The Moon

1.7K 224 24
                                        

Suara sirine ambulance yang beriringan datang membuat sebagian petugas kesehatan keluar dari IGD membawa brangkar. Dokter jaga yang ada disana pun berlarian menyambut pasien yang baru saja tiba. Setidaknya ada lima pasien yang datang dengan luka akibat kecelakaan beruntun di suatu jalan tol. Dari lima pasien yang datang, ada satu anak kecil perempuan yang masih sadar dan tengah menangis di atas brangkar. Lukanya tidak parah, hanya ada beberapa goresan di lengan dan pipinya saja.

Seorang suster menggendongnya karena anak itu terus saja menjerit memanggil ibunya.

"Dokter Zee!! Ini ada satu lagi!!."
Ujar suster tersebut yang menggendong anak kecil.

"Bawa sini, sus."

Anak itu duduk di atas ranjang pasien. Zee lekas saja memeriksa anak itu.

"Mama...."

"Sabar ya? Abis dokter periksa dan obati kamu, nanti kita cari mama kamu ya? Tapi dokter bersihin luka kamu dulu, ngga sakit kok. Kamu bisa tahan sebentar?."

Anak berusia kisaran empat tahun itu mengangguk lemah. Zee memberikan tatapan ramah dan menenangkan sehingga tidak menakutkan akibatnya anak itu cepat menurut.

"Karena udah pintar mau di obatin, om dokter kasih kamu hadiah! Tara!! Lolipop rainbow untuk kamu."

Gadis itu menerimanya dengan senang.

Tangis anak itu perlahan reda saat Zee mencoba membersihkan darah di pipi dan lengan anaknya. Diam diam anak itu memperhatikan kerja Zee saat mengusap luka nya dengan kapas dan antiseptik.

"Nama kamu siapa?."
Tanya Zee lembut. Selain harus mengobati luka pada tubuh bocah itu, Zee yang seorang dokter juga harus memastikan mental anak yang baru saja mengalami kejadian yang bagi anak seusianya pasti akan menjadi truma. Apakah anak ini mengalami trauma atau tidaknya Zee harus pastikan itu.

Suara bising ruang IGD bahkan tak menganggu aktifitas Zee membersihkan luka. Beberapa dokter telah pergi ke ruangan oprasi untuk pasien yang terkena luka serius dan butuh segera di oprasi dan ada juga yang masih disini seperti Zee yang mendapat pasien anak kecil sehingga harus pelan pelan dan juga sabar.

"Gracie."

"Wah, namanya cantik. Kalau nama om, om Zee. Salam kenal Gracie."

Gadis bernama Gracie tersenyum mendengar perkenalan dari seorang dokter.

"Umur kamu berapa?."

"Empat tahun. Aku sekolah TK dokter."
Anak ini terlihat sudah lebih santai.

"Wah. Hebat sekali."

"Dokter juga hebat. Lukanya nanti sembuh kan? Kan udah di obatin."
Katanya dengan suara serak.

"Pasti sembuh dong. Kan Gracie anak pintar."

"Om dokter, kita jadi cari mamaku kan?."
Tanyanya penuh harap. Meski dia sudah terlihat lebih baik, nyatanya dia masih ketakutan dengan selalu mencari keberadaan mamanya.

"Jadi dong. Selain mama, ada papa kamu juga?."

"Iya. Mama, papa, Oma, Opa aku semua ada di mobil. Kita mau ke puncak. Tapi...boom!."

"Mobil papa guling guling. Aku kepentok pintu. Tapi mama peluk aku eratt banget. Kata mama jangan takut. Abis itu mama ngga ngomong lagi. Semua nya jadi berisik terus aku di bawa keluar dari mobil dan kesini ketemu dokter."
Jelas detailnya tentang kecelakaan yang baru dia alami bersama keluarga nya.

Dari ceritanya bisa di simpulkan bahwa anak ini sangatlah pintar. Dia bisa mengingat dengan jelas peristiwa miris yang dia alami dengan tenang meski sorot matanya penuh ketakutan.

One shoot (ZeeSha)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang