*****
"Kenapa diam? Mau ngapain kamu ke sini!?" Tanya Bram lagi, kali ini dengan suara lebih tegas.
Sedangkan Farez tertegun.
Jujur saja selama ini ia selalu mendapatkan respon baik dan selalu diterima dengan tangan terbuka. Lalu sekarang harus dihadapkan dengan respon seperti ini dari Ayah kekasihnya cukup membuatnya tertohok.
"Om, Farez--"
"Mau bikin pembelaan apa?"
Farez menggeleng pelan, "Farez nggak akan buat pembelaan apa-apa Om, Farez mengaku memang Farez salah di sini, tapi demi apapun Farez nggak pernah bermak3³sud buat ngusir Barra dari asrama. Farez minta maaf Om, karena nggak bisa ngatur emosi saat itu. Farez tau Farez udah bikin Barra, terutama Om sakit hati sama tindakan Farez."
Barra masih terduduk dan meremat pinggiran tangga erat, ia tidak berani turun. Ia dilema sekali, ia takut dengan Sang Ayah, namun ia juga tidak mau jika Sang Ayah marah pada Farez seperti ini.
Ia harus bagaimana...
"Farez minta maaf karena udah sempet kasar sama Barra, nyakitin Barra juga. Mungkin kalau Barra cerita tentang perlakuan Farez di minimarket, Farez akuin Farez bodoh karena kemakan cemburu dan asal narik tangannya Barra Om. Farez minta maaf," lirih Farez.
Barra mendengar semuanya, ia jadi terenyuh sendiri. Padahal ia juga salah di sini, ia juga tidak bisa mengatur emosi dan malah memperkeruh suasana dengan melampiaskan itu pada Nara dan pulang ke rumah.
"Farez..." Lirihnya sambil berdiri.
"Farez mau lakuin apapun buat nebus kesalahan Farez ke Barra sama Om," ucap Farez pelan. Ia menerima semua konsekuensinya, ia paham sekali jika perlakuannya kemarin pasti menoreh luka bagi pria paruh baya di depannya ini. Orang tua mana yang mau anaknya disakiti?
Barra mengambil nafas dalam, setelah mengumpulkan keberanian, akhirnya ia memilih untuk turun perlahan.
"Kalau Om suruh kamu jauhin Barra, bisa?"
Farez mendelik.
Sedangkan langkah Barra terhenti, jantungnya berdetak cepat.
Tidak.
Tidak boleh seperti ini.
"Om...."
Suara langkah cepat terdengar dari dalam rumah, terlihat Barra yang berlari ke arah keduanya.
"Ayah... Jangan kayak gini, Barra yang salah Yah, hiks," Isak Barra sambil menggoyangkan tangan Sang Ayah kencang.
Farez menatap kekasihnya itu sendu, tidak tega jika Barra seperti ini.
"Ayah kalau marah, marah ke Barra aja. Barra yang nggak bisa diajak ngobrol, Barra yang emosi dan nggak mau dengerin penjelasan apapun dari Farez. Barra yang bikin Farez emosi Yah," ucap Barra masih memohon pada Bram.
"Bukannya kamu sendiri yang bilang, kalau dia bikin kamu cemburu. Dia juga ngusir kamu dari asrama, narik-narik tangan kamu, terus kenapa sekarang kamu belain dia lagi?" Ucap Bram pelan.
Barra menggeleng pelan, "Nggak Ayah... Barra kan udah bilang kalau Barra sama Farez udah baikan, hiks."
"Kamu bilang gitu karena kamu nggak mau Ayah marahin dia kan?"
Barra kembali menggeleng, sungguh dia sangat takut. Sedangkan Farez tertegun, tak pelak seluruh kenangan manisnya bersama Barra terputar di kepalanya. Apakah semua itu akan berakhir, ia tidak akan rela jika itu terjadi.
Barra adalah tujuan hidupnya.
Ia juga jadi mengingat petuah yang pernah diberikan oleh Jesse padanya, bagaimana Jes yang harus berhadapan dengan restu orang tuanya. Bukankah kepercayaan orang tua mereka adalah salah satu hal penting yang selalu ia jaga sampai saat ini.

KAMU SEDANG MEMBACA
OH! MY SEDUCTIVE NERD! (FORCEBOOK Lokal Ver.)
RomanceMenceritakan seorang pria player yang sayangnya berwajah cantik, bernama Barra dan dikenal suka berganti pasangan di setiap minggunya, tak peduli pria atau wanita. Namun suatu hari, dirinya terpaku dengan sosok pria berkacamata yang tengah duduk di...