Menceritakan seorang pria player yang sayangnya berwajah cantik, bernama Barra dan dikenal suka berganti pasangan di setiap minggunya, tak peduli pria atau wanita. Namun suatu hari, dirinya terpaku dengan sosok pria berkacamata yang tengah duduk di...
Barra menuruni tangga dengan keadaan mengantuk. Dia ingat jika dirinya ketiduran ketika pulang dari kampus tadi. Berjalan sambil mengecek ponselnya, ada beberapa pesan dari Farez.
"Aduh, aku lupa nggak ngabarin. Pasti dia kepikiran banget," gumam Barra.
Farez dan dirinya akan mulai pindah kamar mulai besok, jadwalnya lebih lama dari yang sebelumnya sudah mereka tentukan. Akibat dari administrasi pihak komplek asrama kampus yang makin banyak dan buat ribet.
Barra pun mendudukkan diri di ruang tengah, mengernyit ketika melihat keadaan rumahnya yang sepi.
Mengedikkan bahunya pelan, kemudian kembali fokus ke ponsel. Membalas pesan Farez. Namun dirinya kembali penasaran karena keadaan rumahnya yang sepi.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Bi... Bibi Tam!?"
Tidak ada sahutan.
"Apa lagi di belakang ya? Papa ke mana?" Gumamnya.
Barra pun melangkahkan kakinya ke arah dapur, berniat meminum sesuatu. Saat membuka lemari es, dia dikejutkan dengan suara Bibi Tam.
"Bibi ngagetin aja, dari mana tadi?"
"Aduh Den, maaf ya. Tadi bibi di kamar mandi, jadi nggak denger. Oh iya, Tuan lagi ke kantor. Katanya bakal pulang agak malem," lapor Bibi Tam.
Barra tersenyum, "Pantes kok sepi. Ya udah nggak apa Bi."
"Eh, tadi siang Den Barra bilang, Den Farez mau ke sini. Jadi?"
Barra berpikir, "Belum tau sih Bi. Barra tadi ketiduran, Farez belum bales chat."
"Ehmmm, ya kalau jadi. Bibi masak makan malam dulu."
"Aman Bi. Kalau Farez nggak jadi ke sini ya Barra yang makan," ucap Barra sambil tertawa.
Bibi Tam ikut tertawa, sampai akhirnya terdiam karena mengingat sesuatu. "Ehmmm, Den Barra... itu..."
Barra mengernyit, "Kenapa Bi?"
"Itu .. tadi..."
"Malem sepupuku sayang..." suara seorang pria mengejutkan Barra. Membuat tubuh Barra berjengit dan reflek mundur selangkah ke belakang.
Di depannya ada Liam yang tersenyum kepadanya.
"Ngapain lu di sini lagi!?" Sentak Barra.
"Chill, Bar. Jangan shock gitu dong," ucapnya sambil tersenyum miring pada Barra.
Bibi Tam yang melihat akan ada pertengkaran dari keduanya pun mencoba menengahi.
"Ta-tadi Den Liam ke sini pas Tuan masih ada di rumah. Terus sekarang..." ucapannya mengambang.
"Malem ini gue nginep di sini. Gue udah minta izin sama Om dan katanya nggak papa," ucap Liam sambil menatap Barra intens.
Alis Barra menukik tajam, kemudian berlari pergi dari sana. Sedangkan Liam menatap seluruh pergerakan Barra.