Chapter 8 (Kepergok)

2K 117 2
                                        

****

"Ayah..."

Tuan Bram menghela nafas pelan, "Ayah kurang memperhatikan kamu ya, Nak."

Sontak perkataan Tuan Bram membuat mata Barra memanas.

"Maaf kalau selama ini Ayah jarang ada di rumah. Ayah selalu pergi ninggalin kamu selama berhari-hari, bahkan pernah sampai beberapa Minggu. Ayah tau pasti kamu sangat kesepian."

"Hiks.. nggak Ayah," runtuh sudah pertahanan Barra.

"Ayah nggak akan menghakimi kamu. Jangan salahkan teman-temanmu ataupun Kris, mereka nggak ada yang memberitahu Ayah. Ayah tahu sendiri," ucap Tuan Bram pelan.

Isakan Barra semakin tidak tertahankan.

Tuan Bram berdiri, berjalan ke arah Barra kemudian menepuk kepala Barra pelan.
"Ayah janji akan lebih meluangkan waktu untukmu, Nak. Ayah akan selesaikan pekerjaan Ayah dengan cepat kali ini, tapi Ayah mohon. Sudah ya, Nak."

Barra tak tahan, ia memeluk pinggang Tuan Bram erat. "Hiks, maafin Barra Ayah."

Tuan Bram hanya bisa mengelus rambut Barra pelan.

Keduanya larut dalam posisi tersebut selama beberapa saat, dengan Barra yang terus mengatakan maaf kepada Sang Ayah.

.
.
.

Barra yang baru saja keluar kamar, mengintip ke arah kamar sang Ayah. Ayahnya bilang harus mengambil berkas ke kantor setelah ini.

Bisa Barra lihat, Tuan Bram yang tengah menatap figura seseorang. Barra tahu, itu foto Sang Bunda.

"Maaf, karena aku gagal dalam menjaga anak kita. Aku mohon jangan marah sama dia ya, aku yang salah di sini."

Ucapan Tuan Bram membuat Barra kembali tak bisa menahan tangis, menyadari jika sang Ayah akan keluar dari kamar. Barra berlari ke arah ruang tamu.

Dia mendudukkan diri di sana dan terdiam. Air matanya menetes.

Mendengar suara langkah kaki, membuat Barra mengusap air matanya cepat.

"Ayah ke kantor sebentar ya, kamu di rumah hati-hati. Istirahat, ayah nggak akan pulang malam," ucap Tuan Bram dengan mengelus kepala Barra.

Barra hanya mengangguk dan tersenyum.

Sepeninggal Tuan Bram, Barra sudah tidak bisa menahan gejolak di dadanya. Ia menekuk kakinya, menenggelamkan wajahnya di sana. Terisak, punggungnya tersengal naik turun.

"Maafin Barra Bunda, Bunda pasti kecewa sama Barra. Barra pasti bikin Bunda sedih di sana. Maafin Barra," racau Barra.

.
.
.

Barra terbangun dari tidurnya, dia terduduk di atas ranjangnya. Kilasan kejadian tadi adalah percakapannya dengan sang Ayah.

Sebuah gulungan kain yang sedikit basah jatuh di pangkuannya. Ini kain kompres, Barra melihat ke luar jendela, hari sudah pagi.

Barra berusaha mengingat kejadian semalam. Terakhir kali yang ia ingat adalah Farez yang datang, kemudian suara petir yang membuatnya kembali terserang panik.

Bersamaan dengan itu, terlihat Ayahnya yang masuk dan membawa nampan.

"Barra, sudah bangun. Gimana keadaanmu, Nak?"

Barra menatap ayahnya, membuat Tuan Bram tersenyum. "Ayah nggak marah, jangan berpikir macam-macam. Sekarang kamu sarapan dulu ya. Ayah keluar, Barra bisa sendiri?"

mystoryTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang