*****
Barra mendudukkan tubuh Farez di tempat tidur, kemudian mencari obat luka barangkali disiapkan di sana. Beruntung ada kotak obat kecil untuk pertolongan pertama di kamar mandi.
Barra masih setia terdiam, tangannya dengan cekatan mengobati luka di lengan Farez.
Farez sedikit mengernyit ketika cairan obat luka menyentuh kulitnya yang terluka. Kemudian ia menatap ke arah Barra yang masih terdiam, dirinya menyadari masih ada amarah yang tersisa dari kekasihnya itu.
"Babe?" Panggilnya pelan.
Barra pun menoleh, menatap Farez dengan tatapan tanya.
"Tadi kenapa hmm?" Tanya Farez hati-hati.
Barra memutuskan pandangannya, kemudian melanjutkan mengobati luka Farez. "Kalau kamu tanya terus mau nyalahin aku, aku nggak mau cerita," jawabnya lirih. "Dia duluan kok," lanjutnya.
Barra sedikit sedih, bagaimanapun Farez adalah karyawan magang di sini. Ia takut jika Farez akan marah dan menyalahkannya karena tanpa sengaja menciptakan keributan, lalu akan membuat citra Farez menjadi jelek di depan para seniornya.
Farez menghela nafas pelan dan menatap Barra dengan tatapan lembut, "Babe, aku sayang sama kamu. Kamu tau itu kan? Aku nggak mau kalau kamu disalahin terus dimarahin sama orang lain. Makanya misal kamu ada salah, aku bakal jadi orang pertama yang ngingetin dan meringatin kamu hmm?"
Barra kembali menatap Farez, sudah ingin protes namun suara Farez kembali menginterupsi.
"Jadi aku tanya ke kamu sekarang. Tadi tuh kenapa?"
Barra menunduk, "Aku tuh tadi beneran cuma mau ambil minum, tapi dia duluan yang ganggu. Aku awalnya gak mau ngeladenin dia, tapi......
Akhirnya Barra menceritakan kronologi yang terjadi saat makan siang tadi. Tidak ada yang ia kurangi maupun ia tambahi.
"Sekarang gimana aku nggak marah, kalau dia ngomongnya kayak gitu. Aku udah mau pergi, tapi dia malah nyiram aku. Ya makin marah aku," ucap Barra pelan.
Farez tertawa kecil mendengarnya, kemudian menekan bibir Barra dengan telunjuknya.
"Ini juga ngomongnya kok gitu, hmm?"
"Ya emang iya kan, kamu kayak orang yang gak suka sama..." ucapannya mengambang. Jujur saja ia takut, jika ternyata hanya dirinya yang terlalu percaya diri mengatakan itu. Bagaimana jika ternyata Farez masih bisa tertarik dengan wanita.
Farez mengelus rambut Barra pelan, kemudian menggenggam tangan Barra erat.
"Babe..."
Barra kemudian menatap Farez.
"Iya emang aku pernah bilang kalau aku Bi, kamu kepikiran tentang itu kan?"
Barra mengangguk pelan.
Farez mengambil nafas dalam, "Mau denger cerita aku nggak?" Ia kemudian memegang pundak Barra pelan, agar menghadap ke dirinya.
"Dulu orang yang pertama kali aku suka tuh cewek," ucap Farez.
Barra sedikit melebarkan matanya, dirinya belum pernah mendengar tentang ini. Sedangkan Farez kembali melanjutkan ceritanya.
"Makanya aku bisa sebut kalau aku Bi, karena aku pikir, aku pernah suka cewek, terus ternyata jatuhnya sama kamu sekarang," ucapnya sambil menarik turunkan alisnya menggoda Barra.
Sontak wajah Barra memerah, "Serius napa Rez!!" Ucapnya sambil menepuk dada Farez pelan.
"Hehe, tapi bukan berarti terus aku bakal gampang tertarik sama orang lain Sayang," lanjut Farez.

KAMU SEDANG MEMBACA
OH! MY SEDUCTIVE NERD! (FORCEBOOK Lokal Ver.)
RomanceMenceritakan seorang pria player yang sayangnya berwajah cantik, bernama Barra dan dikenal suka berganti pasangan di setiap minggunya, tak peduli pria atau wanita. Namun suatu hari, dirinya terpaku dengan sosok pria berkacamata yang tengah duduk di...