOOK Lokal Ver.)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang